Ringkasan berita:
- Bubble Kecerdasan Buatan menggambarkan peningkatan harapan dan investasi dalam AI yang cenderung tidak seimbang dengan manfaat nyata, namun dianggap wajar sebagai bagian dari siklus teknologi.
- Telkomsel menganggap bahwa kunci dalam menghadapi AI Bubble adalah menjaga keseimbangan antara investasi dan pemanfaatan pendapatan, dengan menghindari rasa takut kehilangan (FOMO) serta tidak terburu-buru dalam menghabiskan dana untuk infrastruktur AI yang mahal.
- Pendekatan Telkomsel berfokus pada penerapan AI yang terukur, melalui kerja sama, cloud, dan kasus penggunaan nyata, seiring para pelaku industri Indonesia kini lebih waspada dalam belajar dari bubble startup.
BANDUNG, – Belakangan ini, istilah “AI Bubble” mulai menjadi topik pembicaraan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI).
Bubble AI merujuk pada kondisi di mana perkembangan teknologi AI diiringi oleh harapan yang sangat tinggi dan aliran investasi besar-besaran, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan serta besarnya dana yang dialokasikan tidak sejalan dengan nilai atau manfaat nyata yang dihasilkan oleh sektor tersebut.
Kata ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana perkembangan teknologi terjadi sangat pesat dan menciptakan “gelembung” ekonomi.
Jika harapan tersebut tidak diikuti oleh hasil nyata atau monetisasi yang jelas, gelembung tersebut berpotensi “meletus” dan memicu respons negatif dalam industri AI.
Menurut CEO Telkomsel Nugroho, fenomena AI Bubble memang bisa terjadi dan belakangan menjadi topik yang dibicarakan secara global. Namun, menurutnya situasi ini merupakan bagian dari proses perkembangan teknologi yang wajar.
AI itu mirip dengan teknologi besar sebelumnya. Adainternet bubble, startup bubble, bahkan 3G bubble.Maka, jika saat ini muncul kemungkinan terjadinya gelembung AI, hal itu merupakan hal yang wajar dalam perkembangan teknologi,” kata Nugroho di sela peluncuran AI Innovation Hub di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025).
Nugroho mengatakan, Bubble AI umumnya terjadi ketika investasi tidak sejalan dengan kemampuan monetisasi.
Oleh karena itu, Telkomsel memilih pendekatan yang hati-hati dan terencana, bukan dengan cara agresif mengikuti tren atau terjebak dalam fenomena tersebut.fear of missing out (FOMO).
Yang utama adalah menjaga keseimbangan antara investasi dan pemanfaatan pendapatan. Jika tidak seimbang, maka risiko bubblesangat besar. Artinya, yang menentukan bukanlah AI itu sendiri, tetapi bagaimana perusahaan mengelola investasi dan penerapan AI secara wajar,” tambah pria yang akrab disapa Nugie ini.
Lebih hati-hati dalam berinvestasi pada AI
Dalam menghadapi AI Bubble, langkah nyata yang dilakukan Telkomsel adalah menghindari melakukan investasi besar dalam infrastruktur AI, seperti pembelian alat komputasi mahal, tanpa adanya perhitungan yang jelas mengenai keuntungan yang akan diperoleh.
Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI berlangsung sangat pesat, sehingga pengeluaran untuk perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berpotensi menjadi tidak berguna dalam waktu singkat.
Jika kami melakukan investasi yang terlalu besar di awal, namun teknologinya berubah dengan cepat, maka pengembalian investasi (…return on investment“Target ROI akan sulit tercapai,” kata Nugie.
Sebaliknya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terarah, seperti bekerja sama dengan mitra, serta memanfaatkan teknologi komputasi awan(cloud),serta penerapan AI yang didasarkan pada kebutuhan nyata(use case driven).
Meskipun ancaman risiko AI Bubble memang nyata, Telkomsel menegaskan bahwa teknologi AI tidak dapat dihindari. Tantangannya bukanlah memilih antara menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana menerapkan AI secara bijak dan berkelanjutan.
Bukan berarti karena terdapat kemungkinanbubblekemudian AI tidak lagi diperlukan. AI tetap memiliki peran penting, tetapi harus diterapkan dengan pertimbangan yang matang,” ujar Nugroho.
Selain mengungkap pandangan perusahaan terkait AI Bubble, Nugroho juga menjelaskan fenomena penerimaan atau tren AI di Indonesia.
Nugroho menganggap penerapan AI di sini lebih dapat diukur dibandingkan tahap teknologi baru sebelumnya.
Pengalaman “pahit” pada era startup bubble, menurutnya, membuat pelaku industri kini lebih waspada dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.






