Messi ke India Mengingatkan Dunia Olahraga: Brand adalah Raja

Perubahan dalam Dunia Olahraga: Tur dan Branding Atlet

Pada tahun 2025, dunia olahraga mengalami transformasi besar. Banyak atlet ternama melakukan tur promosi ke berbagai negara, menunjukkan bahwa industri ini sedang bergerak menuju era baru. Salah satu contohnya adalah tur Lionel Messi ke India, yang dikenal sebagai “The GOAT Tour”. Tur ini menjadi bukti nyata bahwa minat terhadap atlet kelas dunia tetap tinggi meskipun ada tantangan seperti kerumunan penonton di Kolkata.

Sebelumnya, dua bintang NBA, LeBron James dan Steph Curry, juga menjalani tur solo ke Cina. Tur LeBron bahkan bekerja sama dengan sponsor utamanya, Nike, dan diberi nama “The Forever King Tour.” Hal ini menunjukkan bahwa branding atlet tidak lagi hanya sekadar promosi, tapi juga bagian dari strategi bisnis yang kompleks.

Bacaan Lainnya

Merek Dagang dalam Olahraga

Merek dagang dalam olahraga bukanlah hal baru. Sejak 1950-an, merek fesyen seperti Fred Perry sudah hadir, sementara Air Jordan muncul bersama Michael Jordan pada tahun 1984. Namun, di era modern, fenomena ini semakin masif. Banyak atlet sejak awal karier mereka mulai membangun brand pribadi. Ini dilakukan bukan hanya untuk mendapatkan pengaruh, tetapi juga untuk memberikan dampak bagi generasi berikutnya.

“Ini bukan sesuatu yang benar-benar baru, tapi yang menarik adalah bagaimana makna brand atlet berkembang pesat dalam satu dekade terakhir,” ujar Nataliya Bredikhina, asisten profesor Manajemen Olahraga di University of Delaware. Ia menekankan bahwa branding atlet kini lebih dari sekadar identitas, tapi juga nilai bisnis yang sangat besar.

Tur Virtual dan Dunia Digital

Dengan hadirnya media sosial dan teknologi, batasan tentang siapa dan apa itu atlet semakin meluas. Tur, pertunjukan, dan promosi atlet kini semakin sering dilakukan. Messi dan timnya bahkan menciptakan “Messi Exhibit”, sebuah pameran multimedia interaktif yang memungkinkan fans menelusuri perjalanan karier sang legenda meski ia tidak hadir secara langsung. Pameran ini tengah mengadakan tur dunia dan sudah singgah di Los Angeles, Dubai, dan Sao Paulo.

Bredikhina melihat ini sebagai gambaran masa depan, berdasarkan teori The King’s Two Bodies. “Dulu teori ini lebih banyak digunakan untuk politisi, tapi sekarang sangat relevan untuk selebritas dan atlet. Ada sosok manusia nyata, dan ada pula brand yang tumbuh melampaui dirinya,” jelasnya.

Masa Depan Branding Olahraga

Salah satu hal paling menarik dari berkembangnya branding atlet adalah dampaknya pada keterlibatan fans. Orang lebih mudah terhubung dengan individu dibanding organisasi. Tapi di sisi lain, manusia juga ingin menjadi bagian dari kelompok. Lalu, kenapa fokus pada individu terasa jauh lebih kuat sekarang?

Menurut Bredikhina, jawabannya ada pada kombinasi konsumsi media sosial—rata-rata dua jam per hari secara global—dan kebiasaan audiens muda yang lebih memilih cuplikan highlight ketimbang menonton pertandingan penuh. Itu juga menjelaskan kenapa Cristiano Ronaldo punya lebih dari 660 juta pengikut di Instagram, sementara mantan klubnya, Real Madrid, masih kalah jumlah jika digabungkan di seluruh platform media sosial.

Tren di Semua Level

Perubahan ini tak hanya terlihat dari cara orang mengonsumsi olahraga, tapi juga dari pesatnya pasar tokoh berpengaruh di media sosial atau influencer. Atlet kampus pun kini mulai memikirkan personal branding sejak sangat dini.

“Kalau tujuannya memberi dampak ke komunitas, atlet di level apa pun bisa melakukannya,” ujar Bredikhina. “Mungkin mereka hanya punya beberapa ribu pengikut di akun media sosial atau follower—jauh dari megaselebritas—tapi mereka tetap bisa membangun brand dan menghasilkan uang lewat sponsor kecil.”

Hal ini terlihat jelas dari dampak NIL (Name, Image, Likeness) di olahraga kampus, di mana jumlah pengikut atau follower di akun media sosial kini memengaruhi proses rekrutmen. Bisnis memang tak terelakkan, dan tekanan emosional mengelola akun sendiri tidak mudah. Namun, ada landasan psikologis yang kuat di baliknya.

Kesimpulan

Tur Messi, LeBron James, dan Steph Curry menegaskan satu hal: Dunia olahraga sedang berubah. Bersiaplah menyambut realitas virtual, bantuan kecerdasan buatan atau AI, dan pengalaman fans yang semakin personal. Merek dagang atlet belum pernah sekuat ini sebelumnya. Seperti kata Bredikhina: “Sekarang atlet bukan sekadar pemasar atau endorser—mereka adalah mitra sejati bagi merek dagang dan membawa nilai besar ke meja kerja sama.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *