Mengenal Ponpes Nurul Huda di Blitar: Jejak Awal Islam hingga KH Hasyim

Sejarah dan Keberlanjutan Pondok Pesantren Nurul Huda di Blitar

Pondok Pesantren Nurul Huda, yang terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, merupakan salah satu pusat awal penyebaran Islam di wilayah tersebut. Didirikan pada pertengahan abad ke-19 oleh Syekh Abu Hasan, pesantren ini memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Selain menjadi tempat pengajian, pesantren ini pernah menjadi tempat perlindungan bagi prajurit Pangeran Diponegoro selama masa Perang Jawa.

Hingga kini, berbagai peninggalan sejarah masih terawat dengan baik. Masjid tua, makam para ulama, serta kolam wudu bersejarah tetap berdiri kokoh dan menjadi tujuan ziarah religi bagi banyak peziarah. Salah satu peninggalan yang paling penting adalah kolam wudu yang diyakini pernah digunakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kolam ini juga terhubung dengan masjid melalui jalur batu berjumlah 99 buah, yang melambangkan Asmaul Husna.

Selain itu, hubungan antara KH Hasyim Asy’ari dan Syekh Abu Hasan tercatat sebagai relasi guru dan murid. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh pesantren ini dalam sejarah perjuangan Islam di Jawa. Saat ini, Pondok Pesantren Nurul Huda tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga menjadi destinasi ziarah religi yang ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah.

Daftar 10 Pesantren Sepuh di Jawa Timur

Jawa Timur dikenal sebagai pusat lahirnya banyak pesantren besar di Indonesia. Banyak dari pesantren-pesantren ini telah berdiri lebih dari satu abad dan menjadi tempat lahirnya ulama-ulama besar serta tokoh bangsa. Berikut adalah daftar 10 pesantren sepuh di Jawa Timur:

  1. Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (1910)

    Didirikan oleh Kiai Haji Abdul Karim atau Bahmanab, pesantren ini kini memiliki sekitar 40 ribu santri dari berbagai daerah. Pengasuh saat ini adalah Kiai Haji Muhammad Anwar Mansur bersama zuriah keluarga besar Lirboyo. Banyak tokoh besar pernah belajar di sini, seperti KH. Maimun Zubair, KH. Mustofa Bisri, dan KH. Said Aqil Siradj.

  1. Pondok Pesantren Mahir Arriyad, Ringinagung, Kediri (1870)

    Berlokasi di Dusun Ringinagung, Desa Keling, Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri, pesantren ini didirikan oleh Kiai Imam Nawawi. Kini diasuh oleh KH. Munzis Maisur dan KH. Irfan Hamid Maisur, dengan fokus pada kajian kitab salaf. Salah satu tokoh pentingnya adalah KH. Ahmad Maisur Sindi, pembaharu pendidikan pesantren.

  2. Pondok Pesantren Langitan, Tuban (1852)

    Terletak di tepi Bengawan Solo, pesantren ini didirikan oleh Kiai Muhammad Nur. Kini dipimpin secara kolektif oleh para dzuriah pendiri, seperti KH. Ubaidillah Faqih. Dengan sekitar 5.000–6.000 santri, Langitan menjadi salah satu pesantren bersejarah yang pernah menjadi tempat belajar KH. Hasyim Asy’ari dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

  3. Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo (1839)

    Berdiri di Karangbong, Pajarakan, pesantren ini didirikan oleh Syekh Zainal Abidin Al-Mahribi. Kini dipimpin KH. Hasan Mutawakil Alallah dan memiliki puluhan ribu santri. Genggong dikenal melahirkan banyak tokoh dakwah dan pendidikan.

  4. Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji, Sidoarjo (1787)

    Didirikan oleh Kiai Hamdani, pesantren ini menjadi salah satu yang tertua di Sidoarjo. Banyak tokoh besar pernah belajar di sini, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Di bawah KH. Hashim Fahrur Razi, Al-Hamdaniyah tetap mempertahankan tradisi Kitab Kuning.

  5. Pondok Pesantren Miftahul Huda, Gading, Malang (1768)

    Didirikan oleh Kiai Hassan Munadi, pesantren ini mempertahankan tradisi salafiyah. Kini diasuh KH. Ahmad Arif Yahya dengan sekitar 600 santri. Miftahul Huda menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Malang Raya.

  6. Pondok Pesantren Komarudin, Bungah, Gresik (1753)

    Berdiri pada tahun 1753 oleh KH. Komarudin bin Umar, pesantren ini berkembang menjadi lembaga pendidikan modern dari RA hingga perguruan tinggi. Di bawah KH. Muhammad Al-Laudin, jumlah santrinya mencapai sekitar 4.000 orang.

  7. Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan (1718)

    Pesantren yang berdiri di Desa Cukir, Jombang, ini didirikan oleh Sayyid Sulaiman. Sidogiri menjadi pusat studi Islam yang melahirkan banyak ulama besar. Di bawah KH. Ahmad Fuad Nur Hasan, Sidogiri memiliki lebih dari 20.000 santri dan dikenal dengan kemandirian ekonominya melalui Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri.

  8. Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1899)

    Didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Di bawah kepemimpinan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Tebuireng memiliki sekitar 5.000 santri. Pesantren ini melahirkan banyak tokoh bangsa, seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Ma’ruf Amin.

  9. Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri

    Berusia 100 tahun pada tahun 2025, karena didirikan pada tanggal 1 Januari 1925 oleh KH. Ahmad Djazuli Utsman. Pesantren ini pertama kali beroperasi menggunakan serambi masjid untuk kegiatan belajar mengajar. Tahun berdiri: 1925 Pendiri: KH. Ahmad Djazuli Utsman Usia pada tahun 2025: 100 tahun.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *