Aset Naik, Bank Neo Commerce Raih Laba Rp517,2 Miliar di Kuartal III 2025

Kinerja Keuangan BNC yang Mengesankan di Triwulan III 2025

PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) berhasil membukukan total laba sebesar Rp517,20 miliar di triwulan III tahun 2025. Angka ini melonjak drastis dibandingkan capaian pada kuartal III 2024 yang hanya mencapai Rp6,95 miliar. Pencapaian ini menunjukkan bahwa operasional perusahaan semakin matang dan kemampuan dalam menjaga kualitas aset secara berkelanjutan.

Direktur Utama BNC, Eri Budiono, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini didorong oleh disiplin pengendalian risiko, pengelolaan operasional yang lebih baik, serta inovasi layanan perbankan yang terus diperluas. Selain itu, transformasi digital BNC kini menuju pondasi yang lebih stabil dan berkelanjutan untuk pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Bacaan Lainnya

Pada triwulan III 2025, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BNC berada di angka 82,83 persen pada Oktober 2025, konsisten dengan September 2025 yang mencatatkan 82,81 persen. Performa BOPO membaik sebesar 16,92 poin persentase dibandingkan Oktober 2024 yang tercatat 99,75 persen. Margin bunga bersih (NIM) perseroan juga tercatat sebesar 14,74 persen, turun tipis dari 14,81 persen pada September 2025. Namun, BNC tetap konsisten menjaga margin dengan strategi pembiayaan yang terkendali.

Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) juga membaik signifikan menjadi 2,89 persen di Oktober 2025, dibandingkan dengan 3,74 persen pada Oktober 2024. Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) BNC meningkat menjadi 47,77 persen pada Oktober 2025, naik dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 35,89 persen. Kenaikan CAR ini dipengaruhi oleh peningkatan profitabilitas dan struktur permodalan yang lebih kuat.

Strategi Pengembangan Bisnis dan Penyaluran Kredit

BNC menyalurkan kredit sebesar Rp7,40 triliun hingga akhir Oktober 2025. Angka ini turun 14,16 persen dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai Rp8,62 triliun. Aditya Wahyu Windarwo, Direktur Bisnis BNC, menyebutkan bahwa penurunan ini disebabkan oleh penurunan provisi secara year on year. Meskipun demikian, penurunan kredit tidak mengurangi kualitas aset yang lebih baik dan sehat.

Perseroan akan fokus pada perbaikan kualitas aset dan lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman baru. “Kita melakukan pengetatan risiko dan melihat segmen yang lebih efisien,” ujar Aditya. Target NPL BNC di bawah 3,5 persen dan target funding antara Rp13,4 triliun hingga Rp13,7 triliun akan menjadi prioritas utama.

Revenue perseroan per akhir Oktober 2025 turun karena penurunan consumer loan dari high yield ke low yield. Namun, BNC tetap fokus pada strategi manajemen risiko. Kenaikan CAR menjadi 47,8 persen menunjukkan adanya perbaikan karena kenaikan profitabilitas.

Pertumbuhan Produk Kredit dan Stabilitas Dana Pihak Ketiga

Salah satu produk kredit yang menjadi fokus BNC di tahun 2025 adalah Neo Loan atau Neo Pinjam yang tersedia di aplikasi neobank. Produk ini mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 139 persen secara tahunan.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BNC tetap stabil di posisi Rp13,60 triliun, relatif tidak berubah dibandingkan September 2025 yang mencapai Rp13,62 triliun. Stabilitas DPK menunjukkan tingkat kepercayaan nasabah yang tetap stabil terhadap layanan perbankan perseroan.

Total aset BNC per Oktober 2025 mencapai Rp18,49 triliun, naik 0,34 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp18,43 triliun. Secara tahunan, aset BNC tumbuh sebesar 3,01 persen dari Rp17,95 triliun di Oktober 2024. Modal inti juga menguat menjadi Rp4,00 triliun, meningkat 1,52 persen dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, dan naik signifikan 20,06 persen YoY dari Rp3,33 triliun dari Oktober 2024.

Perluasan Bisnis Wealth Management

Terkait strategi ke depan, BNC akan fokus pada kemudahan bertransaksi finansial secara digital. Salah satu bidang yang akan dikembangkan adalah wealth management sebagai sumber pendapatan tambahan selain fee based income. Perseroan juga akan menambahkan transaksi seperti QRIS yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia.

Aditya menyatakan bahwa segmen wealth management untuk nasabah non-profesional seperti ibu-ibu rumah tangga dan mahasiswa sangat menarik. “Mereka umumnya kurang paham tentang investasi, maka kami dekati mereka melalui aplikasi,” ujarnya. BNC menawarkan mereka kesempatan untuk berinvestasi agar bisa menjadi kebiasaan menabung dengan mulai dari nilai yang kecil.

Menurutnya, meskipun segmen ini masih baru, respons pasar cukup bagus. “Dalam sebulan ada 1000 sampai 1500 customer baru, bukan yang repeated,” tambah Aditya.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *