Sebuah ladang jagung di Desa Bantarpanjang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, tengah menjadi sorotan.
Ladang yang menjadi bagian dari program Ketahanan Pangan Nasional ini sebelumnya diresmikan oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2025.
Namun, pantauan di lapangan pada Selasa (30/12/2025) menunjukkan kondisi yang memicu pertanyaan publik.
Ribuan pohon jagung tumbuh dengan tinggi yang tidak merata, sebagian menguning, bahkan ada yang roboh. Di sela-sela tanaman utama, rumput liar tumbuh subur hingga menutupi pohon jagung.
Kondisi ini memicu narasi bahwa proyek tersebut terbengkalai.
Meski demikian, pihak pengelola dan kepolisian memberikan penjelasan teknis mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lahan seluas 20 hektar tersebut.
Mengapa ladang dipenuhi rumput liar?
Kondisi visual ladang yang dipenuhi semak memunculkan kesan tidak terurus.
Namun, Direktur Utama PT MSD Corpora Internasional, Made, menjelaskan bahwa keberadaan rumput tersebut merupakan bagian dari strategi pertanian untuk menjaga stabilitas tanah.
“Rumput sengaja kami biarkan di beberapa titik untuk menahan tanah agar tidak hanyut saat hujan,” ujar Made di lokasi ladang jagung Bantarpanjang, Selasa (31/12/2025) malam.
Karakteristik tanah merah kekuningan di lokasi tersebut disebut memiliki lapisan top soil yang tipis dan bercampur batuan padas, sehingga rentan tergerus erosi saat curah hujan tinggi.
Selain itu, penggunaan booster nutrisi pada tanaman utama secara tidak langsung memicu rumput liar tumbuh lebih cepat dan subur.
Apakah program ini gagal panen?
Narasi mengenai gagal panen dibantah keras oleh Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada.
Ia menegaskan bahwa program ini masih berjalan dan saat ini berada dalam tahap evaluasi teknis.
“Program budidaya penanaman jagung ini merupakan bagian dari dukungan ketahanan pangan dan masih terus dimonitor untuk memastikan keberlanjutan serta perbaikan hasil tanam,” kata Indra melalui keterangan tertulis yang diterima , Selasa (30/12/2025).
Indra mengakui bahwa pertumbuhan tanaman pada fase awal memang belum optimal karena faktor kualitas lahan dan cuaca ekstrem.
Namun, hal tersebut dianggap sebagai tantangan teknis dalam budidaya lahan terbuka dan bukan indikator kegagalan total.
“Kondisi yang terlihat saat ini bukan indikator berhentinya atau gagalnya program,” ujar Indra.
Dari total lahan aktif sekitar 20 hektar, pihak pengelola mengklaim sekitar 1,5 hektar di antaranya dipastikan siap untuk dipanen dalam waktu dekat.
Bagaimana nasib ladang jagung yang diresmikan Wapres Gibran ini ke depan?
Meski terlihat sepi dari aktivitas penjagaan, pengelola memastikan bahwa masa tumbuh jagung membutuhkan waktu sekitar 110 hari sejak tanam. Target panen pun telah ditetapkan.
“Kami pastikan (jagung) siap dipanen pada Januari mendatang,” tegas Made.
Selain itu, Kapolresta Tangerang menyebut program ini tidak hanya berhenti setelah panen saja.
“Program budidaya jagung ini tidak berhenti pada satu siklus tanam,” ujar Indra.
Sebagai langkah perbaikan untuk siklus tanam selanjutnya, Polresta Tangerang berencana melakukan penataan ulang lahan, mulai dari pembangunan sistem drainase untuk mengurangi genangan air hingga pembuatan embung untuk pengelolaan air.
“Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan mendukung produktivitas tanaman pada fase tanam berikutnya,” tegas Indra.
Sisa tanaman pasca-panen nantinya akan diolah menggunakan dekomposer untuk menjadi pupuk organik alami, guna memperbaiki struktur tanah pada siklus tanam berikutnya.
Hingga saat ini, ladang tersebut masih dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mencari rumput pakan ternak di area yang tidak terawasi secara ketat oleh penjaga lahan.
“Awal-awal dulu ada yang jaga, tapi belakangan enggak pernah lihat,” ujar Supriatna, salah satu warga setempat.
(Sumber: / Acep Nazmudin/ Editor: Ihsanuddin, Novita Rahmawati, Vachri Rinaldy Lutfipambudi, Irfan Maullana)

Tinggalkan Balasan