Apa yang Terjadi Saat Ibu-ibu 40 Tahunan Mengeluh di Media Sosial
Saya seorang ibu yang berusia sekitar 40 tahun. Dan saya pernah, secara jujur, menulis komentar yang menyindir di media sosial orang lain. Bukan sekali atau dua kali, tapi mungkin cukup sering. Bukan pula dengan niat jahat yang telah direncanakan dengan matang.
Biasanya terjadi pada saat-saat yang tampak biasa saja. Saat menunggu air menguap, atau sedang bersantai setelah seharian membersihkan, atau di jam-jam ketika pikiran sudah penuh, tapi tangan masih bisa menggeser layar. Pada saat itu, ada sesuatu dalam diri saya yang tidak stabil, dan saya tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Usia 40-an merupakan masa yang unik sekaligus penuh. Kami sudah tidak muda lagi, tetapi juga belum benar-benar tua. Anak-anak mulai tumbuh dewasa, tuntutan hidup semakin nyata, dan tubuh mulai menunjukkan tanda bahwa kekuatan fisik tidak bisa lagi diabaikan. Pada saat yang sama, tanggung jawab justru meningkat. Kami menjadi ibu, istri, pekerja, anak dari orang tua yang semakin menua, dan sering kali menjadi penjaga keseimbangan emosional dalam keluarga. Ironisnya, hampir tidak pernah ada ruang untuk bertanya dengan jujur, “Ibu, apakah kamu baik-baik saja?”
Di tengah kekosongan tersebut, media sosial hadir sebagai ruang yang paling mudah diakses. Murah, cepat, dan selalu terbuka. Di sanalah jari sering bergerak lebih cepat daripada pikiran. Dan kritik kerap muncul bukan dengan niat menyerang, melainkan sebagai bahasa kelelahan. Bahasa yang kasar, ya. Tapi sering kali jujur tentang betapa penuh dan sempitnya ruang di dalam diri.
Saya mulai mengamati pola. Komentar negatif dari ibu-ibu berusia 40-an jarang muncul tanpa alasan. Saya tahu karena cara mereka menyampaikan pendapatnya mirip dengan saya.
Ia sering tampil dalam konten yang memperlihatkan kebahagiaan. Rumah bersih tanpa noda, pasangan romantis tanpa konflik, anak-anak selalu sopan dan berprestasi. Konten semacam ini, tanpa disadari, bisa menjadi cermin yang menyakitkan. Bukan hanya karena iri, tetapi karena kehidupan kami jauh lebih kacau dan tidak pernah cukup indah untuk masuk dalam lensa kamera. Ada pakaian yang menumpuk, anak yang sedang marah, pasangan yang lelah sendirian, dan semuanya tidak pernah menjadi sebuah konten.
Pola kedua berupa konten parenting yang bersifat mengajarkan. Kalimat seperti “seorang ibu yang baik seharusnya…” atau “jika mencintai anak, pasti bisa…” terdengar biasa, namun bagi para ibu di usia 40-an, hal itu terasa seperti putusan hukuman.
Pada usia ini, banyak ibu telah mencoba berbagai hal, mengalami kegagalan berulang, dan memahami bahwa hidup jauh lebih rumit daripada tampilan yang terlihat di Instagram. Ketika pengalaman panjang disederhanakan menjadi satu pelajaran moral, kritik muncul sebagai bentuk perlawanan kecil yang terasa aman.
Pola ketiga merupakan konten opini yang bersifat moral dengan pandangan hitam-putih. Membahas tentang perempuan, rumah tangga, keberhasilan, bahkan agama. Fase usia 40-an adalah masa yang penuh dengan nuansa abu-abu. Kami memahami bahwa hidup penuh dengan kompromi, luka, dan pilihan yang tidak selalu sempurna. Oleh karena itu, ketika ada konten yang merasa paling benar, komentar pedas sering menjadi satu-satunya cara untuk berkata, “Hidup tidak se sederhana itu.”
Kendala utamanya, kritik tidak pernah benar-benar memperbaiki keadaan. Hanya memberikan rasa tenang sementara. Setelah itu muncul perasaan bersalah, atau hampa, atau kelelahan yang tetap berada.
Dari perspektif kesehatan mental, sindiran bisa menjadi indikasi bahwa emosi seseorang telah lama tidak dikelola dengan baik. Banyak wanita di usia 40-an terbiasa menunda perasaan mereka sendiri. Nanti saja sedihnya, nanti saja lelahnya, nanti saja marahnya. Semua dikumpulkan rapi, hingga akhirnya tumpah di kolom komentar orang lain.
Saya mempelajari sebuah pelajaran penting. Mengkritik jarang terkait dengan konten yang dilihat. Lebih sering berkaitan dengan diri yang sedang rentan. Mengenai kebutuhan untuk diakui, dipahami, atau sekadar diberi kesempatan untuk lelah. Ketika saya mulai lebih jujur pada diri sendiri, mengakui kelelahan, membatasi konten yang saya baca, dan berhenti mengikuti akun yang membuat saya merasa “tidak cukup”, keinginan untuk mengkritik secara perlahan berkurang. Bukan karena saya tiba-tiba lebih bijaksana, tetapi karena saya lebih sadar.
Sosial media memang bukan tempat untuk terapi. Namun, ia juga tidak sepenuhnya pantas disalahkan. Yang perlu kita jaga adalah kesadaran bahwa di balik sebuah komentar yang menyakiti, sering kali ada seorang ibu yang sedang kehabisan tempat aman untuk berbicara. Maka, mungkin saatnya kita berhenti hanya bertanya, “Mengapa ibu-ibu berkata kasar?” dan mulai bertanya dengan lebih jujur, “Apa yang membuat mereka begitu lelah hingga harus melukai dengan kata-kata?”
Karena ketika seorang ibu merasa didengarkan dan tidak dihakimi, ia jarang merasa perlu menyerang siapa pun.

