Aku dan evaluasi menulis di tahun 2025

Saya menulis di sebuah taman di pagi hari yang sejuk, di hari pertama di tahun 2026.

Mengawali hari pertama di tahun yang baru dengan menulis.

Bacaan Lainnya

Dengan bermodalkan smartphone, saya mengetikkan kata per kata, dan menimbang-nimbang apa yang saya ingin tuliskan di tanggal 1 Januari 2026 ini.

Saya tidak mau ngoyo. Saya hanya ingin mengisi waktu di hari mula di tahun 2026 dengan tulisan yang sederhana dan bisa tayang di hari itu juga.

Menulis puisi menjadi pilihan karena menurut saya, bisa cepat selesai menulis, menyunting, dan menayangkannya. 

Setelah satu jam 30 menit, saya sudah menuntaskan puisi, namun saya menundanya untuk menayangkan saat itu juga. 

“Malam saat di rumah, di laptop,” batin saya. Saya lebih suka menayangkan puisi lewat laptop, karena lebih mudah mengatur spasi dibanding dengan menggunakan smartphone.

Karena itu, saya memikirkan apa lagi yang ingin saya tulis di saat gabut di hari pertama tahun 2026.

Saya memutuskan untuk menulis sesuatu yang berhubungan dengan kata yang tidak bisa lepas dari “dunia pendidikan” yang sebenarnya tidak suka saya lakukan, yaitu evaluasi.

Ya, saya benci evaluasi, dalam hal ini menilai seberapa besar kompetensi murid. Bertahun-tahun melakukan penilaian di sekolah membuat saya merasa “berdosa” karena kebanyakan hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

Namun, dalam hal menulis, khususnya menulis di , saya mengecualikan. Ada pengecualian, karena selain K juga menyediakan Kilas Balik 2025, juga ada pencapaian setiap kompasianer di sepanjang tahun 2025.

Jadi ini juga yang menjadi pemicu bagi saya untuk mengevaluasi diri dalam hal menulis di sepanjang tahun 2025 di K.

Alasan logis mengevaluasi diri dalam hal menulis

Mengapa mengevaluasi diri sendiri? Yah, saya ingin berubah ke arah yang lebih baik. Di masa muda, saya tidak mempunyai rencana yang matang dan saya tidak menilai diri di setiap awal tahun, atau lebih tepatnya di akhir tahun sebelum memasuki tahun yang baru. Akibatnya, penyesalan yang datang belakangan.

Seiring “berjalan” yang semakin jauh, saya menyadari kekeliruan tersebut, dan berusaha untuk tidak melakukannya lagi. 

Nah, mengapa saya mengevaluasi diri saya sendiri dalam hal menulis?

Ada 3 (tiga) hal setelah saya renungkan, alasan kenapa saya mengevaluasi diri dalam hal menulis:

1. Saya ingin melihat seberapa produktif dalam menulis di tahun 2025

Yah, sebetulnya saya tidak terlalu memusingkan perihal produktivitas dalam menulis, tapi dikarenakan ada beberapa kompasianer yang menuturkan pencapaian mereka, seberapa produktif mereka dalam menulis di tahun 2025, saya pun jadi tertantang untuk melakukan hal yang serupa. 

Yah, meskipun tidak terlalu mendetail, dan saya tidak tahu berapa artikel yang saya buat di tahun 2024, tapi tidak masalah. Mungkin saya akan memulai untuk menilai produktivitas menulis sejak tahun 2025 ini.

2. Saya ingin melihat dampak tulisan terhadap pembaca

Dulu saya merasa bahwa saya tidak mempunyai dampak pada orang lain, baik dalam hal berbicara maupun menulis. Khususnya dalam hal menulis, saya tidak merasa tulisan-tulisan saya berdampak kepada insan lainnya. 

Oleh karena itu, saya ingin mengetahuinya dengan melihat statistik perihal seberapa banyak pembaca yang membaca artikel-artikel saya. Dengan begitu, saya bisa menilai bahwa saya bukanlah penulis yang ‘buruk-buruk amat’, karena ternyata ada artikel saya yang, paling tidak, bermanfaat buat orang lain.

3. Saya ingin menilai kompetensi menulis saya sampai sejauh mana

Sebenarnya, untuk yang satu ini, agak sulit menakar kompetensi menulis secara pribadi, apalagi yang menilai itu diri sendiri. 

Tapi karena keterbatasan pada akses apa yang bisa menolong, baik dari segi aplikasi maupun pribadi lain yang bisa membantu menilai, terpaksa saya menilai diri sendiri.

Hasil evaluasi

Setelah merenung selama beberapa purnama, akhirnya saya mendapatkan hasil evaluasi yang berasal dari pandangan subjektif saya (tentu saja).

Ada 3 (tiga) hasil evaluasi:

1. Bisa dibilang saya tidak begitu produktif dalam menulis di tahun 2025

Yah, melihat total konten yang ada di K, bisa dikatakan saya termasuk “tidak begitu produktif”, karena hanya menghasilkan 71 konten di tahun 2025. Kalau dirata-ratakan, dalam sebulan, saya hanya menulis enam konten.

Tapi mau bagaimana lagi? Kesibukan dalam bekerja menyebabkan saya tidak bisa menghasilkan satu konten setiap hari.

Tapi tidak mengapa. Jika melihat statistiknya, saya bisa menulis rata-rata enam konten dalam sebulan; maka dalam seminggu, minimal ada satu konten yang saya terbitkan. Yah, tidak buruk-buruk amat lah!

