Oleh Amidi
Pada tahun 2025 lalu, konsumen selaku pemakai/pengguna tenaga listrik di negeri ini telah menikmati diskon listrik. Diskon tersebut diberikan kepada 2.200 VA dan bagi pemakai/pelanggan listrik token, mereka diberikan diskon secara langsung pada saat mereka mengisi atau membeli token llistrik.
Para pelanggan tenaga listrik di negeri ini benar-benar merasa terbantu dengan adanya diskon listrik tersebut dan dengan adanya diskon listrik tersebut, bagi pelanggan listrik token atau listrik prabayar, mereka berlomba-lomba memburu token listrik, mereka berbondong-bondong antri pada gerai ritel modern untuk mengisi atau membeli token listrik.
Bagi pelanggan yang memiliki cukup uang, mereka mengisi atau membeli token listrik dalam jumlah besar, mereka takut keburu diskon habis. Bagi pelanggan rumah tangga pascabayar, mereka merasa mendapatkan tambahan dana untuk memenuhi kebutuhannya, karena adanya diskon listrik tersebut.
Bayangkan saja, jika salah satu rumah tangga yang memakai/menggunakan daya 1.300 VA denga tagihan rutin rata-rata perbulan sebesar Rp. 1 juta-an, maka dengan adanya diskon listrik 50 persen tersebut, maka mereka sudah dapat menghemat atau akan mendapatkan uang tambahan untuk berbelanja sebesar Rp. 500 ribu-an.
Untuk tahun 2026 ini, secara resmi dari pihak PLN memang belum ada pengumuman akan adanya diskon listrik seperti tahun 2025 lalu. Namun, sudah ada berita yang menyajikan persoalan disekitar diskon tersebut.
Okezone.com hanya mensitir bahwa pemerintah belum mengumumkan adanya diskon listrik seperti tahuh lalu, namun diberitakannya bahwa pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan tarif tenaga listrik untuk pelanggan PT PLN (Persero) pada kuantal IV dan penetapan penyesuaian tarif (tarif adjusrment). Sehubungan dengan itu pemerintah tetap mengalokasikan subsidi listrik untuk mnedukung rumah tangga kurang mampu (lihat okeone.com, 31 Desember 2025).
Pada bagian lain, ada pula yang memberikan bawa pada tahun 2026 ini akan ada diskon listrik kembali. Berdasarkan berita yang dirilis oleh pajar.co.id bahwa diskon listrik 2026 tidak merata hanya akan diberikan kepada pemakai/pelanggan berdaya 450 VA dan sebagian pemakai/pelanggan 900 VA yang terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Soaial-DTKS (lihat pajar.co.id, 31 Desember 2025)
Diskon Sangat Dinanti!
Pengalaman tahun lalu, semua pelanggan listrik yang memperoleh diskon listrik di negeri ini merasa senang dan atau bahagia dengan adanya diskon listrik tersebut, terutama bagi anak negeri ini yang tergolong rumah tangga kelas ekonomi menengah ke bawah atau pelanggan dengan daya 450 VA, 900 VA dan termasuklah pelanggan dengan daya 1.300 VA yang merupakan pelanggan rumah tangga.
Setelah adanya diskon listrik tahun lalu tersebut, para pelanggan, sebenarnya masih berharap akan ada diskon kembali pasca diskon tahun 2025 lalu. Kini pun mereka masih mengharapakan adanya diskon listrik tersebut. Pada saat ditanya kepada beberapa pelanggan rumah tangga dan pelanggan pelaku usaha sekala kecil sebagai sampel, semua menyatakan bahwa mereka senang dengan adanya diskon listrik dan berharap akan ada diskon kembali.
Mereka membaca berita akan adanya diskon tersebut saja sudah senang, semoga kabar akan adanya diskon tersebut memang benar-benar nyata dan benar adanya.
Mengapa Mereka Senang?
Bila di simak, banyak faktor yang meneyababkan mengapa anak nenegri ini atau para pelanggan yang menerima/mendapatkan diskon listrik tahun lalu senang dan masih berharap agar ada diskon listrik kembali tahun 2026 ini?
Faktor pendapatan/penghasilan merupakan faktor utama membuat para pelanggan senang dengan adanya diskon listrik tersebut, mereka sangat terbantu. Apalagi dirasakan mereka kondisi ekonomi masih tidak menentu, kalau pun ada kenaikan atau pertambahan pendapatan karena adanya persentase kenaikan gaji, kadang-kadang tidak sebanding dengan persentase kanaikan harga-harga barang dan jasa.
