Wonosobo dan Banjarnegara sama-sama memiliki Dieng. Orang menyebutkan kawasan Negeri di atas Awan.
Kalau Wonosobo memiliki Dieng Wetan Kecamatan Kejajar. Adapun Banjarnegara memiliki Dieng Kulon Kecamatan Batur.
Di perbatasan Dieng Kulon dan Dieng Wetan itu ada camp atau tenda kemah di pinggir jalan (sebelah selatan jalan) di depan Indomart/Alfamart di Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara tempat pertapa Mbah Fanani.
Berpuluh tahun Mbah Fanani ada di dalam tenda tersebut. Mbah Fanani hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada.
Bayangkan di Dieng yang kadang suhunya mencapai minus derajat Celcius itu, Mbah Fanani tetap sehat wal afiat dengan tubuh kurus dibalut sarung tanpa baju.
Makannya seadanya. Siapa saja “yang tahu” atau “yang ngerti” siapa sebenarnya Mbah Fanani biasa nyambangi kemahnya yang dulu berwara biru kini sudah kabur menjadi berwara kelabu atau abu-abu.
“Biasanya orang datang memberi pisang satu sisir atau bahkan dua sisir dan rokok yang dibeli di Toko Indomart itu,” kata Sarni, penjual pisang di depan tenda Mbah Fanani sambil menunjuk Indomart yang ada di belakangnya atau berhadap-hadapan dengan tenda Mbah Fanani.
Lalu mengapa sosok Mbah Fanani demikian kuat, ampuh, tidak pernah sakit di dalam tenda di Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah? Itu nanti kita bahas lain kali.
Surga Negeri di atas Awan
Nah, sama-sama memiliki wilayah “Negeri di Atas Awan,” dan bagi kaum backpacker, kota desa Dataran Tinggi Dieng ini adalah surga.
Di penghujung tahun 2025 menuju 2026, Wonosobo dan Banjarnegara menawarkan suasana libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang dingin, berkabut, namun sangat hangat di kantong.
Berikut adalah rekomendasi destinasi seru di Wonosobo yang ramah bagi pelancong hemat:
1. Bukit Telaga Menjer & Jalur Maron
Telaga Menjer adalah alternatif yang jauh lebih tenang dibanding Dieng. Bagi backpacker, Anda bisa mendaki ke Bukit Cinta untuk melihat panorama telaga dari ketinggian. Di sekitarnya terdapat Jalur Maron yang dipenuhi pohon pinus menjulang, memberikan suasana ala hutan di Eropa yang sangat estetik untuk konten media sosial tanpa perlu membayar mahal.
2. Gunung Prau via Patakbanteng
Bagi backpacker yang menyukai tantangan fisik, merayakan malam pergantian tahun di puncak Gunung Prau adalah pengalaman wajib. Jalur Patakbanteng adalah jalur paling populer karena singkat dan aksesnya dekat dengan pangkalan bus. Pemandangan milky way dan matahari terbit dengan latar Gunung Sindoro-Sumbing akan menjadi penutup tahun yang tak terlupakan.
3. Telaga Warna dan Telaga Pengilon
Dua telaga yang berdampingan ini memiliki warna air yang berbeda secara mencolok. Backpacker disarankan mendaki ke Batu Pandang Ratapan Angin. Dengan tiket masuk yang terjangkau, Anda bisa mendapatkan sudut pandang terbaik untuk melihat kedua telaga sekaligus dari atas bukit batu.
4. Kebun Teh Tambi
Terletak di lereng Gunung Sindoro, Kebun Teh Tambi menawarkan udara yang sangat bersih. Anda bisa melakukan tea walking secara gratis di jalan-jalan setapak di antara hamparan teh yang hijau. Di sini juga banyak tersedia homestay penduduk dengan harga mulai dari Rp100.000, sangat pas untuk budget backpacker.
5. Pemandian Air Hangat Kalianget
Setelah lelah berkeliling, Anda bisa merelaksasi otot di Pemandian Air Hangat Kalianget. Terletak hanya sekitar 3 km dari pusat kota Wonosobo, tempat ini memiliki kolam umum yang tiket masuknya sangat murah. Ini adalah cara terbaik untuk mengusir hawa dingin Wonosobo di malam hari.
6. Kuliner Backpacker: Mie Ongklok & Tempe Kemul
Jangan lewatkan Mie Ongklok yang khas dengan kuah kentalnya. Seporsi mie hangat ditambah Tempe Kemul yang renyah dan lebar hanya akan menghabiskan sekitar Rp20.000. Kuliner ini sangat mudah ditemukan di sepanjang jalanan kota hingga tengah malam.***







