Aktor kawakan Surya Saputra ungkap trauma masa kecil, suami Cynthia Lamusu akui pernah gagap bicara.
Nama Surya Saputra sudah puluhan tahun berkibar di panggung hiburan tanah air.
Sudah ada puluhan judul film maupun sinetron yang jadi wadah Surya menunjukkan kepiawaiannya berakting.
Beberapa tahun belakangan, Surya kerap memerankan karakter seorang ayah dengan sifat yang tenang dan bersahaja.
Namun siapa sangka, Surya justru nyaris tak pernah merasakan suasana masa kecil bersama sang ayah.
Dalam suatu wawancara belum lama ini, Surya mengaku sudah kehilangan sosok ayah sejak Ia masih belia.
Kehilangan figur pelindung di usia yang baru 3 tahun membuat Surya kecil merasa “kecil” di hadapan dunia. Hal inilah yang memicu gangguan bicaranya di masa lalu.
“Dulu ya sempat, sempat waktu kecil agak sedikit gagap,” kata Surya Saputra dalam tayangan Rumpi Trans TV dikutip Sabtu (27/12/2025).
“Karena ya ada momen di mana ngerasa enggak punya ruang untuk bicara. Enggak didengar. Jadinya ngomong harus cepat, supaya didengar,” kenangnya.
Efek dari berjuang sendirian itu membuat Surya mengidap tiga ketakutan besar, takut tinggi, takut gelap, dan takut sempit (claustrophobia).
“Itu enggak ada satu pun yang bantuin. Aku yang harus cari solusinya gimana sendiri,” ujarnya.
Untuk mengatasi takut gelap dan sempit, ia nekat mengurung diri di dalam lemari pakaian.
“Terapinya masuk ke dalam lemari, rasain sendiri bahwa gelap itu punya saya,” cerita Surya.
Namun, cerita paling epik adalah saat Surya Saputra melawan rasa takut akan ketinggian. Bukan dengan terapi dokter, Surya justru memilih bungee jumping saat berada di Australia. Awalnya, nyali Surya sempat ciut saat sudah berada di bibir jembatan tinggi.
“Udah di atas gitu, ‘Aduh, aduh, bego banget’, udah gitu bayar lagi kan,” tutur Surya saat itu.
Namun, momen dramatis terjadi. Seorang instruktur bungee jumping (bule) di sana melontarkan kalimat yang menyinggung harga dirinya sebagai orang Indonesia.
“Hey Indonesian, do you wanna jump or not? You’re wasting my time (Hei orang Indonesia, mau lompat nggak? Kamu buang-buang waktu saya),” ucap bule tersebut.
Mendengar negaranya dibawa-bawa dengan nada meremehkan, ketakutan Surya seketika berubah menjadi keberanian.
“Nengok ke belakang, gue Indonesia dan gue berani. Lompat!” tegas Surya.
Kini, pengalaman pahit dan perjuangan itu menjadi pelajaran berharga bagi Surya dalam mendidik Tatjana dan Bima. Tak ingin anak-anaknya merasakan kesepian yang sama, Surya selalu menerapkan komunikasi terbuka.
“Aku enggak mau anak-anak ngalamin itu. Aku mau anak-anak tuh bisa ngomong kapan aja sama orang tuanya,” pungkasnya.
Delapan Tahun Menanti Momongan
Kehidupan rumah tangga pasangan selebritis Surya Saputra dan Cynthia Lamusu nampak begitu lengkap dengan kehadiran dua buah hati mereka, Ataya Tatjana Aisyah Putri dan Atharva Bimasena Saputra.
Surya dan Cynthia juga kerap menunjukkan kedekatan keluarga mereka kepada publik.
Hal itu terlihat saat Surya Saputra membawa kedua buah hatinya dalam sebuah acara TV. Siapa sangka, Bima yang dulu lahir prematur, kini tumbuh menjadi anak yang saleh dan pintar. Bima dengan percaya diri meminta izin pada sang Papa untuk membacakan hafalan surat pendeknya.
“Papa, boleh gak Bima sama aku baca surat Al-Kautsar?” tanya Bima polos dalam acara Rumpi Trans TV dikutip, Sabtu (27/12/2025).
Dengan fasih, bocah kacamata itu melantunkan, “Inna a’tainakal-kausar. Fa salli lirabbika wan-har…” hingga selesai.
Melihat kepintaran sang putra, Surya Saputra justru mengaku perasaannya campur aduk. Ada rasa bangga yang membuncah, namun terselip kesedihan mendalam di hati sang aktor.
“Ada sedihnya. Sedihnya tuh, kok bukan gue yang ngajarin, gitu lho? Karena harus syuting segala macem, kan,” ungkap Surya Saputra.
Surya Saputra terharu mendengar buah hatinya melantunkan ayat suci Al Quran.
Aktor 50 tahun itu merasa tertampar karena kesibukannya di lokasi syuting membuatnya melewatkan momen mengajarkan langsung ayat-ayat tersebut pada sang anak.
Jika menilik ke belakang, rasa haru Surya Saputra ini beralasan. Pasalnya, Surya dan Cynthia harus menunggu selama 8 tahun pernikahan untuk bisa menimang momongan.
Diketahui pasangan ini harus melalui perjuangan panjang lewat program bayi tabung (IVF). Ujian tak berhenti di situ, Tatjana dan Bima lahir prematur di usia kandungan 33 minggu pada tahun 2016 silam.
Bahkan, kondisi Bima saat lahir sempat sangat mengkhawatirkan. Bima hanya memiliki berat 1,2 kilogram dan harus berjuang di ruang NICU. Belum lagi risiko gangguan penglihatan atau Retinopathy of Prematurity (ROP) yang sempat mengintai mata Bima.
Tak mau kehilangan kedekatan dengan anak-anaknya yang sudah susah payah didapatkan, Surya Saputra punya trik parenting khusus. Surya Saputra menerapkan metode ‘Time Out’. Ini adalah momen sakral di mana anak boleh curhat apa saja, dan Ayah dilarang untuk marah.
“Kalau Papanya enggak boleh marah, caranya adalah time-out. ‘Papa, aku mau cerita time-out ya.’ Jadi aku enggak boleh marah, cuma bisa mendengarkan,” jelas Surya menirukan ucapan anaknya.
“Jadi Kakak sama Abang boleh ngomong apapun. Papa sekarang kasih masukan as a friend,” tambahnya.
Adapun pola asuh demokratis ini ternyata berakar dari pengalaman pahit masa kecil Surya sendiri. Ditinggal wafat sang ayah saat usia 3 tahun, Surya kecil tumbuh tanpa sosok tempat bertanya.
(/Grid.id)