Apalagi di tengah kesibukan saya sebagai guru yang bisa dikatakan jam kerjanya bukan normal delapan jam atau dari nine to five, tapi lebih dari itu, yaitu harus mempersiapkan materi ajar, makan, istirahat, dan lain sebagainya, di luar jam mengajar. Jadi kalau ada anggapan guru yang mengajar di luar lembaga pendidikan formal (dibaca: sekolah) seperti di bimbel itu santai setelah mengajar, tentu saja itu tidak benar!

Yah, tapi saya menilai, produktivitas saya agak sedikit meningkat di tiga atau empat bulan terakhir di tahun 2025. Itu menurut saya sih, karena saya agak malas kalau harus menghitung berapa konten yang saya hasilkan di setiap bulannya, he he he.

2. Ada satu artikel yang berdampak sangat besar

Sebenarnya di tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa artikel saya yang menyeruak menjadi tren atau viral, namun saya tidak terlalu mengambil pusing akan hal tersebut. Lebih banyaknya, tidak ada artikel saya yang bisa dikatakan booming.

Sebenarnya, saya tidak menyangka kalau salah satu artikel saya bakal “meledak” dalam tempo yang singkat. 

Saya tidak pernah menduga kalau artikel curcol saya tersebut akan menjadi populer. Malah, pada awalnya, saya hanya ingin menuliskan artikel tersebut tanpa niatan untuk menayangkan. Namun pada akhirnya saya menayangkan juga, karena sudah terlanjur menuliskannya. Saya pikir, kejadian yang saya alami merupakan hal lazim di negeri +62, dan “cukup” mengganggu.

Dan memang, cukup banyak tanggapan dalam kolom komentar di bawah artikel yang sayangnya tidak bisa saya tanggapi semua karena kesibukan dalam bekerja.

Tapi ternyata satu artikel berdampak sangat besar. Itu sangat berarti bagi saya. Ternyata “suara” saya didengar oleh banyak warga +62.

3. Kompetensi menulis baru sebatas menggunakan 5W1H dan Listicle

Saya memang cuma lulusan pendidikan bahasa Inggris. Writing Ability, kemampuan menulis saya memang sangat, sangat terbatas. 

Kebanyakan saya menggunakan metode 5W1H atau kalau di Indonesia, disebut istilah ADIKSIMBA. Saya merasa nyaman dengan cara menulis menggunakan metode ini. 

Atau saya menggunakan strategi listicle yang mengurai isi artikel atau konten ke dalam beberapa komponen.

Bagaimana saya menyikapi hasil evaluasi?

Setelah mengevaluasi diri sendiri, saya mengeluarkan komitmen untuk tahun yang baru ini, di 2026. Ada 3 (tiga) komitmen yang saya rumuskan:

1. Berusaha lebih produktif dalam menulis di tahun 2026

Memang tidak mudah, namun saya akan berusaha lebih produktif dalam menulis di tahun 2026. Menimbang, saya tidak tahu akhir dari hidup saya. Mungkin saya akan menghadapi kehidupan yang berbeda di tahun yang baru. 

Oleh karena itu, selagi saya masih kuat, selagi saya masih bisa, saya akan berusaha lebih produktif dalam menulis. Apalagi, sudah ada smartphone. Saya bisa menulis di mana saja dan kapan saja. 

Semoga saja bisa lancar jaya.

2. Menulis untuk memberikan manfaat dan self healing bagi diri sendiri

Tetap saja, tujuan saya menulis adalah untuk memberikan manfaat kepada banyak insan. Bagi saya, kebermanfaatan lebih berarti.

Tapi, terlepas dari segi manfaat, hal yang juga penting bagi saya adalah menulis dapat menjadi terapi self healing bagi saya. Di era ketidakpastian saat ini, di saat in this economy sedang tidak baik-baik saja, saya tidak bisa mencurahkan permasalahan saya segampang itu, semudah itu berbicara langsung kepada orang lain, karena mereka juga menghadapi masalah yang beragam.

Menulis, menuangkan keluh kesah dalam tulisan, adalah obat yang mujarab bagi saya. Setelah menulis, ada kelegaan dalam hati. Meskipun masalah tetap ada, namun saya bisa melihat “sedikit” peluang atau solusi di tengah persoalan. 

3. Berusaha menulis dengan berbagai “metode” yang berbeda di tahun 2026

Sebenarnya, saya sudah mengikuti berbagai kursus daring mengenai jurnalistik dan yang sejenisnya. Sayangnya, saya belum bisa mencerna secara penuh teori-teori tersebut dan mengeksekusinya dalam menulis.

Keberagaman dalam menulis adalah hal yang memang menjadi “keindahan” tersendiri. Supaya ada perbedaan. 

Semoga saja saya bisa melakukan itu, menulis dengan “metode” yang berbeda.

Tetap menulis

Akhir kata, tetap menulis adalah keinginan saya dalam mengarungi 2026.

Meskipun tidak memberikan keuntungan finansial secara signifikan. 

Meskipun terkesan membuang waktu istirahat di mata insan yang lain.

Meskipun banyak yang mencibir kebiasaan menulis saya.

Saya akan tetap menulis, selama hayat masih dikandung badan. Selagi masih bisa.

Bagaimana dengan Anda?

Semoga saja Anda pun tetap menulis, seburuk apa pun keadaan atau sepenuh apa pun jadwal pekerjaan.

Dua kata yang semoga tetap melekat.

Tetap menulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *