Isi Artikel

PIKIRAN RAKYAT – Pernahkah kamu merasa dekat dengan seseorang, namun ketika hubungan mulai serius, orang tersebut justru menjauh? Atau mungkin kamu sendiri yang tiba-tiba merasa ingin mundur saat perasaan mulai mendalam?
Belakangan, istilah avoidantdibicarakan secara luas di TikTok. Banyak konten yang memilikicaption seperti “ternyata aku avoidant“, “apa itu avoidant ya?”, atau “tren avoidant ini relate banget”.
Tapi, sebenarnya apa itu avoidant, dan apakah seluruh individu yang menjaga jarak emosional dapat langsung dikatakanavoidantArtikel ini membahas topik tersebut dengan jelas, tanpa menilai, dan berlandaskan psikologi.
Apa itu Avoidant dalam Psikologi?
Dalam dunia psikologi, avoidantmerujuk pada kecenderungan seseorang untuk menjauhi keterlibatan emosional, situasi interaksi sosial, atau hubungan antar manusia yang dirasa menyebabkan ketidaknyamanan.
Orang dengan sifat avoidant umumnya:
- Mengurung diri ketika hubungan mulai memanas
- Sulit mengekspresikan perasaan
- Tidak nyaman dengan ketergantungan emosional
Pola ini sering muncul sebagai cara melindungi diri dari rasa sakit, penolakan, atau konflik emosional.
Ciri-ciri Avoidant dalam Hubungan Percintaan
Beberapa tanda avoidantyang biasa muncul dalam hubungan adalah sebagai berikut:
- Menghindar ketika pasangan mulai serius
- Sulit mengungkapkan rindu atau kebutuhan
- Mencegah perselisihan, namun juga menghindari keakraban
- Tampaknya dingin, namun sebenarnya sedang cemas
- Lebih nyaman berada sendirian ketika emosi sedang tinggi
Seperti kucing liar, ingin dikunjungi, tapi lari ketika disentuh.
Kenapa Seseorang Bisa Jadi Avoidant?
Banyak hal yang memengaruhi seseorang berkembang menjadiavoidant. Beberapa hal yang umum ditemukan antara lain:
1. Pengalaman Masa Kecil
Kurangnya perhatian, sering diabaikan, atau tumbuh dalam lingkungan yang tidak peka membuat anak belajar bahwa menunjukkan perasaan berisiko. Akhirnya, jarak emosional menjadi cara mereka beradaptasi.
2. Trauma Relasi
Pengalaman disakiti, dikhianati, atau ditinggalkan secara emosional, baik dari pasangan, keluarga, maupun teman, dapat membuat seseorang menjauhi hubungan agar tidak lagi merasakan luka.
3. Faktor Keturunan dan Sifat Karakter
Beberapa orang memang lahir dengan sifat yang lebih peka, cenderung tertutup, atau mudah khawatir. Sifat ini bisa memperkuat kecenderunganavoidantsaat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
4. Sikap negatif terhadap diri sendiri
Merasa kurang baik, tidak menarik, atau tidak pantas dicintai menyebabkan seseorang cenderung mengisolasi diri sebelum akhirnya ditolak oleh orang lain.
Avoidantbukan hanya sekadar tren TikTok atau istilah yang sedang viral. Di baliknya, terdapat pola psikologis nyata, mengenai rasa takut akan kedekatan, penolakan, dan ketidakamanan.
Memahami avoidantbukan untuk menilai diri sendiri atau orang lain, tetapi untuk menciptakan hubungan yang lebih baik dan sadar akan perasaan.
Jika kamu merasa terhubung dengan hal tersebut, itu bukan berarti lemah. Mungkin saja, ini tanda bahwa kamu sedang belajar memahami diri sendiri. Namun, kamu tetap perlu memverifikasi hal ini dengan ahli, seperti psikolog. Jangan asal-asalan.self diagnosekarena tidak semua yang menjaga jarak berartiavoidant.***
