Karier Leong Jun Hao dinilai mulai memasuki fase akhir seiring bertambahnya usia, dan ia menjadi andalan tunggal putra Malaysia dalam pelatihan BAM (Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia).
Pandangan tersebut tidak terlepas dari penampilan yang biasa saja Leong Jun Hao di ajang kompetisi internasional.
Pencapaian terbaik atlet bulu tangkis berusia 27 tahun pada tahun ini adalah masuk ke babak semifinal SEA Games 2025 yang juga menjamin raihan medali perunggu.
Namun, pada tingkat yang lebih tinggi, fluktuasi performanya masih belum mampu memberikan harapan yang besar. Terlebih lagi, Leong telah kalah oleh pesaing dari negara lain yang lebih muda, salah satunya Alwi Farhan.
Alwi kini berada di peringkat 17 dunia, sedangkan Leong masih berada di posisi 28. Padahal Leong menjadi pemain terbaik di pelatnas BAM sejak Lee Zii Jia meninggalkan pelatnas karena cedera dan belum kembali.
Karena kesulitan meraih kemenangan di level terbaik, serta usianya yang tidak lagi muda bagi seorang atlet bulu tangkis, muncul pandangan bahwa Leong semakin sulit untuk bangkit, meskipun Malaysia telah menghadirkan pelatih berkualitas seperti Kenneth Jonassen.
Jonassen adalah pelatih asal Denmark yang sebelumnya pernah melatih Viktor Axelsen dan Anders Antonsen.
Meski ada pandangan seperti itu, Jonassen tidak setuju. Ia merasa masih mungkin ‘menyelamatkan’ karier Leong.
“Menurut saya, usia bukanlah hal yang penting. Saya percaya banyak pemain telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka,” ujar Kenneth Jonassen dilansir dari The Star.
Semua ini berkaitan dengan seberapa besar hasrat Anda untuk mendorong batas dan kemampuan diri sendiri. Namun, Anda benar-benar harus sangat menginginkannya karena jelas ini membutuhkan kerja keras dan hasrat tersebut harus berasal dari dalam diri Anda sendiri.
Sebagai pelatih, kami dapat memberikan motivasi, tetapi saya tidak bisa melakukan latihan ulang untuk Jun Hao, mengangkat beban, atau memukul bulu tangkis untuknya.
“Keinginan (ambisi) merupakan kuncinya. Anda perlu terus-menerus menginspirasi diri sendiri. Apa impian masa kecil Anda? Teruslah bergerak menuju tujuan itu,” tegas Jonassen.
Musim Leong kali ini sebenarnya tidak sepenuhnya jelek.
Ia telah menarik perhatian setelah berhasil menjadi underdog yang mengalahkan beberapa nama besar, seperti Jonatan Christie, Li Shi Feng (China), dan Kodai Naraoka (Jepang).
Hanya saja, konsistensi yang dimilikinya sulit dipertahankan. Hari ini menang dengan skor besar, esoknya justru kalah dengan mudah melawan lawan yang peringkatnya tidak lebih unggul. Pemandangan seperti ini sering terlihat dalam kompetisi Juara Asia Junior 2017 ini.
“Kita melihat bahwa ketika pemain lain menghadapinya dengan cara tertentu, ia masih belum stabil dalam permainannya,” kata Jonassen.
“Menurut saya, dia masih sering memberikan poin yang mudah, yang berarti lawannya tidak merasa terdesak. Ia memiliki hampir semua kemampuan, tetapi terlalu banyak kesalahan yang tidak sengaja terjadi di berbagai aspek permainannya,” kata Jonassen.
Yang paling penting sebenarnya adalah konsistensi dan kebugaran secara menyeluruh, serta Anda perlu menerapkannya setiap kali Anda memasuki lapangan.
Itu pada dasarnya membutuhkan usaha yang keras jika Anda ingin masuk ke peringkat 20 teratas dunia dan tetap bertahan di sana.
“Ini memerlukan banyak usaha fisik dan Anda juga harus memiliki pikiran yang tangguh untuk melakukannya setiap hari,” tegasnya.