Terkadang baru saja akan adanya rencana kenaikan gaji pegawai/pekerja, pedagang dan atau pelaku pasar sudah buru-buru menaikkan harga-harga barang dan jasa terlebih dahulu. Sehingga, pada saat mereka menerima tambahan pendapatan/penghasilan tersebut, sudah tidak dirasakan mereka sebagai tambahan, tidak heran terkadang ada idiom dikalangan mereka: “percuma gaji naik, barang sudah naik duluan”. Inilah dinamikanya! Inilah Faktanya!
Belum lagi kalau dilakukan pendekatan dari sisi pengeluaran mereka, mereka dibebani oleh pengeluaran yang terus bertambah, akibat adanya kenaikan harga-harga barang dan jasa, akibat adanya tambahan tanggungan, akibat adanya tambahan komponen pengeluaran, misalnya pengeluaran untuk air minum yang juga bisa menyita pendapatan/penghasilan mereka.
Ditambah lagi pengeluaran pelengkap pada saat mereka melakukan transaksi di luar rumah, Misalnya adanya pungutan parkir di pusat-pusat perbelanjaan yang saat ini hanpir sudah menggunakan pola “kapitalis”, dan atau “mencekik”. Jangan heran, bila ada kalangan kelas ekonomi menengah yang menggerutu pada saat membayar parkir, dengan lama/durasi tertentu kendaraan mereka diparkir, mereka harus membayar biaya parkir Rp. 20 ribuan-an lebih.
Kemudian yang membuat pelanggan, terutama pelanggan rumah tangga senang adanya diskon listrik tersebut, karena mereka menggunakan tenaga listrik yang terus bertambah atau meningkat. Pada satu rumah tangga, hampir semua akvitas ke-rumah-tangga-an menggunakan tenaga listrik, mulai dari penerangan ruangan/rumah sampai pada memasak nasi dan air pun sudah menggunakan tenaga listrik. Ditambah lagi saat ini maraknya pemakaian/penggunaan sepeda listrik yang menggunakan tenaga listrik.
Selanjutnya, faktor lainya adalah tidak sedikit masih terdapat kantong-kantong kemiskinan di kalangan rumah tangga pemakai/pengguna tenaga listrik tersebut. Tanpa sadar, terkadang mereka terlambat membayar tagihan listrik (pascabayar) karena terkendala dengan uang, terkadang mereka hanya dapat mengisi pulsa token listrik dengan bilangan atau besaran minimal saja. Jika mereka membeli token listrik dengan besaran minimal, berarti mereka akan terbebani dengan biaya atas pembelian token listrik tersebut. Disini muncul istilah “orang miskis membeli dengan harga mahal”.
Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah sebagi pendorong kepala rumah tangga pelanggan listrik senang adanya diskon listrik tersebut adalah bahwa PT PLN Persero sebagai penyedia atau penjual tenaga listrik adalah perusahaan monopoli. Dengan demikian pelanggan hanya disuguhkan satu-satunya perusahaan tenaga listrik, sehingga selama ini, jika adanya kenaikan terif listrik, mereka hanya merema tanpa bisa beruat banyak. Jika ada ganghuan jaringan (listrik mati), mereka harus menerima dan atau harus menunggu bahkan bila ada alat elektronik yang rusak akibat pemadaman listrik, mereka harus menanggung sendiri. Kecuali jika ada perusahaan penyedia atau penjual tenaga listrik lain, artinya akan ada alternatif tempat membeli tenaga istrik, tetapi tidak mungkin, bukan?. Dengan demikian, adanya diskon listrik tersebut suatu kejuatan bagi pelanggan yang selama ini hanya menerima harga atau tarif listrik saja.
Selanjutnya para pelanggan yang tergolong pelaku usaha skala kecil dn atau UMKM pun ikut merasa senang dengan adanya diskon tarif listrik tersebut.
Mereka terbantu sekali, dengan adanya diskon listrik tersbut, maka mereka dapat menekan biaya produksi mereka, dan atau mereka dapat menekan biaya pengeluaran untuk tenaga listrik mereka.
Terkahir yang membuat mereka senang dengan adanya diskon listrik tersebut adalah karena mereka saat ini sudah tidak bisa lepas dari tenaga listrik, alias ketergantungan mereka terhadap tenaga listrik sangat tinggi sekali, minimal bila di rumah, mereka memerlukan tenaga listrik untuk menyalakan kipas angin dan atau menyalakan AC bagi mereka yang sedikit lebih beruntung. Sekali lagi, mereka berharap di tahun 2026 dan tahun – tahun berikutnya akan ada lagi diskon listrik. Semoga!!!!!!!!!!!!!!







