Alhamdulillah, Sarapan Gratis!

.CO.ID, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diadakan pemerintah memberikan dampak positif kepada masyarakat, khususnya bagi orang tua murid. Mereka menyatakan dapat mengurangi pengeluaran harian setelah program ini diperkenalkan.

Contoh lainnya adalah Selamet Hidayat (45 tahun), seorang penduduk dari Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ia memiliki dua anak yang sedang bersekolah di sebuah SD negeri di Kelurahan Lemahmekar, Kecamatan Indramayu.

Bacaan Lainnya

Selamet mengungkapkan, sebelum program MBG hadir, setiap pagi ia harus menghabiskan uang untuk membelikan makanan pagi bagi anak-anaknya. Ia menyebutkan, besaran dana yang digunakan untuk membeli sarapan tersebut mencapai Rp 15 ribu per hari.

“Untuk sarapan kadang nasi kuning, kadang nasi lengko (makanan khas Indramayu),” ujar Selamet kepada , beberapa waktu lalu.

Namun setelah adanya MBG, kata Selamet, anak-anaknya yang bernama Fatih (12 tahun) yang sedang duduk di kelas 6 SD dan Aqila (7 tahun) yang masih duduk di kelas 1 SD, memutuskan untuk sarapan dengan mengonsumsi MBG di sekolah mereka. Hal ini dilakukan karena MBG dibagikan pada jam pertama sekolah atau sekitar pukul 09.00 WIB.

“Maka MBG berfungsi sebagai pengganti sarapan. Alhamdulillah, tidak perlu menghabiskan uang untuk membeli sarapan lagi. Jadi lebih irit,” jelas Selamet.

Selamet mengakui tidak mengetahui jenis makanan yang diterima oleh anaknya dalam program MBG. Hal ini dikarenakan pihak sekolah tidak memberikan informasi terkait hal tersebut kepada para orang tua siswa.

Namun, Selamet yakin bahwa menu MBG yang diterima oleh anak-anaknya mengandung gizi yang memadai. Hal ini karena setiap Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan MBG telah memiliki ahli gizinya sendiri.

Sementara untuk makan siang, lanjut Selamet, kedua anaknya akan makan siang di rumah. Hal ini karena anaknya yang duduk di kelas 1 SD pulang sekolah pukul 10.30 WIB dan anaknya yang kelas 6 SD pulang sekolah pukul 12.00 WIB.

Selamet mengatakan, anak-anaknya saat ini cukup menyukai MBG yang mereka terima. Hanya saja, anaknya yang duduk di kelas 1 SD tidak suka telur ayam. Oleh karena itu, jika MBG menyajikan lauk berupa telur ayam, maka telur tersebut tidak akan dimakan.

“Maka telurnya dibawa pulang. Jadi dari rumah selalu membawa kotak makan kosong sebagai wadah jika ada makanan yang tidak disukai. Agar tidak terbuang sia-sia,” katanya.

Selamet sangat berterima kasih terhadap program MBG yang telah membantu mengurangi beban pengeluaran sehari-harinya. Meskipun ia mengakui, kejadian keracunan makanan MBG di wilayah lain sempat membuatnya cemas.

Oleh karena itu, ia telah memberikan pemahaman kepada anaknya tentang tanda-tanda makanan yang sudah rusak sebagai langkah pencegahan. Namun sampai saat ini, belum pernah terjadi kasus keracunan makanan di sekolah anaknya.

“Saya berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung karena memberikan manfaat yang besar, baik untuk anak-anak maupun para orang tua,” kata Selamet.

Hal yang sama disampaikan oleh seorang orang tua siswa di Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu, Sri (43). Anaknya yang duduk di kelas VII salah satu SMP swasta di Desa Pekandangan Jaya, Kecamatan Indramayu juga setiap hari menerima MBG di sekolahnya.

Sri menyampaikan bahwa anaknya selalu bersekolah hingga pukul 15.30 WIB. MBG ini diberikan kepada siswa saat istirahat kedua atau sekitar pukul 12.00 WIB.

“Meskipun anak pulangnya terlambat, saya merasa lebih tenang karena dia makan siang dengan MBG,” ujar Sri.

Sri mengungkapkan, ketika anaknya masih duduk di kelas 6 SD, setiap hari ia merasa repot harus membawa makan siang untuk anaknya ke sekolah. Jika tidak sempat memasak, ia akan membeli makanan yang sudah matang sebagai bekal anaknya.

“Sekarang ada MBG sehingga mengurangi pengeluaran dan tidak perlu repot membawa makanan untuk anak ke sekolah,” ujar Sri.

Sri mengakui sempat merasa cemas terhadap maraknya kejadian keracunan makanan yang terjadi di beberapa wilayah. Oleh karena itu, ia meminta anaknya untuk lebih waspada dalam memeriksa kondisi makanan. Namun, hingga saat ini, belum pernah terjadi kasus keracunan makanan di sekolah anaknya.

“Ya semoga tidak terjadi keracunan. Oleh karena itu, saya berharap pihak SPPG senantiasa memperhatikan kualitas dan kondisi makanan yang disajikan kepada anak-anak,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *