Menuju atap selatan Indonesia, Rinjani

Belum 100 meter kami melangkah, rintik hujan sudah mulai berjatuhan. Mungkin ini sedikit lebih menguntungkan daripada kami harus berhadapan dengan panas matahari, menjelang tengah hari.

“Mau pakai jas hujan?” tanya Sofyan [19 tahun], guide kami.

Bacaan Lainnya

“Kita jalan saja dulu, siapa tahu hujan berhenti,” jawab saya. “Tapi kami mau pasang rain cover saja untuk tas”, sambung saya.

Kami berhenti sebentar, meletakkan trekking pole dan melepas ransel kami masing-masing. Namun tiba-tiba hujan makin deras. Akhirnya kami mengeluarkan jas hujan masing-masing dan memakainya. Para pendaki lain pun semua berhenti dan sibuk memakai jas hujan masing-masing.

Desember, hujan dan angin memang mulai lancar terjadi setiap hari di kaki Gunung Rinjani. Sudah dua bulan lebih kami hanya berada di Desa Sembalun Lombok Barat, di kaki Gunung Rinjani, untuk keperluan riset isteri saya. Pada pertengahan Desember 2025 ini, kami memutuskan menuju puncak Gunung Rinjani, 3.726 meter dari permukaan laut [mdpl].

Gunung Rinjani sendiri merupakan kawasan konservasi berbentuk Taman Nasional [TN] seluas 41.330 hektar. Wisata terbatas merupakan salah satu aktivitas pengunjung umum yang diperkenankan di dalam kawasan taman nasional. Wisata pendakian maupun trekking adalah aktivitas wisata favorit yang dikembangkan di kawasan TN Gunung Rinjani [TNGR], yang menjadi magnet kawasan ini.

Setelah tadi pagi kami bersiap di kantor Resort Sembalun TNGR [1.150 mdpl], kemudian sekitar pukul 9 pagi, kami diantar menggunakan sepeda motor menuju Pos 2 Tengengean oleh rekan-rekan ranger TNGR, yang akan bertugas piket ke beberapa pos jaga di jalur pendakian. 

Di Pos 2 terdapat pos jaga TNGR. Di sini, para turis diperiksa kembali barang bawaan, identitas, dan surat keterangan sehat mereka oleh petugas TNGR. Biasanya para turis juga akan makan siang di sekitar pos, karena tersedia beberapa shelter yang cukup bagus untuk duduk-duduk dan makan. 

Tepat jam 11 tadi, kami mulai perjalanan menuju puncak Rinjani dari Pos 2. Dihajar hujan tak berapa lama kemudian. Pos 2 sendiri berada pada ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Jadi sesungguhnya secara teknis kami akan menuju puncak Rinjani dengan selisih ketinggian sekitar 2.200 mdpl dari awal kami mulai berjalan kaki mendaki. Di Pos 2 sendiri, tertera jarak ke Puncak dari Pos 2 “hanya” 7,7 kilometer.

Kami berempat berjalan beriringan. Di depan, Zaki [22] mahasiswa magang asal Bandung, memimpin arah kami, diikuti istri dan saya, kemudian Sofyan. Sebagian besar barang bawaan kami, terutama bahan makanan dan peralatan kemping, pun telah dibawa lebih dahulu oleh porter kami, yang telah melesat maju mendahului kami sedari tadi.

Jalur landai, penuh akar dan batu

Hujan menjadikan pandangan kami terbatas. Puncak Rinjani tertutup kabut kelabu. Jangankan puncak, bukit-bukit sekitar kami pun seperti nyaman dalam selimut kabut tebal. Sementara hujan dan angin terus menerpa kami.

Target etape pertama kami adalah menuju Plawangan Sembalun, 3,9 kilometer dari Pos 2. Namun di antaranya, ada Pos 3 dan Pos 4 sebagai perantara. Di Plawangan, kami akan istirahat sebentar, tidur jika memungkinkan. Dini hari nanti, kami akan lanjut etape berikutnya menuju puncak.

Di depan loket pendakian, di kantor Resort Sembalun di bawah, tertera peta berbagai jalur untuk menuju Puncak Rinjani. Berkas dalam format GPX dan KML dapat diunduh dari barcode yang tersedia.

“Jalur Sembalun merupakan jalur paling populer dan cukup landai, dibandingkan jalur lain”, terang Zaki. “Jadi banyak turis lebih memilih jalur ini”.

Satu jam perjalanan awal, hujan tiada henti. Sepatu trekking kami yang anti air pun mulai basah karena rembesan air dari celana. Kami tidak peduli. 

Beberapa kali rombongan turis asing mendahului kami. Huh, kaki mereka panjang-panjang sekali untuk satu kali melangkah, detak saya dalam hati. Karena saya dan isteri bukanlah pendaki rutin dan terlatih, namun pecinta perjalanan ke mana pun, kami tidak terlalu pedulikan kecepatan. 

Foto-foto, ngobrol, menikmati seluruh rangkaian perjalanan dan pemandangan merupakan target utama kami. Ya, itu alasan kami yang memang tidak mampu berjalan cepat untuk mendaki. 

Jalur punggungan yang kami lalui penuh dengan bebatuan bercampur tanah merah. Rerumputan pendek dan akar-akar cemara malang melintang, kadang cukup membantu kami untuk menjejak. Udara segar, tentu saja berlimpah ruah di sini. Hanya kemampuan paru-paru dan jantung kami yang terbatas.

Kadangkala kami harus ektra waspada, karena jalur berada tepat di pinggir jurang. Walau redup oleh selimut kabut, di kanan kiri jalur yang kami lalui masih tampak hamparan savana bercampur batu-batu besar. Semua indah bagi kami.

Pukul 12 lebih sedikit, kami tiba di Pos 3 Padabalong [1.800 mdpl]. Kami istirahat sejenak. Perut mulai terasa lapar, tapi kami memutuskan untuk menunda makan siang kami. Kami lanjut jalan. Hujan telah berhenti, tapi jas hujan masih kami pakai.

Setelah melewati rangkaian ujian tanjakan yang menyesakkan dada secara harfiah, akhirnya kami tiba di Pos 4 Cemara Siu [2.100 mdpl], pukul satu lewat. Terdapat beberapa shelter di pos ini. Kami duduk di salah satu shelter tanpa atap, membuka jas hujan kami, kemudian memakan bekal makan siang. 

Tiga puluhan orang tampak melakukan aktivitas yang sama, lokal maupun macanegara. Sebagian duduk isitirahat saja, ngemil, atau makan siang. Saya tadinya berniat sholat jama’ taqdim Dzuhur Asar di Pos 4 ini. Tapi karena keterbatasan ruang yang tidak memungkinkan, kami memutuskan akan sholat dijama’ takhir saja di Plawangan nanti.

“Berapa jam lagi kita bisa sampai Plawangan?” tanya saya ke Zaki.

“Mungkin sekitar dua sampai tiga jam lagi”, jawabnya. Masih bisa terkejar Asar, pikir saya.

Pintu kabut

Di Pos 4 kami bertemu dengan beberapa kawan dari TN Manusela yang berada di Pulau Seram, Maluku. Kemarin sore kami bertemu mereka di kantor Resort Sembalun. Pagi tadi mereka naik lebih dahulu. Akhirnya dari Pos 4 ini kami naik bersama sebagian dari tim mereka. Sesama pendaki kepala 4 dan 5, nafas tersengal menjadi kendala kami, bahu membahu memberi semangat.

“Apa arti cemara siu?” tanya saya kepada Sofyan yang warga asli Lombok di tengah perjalanan.

“Cemara seribu”, katanya. Dia menjelaskan, bahwa dinamakan demikian karena banyaknya pohon cemara di sekitar lokasi tersebut. Saya pikir tadinya, yang memberikan nama adalah pendukung CR7, untuk mengenang selebrasi Siu-nya yang fenomenal.

Satu jam perjalanan dari Pos 4. Banyaknya bonus jalan datar dapat dihitung oleh satu tangan. Hujan kembali menderas dan kami mengenakan kembali jas hujan. 

“Itu Plawangan di atas”, tunjuk Sofyan. 

“Ya, dari Pos 2 pun Plawangan sudah dapat dilihat, tapi selalu jauh untuk dicapai”, balas isteri saya sambil tertawa.

Kabut tetap tebal. Barisan cemara kanan kiri makin rapat dan besar. Cocok memang lagu naik-naik ke puncak gunung, walau tidak ada burung kutilang. 

Ngomong-ngomong, memang kutilang [Pycnonotus aurigaster] yang kita kenal di Jawa tidak secara alami tersebar sampai ke Pulau Lombok. Namun demikian, memang jenis ini sudah terintroduksi sampai ke Lombok. Artinya, jika memang ada, dia bukan jenis alami.

Sepanjang perjalanan sampai ke Plawangan, yang kami banyak jumpai dan dengar hanyalah jenis gelatik batu [Parus cinereus] yang hitam putih cantik, atau si centil kacamata gunung [Zosterops japonicus] yang selalu berombongan. Sekali tampak alap-alap sapi [Falco moluccensis] melintas.

Menjelang pukul 4 sore, setelah melewati rangkaian hutan cemara, tanjakan batu, dan akar malang melintang, kami tiba di Plawangan [2.700 mdpl]. Seperti melewati tabir misteri, kami menyeruak kabut, dan tiba-tiba telah berada di sebuah punggungan yang memanjang dari selatan ke utara.

“Inilah Plawangan”, kata Sofyan. Dia masih tampak santai seperti orang jalan biasa saja dari tadi.

“Nanti kita nge-camp di Plawangan 4, Kang” sambung Zaki kepada saya. “Dekat pos jaga”, sambungnya. 

Kami seperti mendapatkan asupan energi tambahan, karena telah mencapai salah satu  target etape. Kami syukuri. Alhamdulillah. Tak lupa berfoto ria di plank yang tersedia.

Plawangan secara lokal berarti pintu. Ya, mungkin maksudnya ini salah satu pintu menuju puncak Rinjani. Secara fisik, Plawangan ini berbentuk punggungan bukit. Dengan lebar sekitar 10-20an meter dan cukup datar di beberapa tempat, lokasi ini dijadikan camping ground, sebagai area persinggahan sebelum para pendaki menuju puncak Rinjani.

Terdapat empat klaster area perkemahan, dan yang pertama kami jumpai adalah Plawangan 1. Plawangan 4 sekitar satu kilometer lagi ke arah utara.

“Dari mana mendapat air bersih di sini?” tanya isteri saya ke Zaki dan Sofyan, karena melihat beberapa orang berpapasan dengan kami sambil membawa jerigen-jerigen air, ketika kami menuju Plawangan 4.

“Ada sumber air di antara Plawangan 2 dan 3”, jawab Sofyan. 

“Jalur ke Segara Anak juga nanti ada di antara Plawangan 2 dan 3”, sambung Zaki, merujuk ke nama Danau Segara Anak, tempat kami akan ke sana juga esok siang. 

Sayup dan lamban, kabut tergeser oleh hembusan angin. Perbukitan sekeliling punggungan Plawangan tampak tekeruak. Selesai sholat jama’ takhir, kami keluar tenda. Angin bertiup cukup kencang, namun pemandangan senja lanskap Rinjani tak mungkin kami lewati.

Matahari cepat tertutup perbukitan di ufuk barat. Hari lebih cepat gelap sebelum maghrib tiba. Kami kedinginan. 

Lautan pasir lagi

Alarm kami berbunyi pukul setengah satu dini hari.

Kami hampir tidak bisa tidur. Tenda kami terlalu sempit untuk berdua, tidak cukup untuk meluruskan kaki, karena terhalang barang dan ransel.

Kami segera beberes packing. Rencana kami bertiga saja yang akan ke puncak. Kami berdua ditemani Sofyan. Sebagian barang akan kami titipkan ke Pos Jaga. Nanti pagi, porter kami akan membereskan tenda. Ketika kami kembali ke kemah ini nanti, siap makan siang, kemudian langsung lanjut perjalanan ke Segara Anak.

Tapi lupakan itu dulu.

Amak Gaga, porter kami yang sterk, telah menyiapkan perbekalan. Enam butir telur rebus, sebungkus roti, dan beberapa camilan serta air dua botol besar. Kami sarapan kepagian dulu, masing-masing sebutir telur rebus. Seret masuk tenggerokan.

Angin tetap kencang. Udara dingin masih terasa di jaket dua lapis yang kami kenakan. Senter kepala terang menyala. Sofyan, guide muda ini tampak santai saja. Dia hanya menggunakan senter ponselnya untuk berjalan.

Dua kurang lima belas menit, kami mulai jalan. 

Jalan setapak tanah segera berubah menjadi lautan pasir, menyerap setiap tenaga langkah-langkah kami. Belum apa-apa, kami harus melewati titian tangga sekitar empat meter yang menghubungkan tanjakan yang cukup tinggi.

Setelah satu jam berjalan, melalui lautan pasir ini, kami tiba di persimpangan. Terdapat papan petunjuk tertulis “PUNCAK” ke arah kiri. Tapi kami percaya, puncak masih jauh. 

Dari Plawangan, di atas kertas kami hanya perlu berjalan sekitar 3,8 kilometer “saja”. 

“Umumnya 3-4 jam saja bisa sampai puncak”, jelas kawan-kawan TNGR di pos jaga tadi malam. Ya, kami cukup optimis, bisa sampai puncak dalam 4 jam. Jika berangkat pukul 2 dini hari, kami perkirakan dapat tiba sekitar pukul 6 pagi, tepat saat sunrise. Semangat.

Jalan setapak yang kami tempuh betul-betul hanya setapak. Sebelah kanan kami, terdapat beberapa tanda pengaman jalan atau guardrail reflector merah. Kami tidak berani mendekat, karena di sisi kanan tersebut memang jurang menganga. Tapi malam itu, fisik jurang belum terlihat karena gelap.

Awal perjalanan di jalan setapak punggungan gunung ini, sepertinya tersusun dari tanah, batu, dan pasir. Beberapa bagian berumput. Cukup padat untuk kami jejaki. Tapi ini tidak membuat nafas kami sedikit ringan, hanya kaki kami yang sedikit tersenyum.

Di depan kami, beberapa nyala senter tampak menyala. Beberapa rombongan berangkat lebih dulu dari kami. Setelah berjalan beberapa saat di punggungan gunung ini, di belakang kami, mulai tampak jelas iringan lampu-lampu senter mengular. Rombongan pendaki lain.

Satu jam kami berjalan tanpa menyusul atau disusul rombongan lain. Setelahnya, mulai satu, dua, tiga, sampai belasan rombongan menyusul kami, hampir semuanya pendaki mancanegara. Huh, mereka cepat sekali.

Untuk mengurangi kejenuhan, saya biasa menetapkan target-target kecil dalam perjalanan. Misalnya, istirahat ketika sampai batu besar di depan sana. Atau istirahat setelah beberapa puluh langkah. Atau juga istirahat setelah hitungan zikir kesekian, dan sebagainya. Itu cukup membantu, karena tidak ada patokan pal petunjuk jarak di sepanjang jalan setapak ini.

Setengah lima. Sebentar lagi waktu subuh.

“Jam lima saja kita sholat, nanti kita cari tempat yang agak datar”, kata saya kepada isteri. Jalan terlalu sempit saat ini.

Di depan kami, di sebuah tikungan kecil berbatu, para bule turis banyak berhenti istirahat. Kami melangkah terus. Hampir jam lima. Tak jauh dari tikungan tadi, kami menemukan jalan yang agak lebar dan sedikit datar. Ya, hanya sedikit saja datar. Kami berhenti.

Menuju 3.726 mdpl

Selesai sholat subuh dengan bertayamum di sisi jalan setapak, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama, jalan tanah berbatu tadi lenyap. Kini kembali pasir hitam ambyar menantang kaki kami yang mulai goyah.

Semburat terang mulai tampak di ufuk timur, di kiri kami. “Mudah-mudahan kita bisa sampai di atas jam 6 nanti”, kata saya menyemangati kami berdua.

Setengah enam, lautan pasir masih tak berkurang. Pun, angin dingin tetap kencang berhembus dari kanan kami. Di kiri kami mulai terang, tampak sisi punggungan yang agak landai. Di kanan kami ternyata mulai terlihat jurang menganga. Di bawahnya, Danau Segara Anak tampak samar terlihat indah.

Kali ini silih berganti kami mulai susul menyusul antar pendaki. Semua sudah mengerahkan tenaga terbaiknya. Di puncak, sudah tampak senter-senter menyala. Sudah ada yang sampai.

Di suatu titik, saya dan isteri istirahat. Tampak turis pria bule beberapa meter tepat di belakang kami, datang mendekat. Kami menyingkir ke kanan sedikit, memberi jalan.

“Please, go ahead”, saya mempersilakan.

“No, you go ahead. I want to take a break”, dia membalas dengan nafas tersengal. Kami tertawa, sambil masing-masing bersangga pada trekking pole yang kami gunakan.      

Pukul 05.58 matahari terbit. Kami masih di punggungan. Puncak tampak sudah dekat, tapi kami masih terus menjangkau. Senter kepala kami matikan. 

Kami tiba di celah batu. Macet. Pendaki naik dan turun bertemu. Kaki ini seperti sulit sekali melangkah tinggi.

Alhamdulillah, akhirnya 06.20 kami tiba di 3.726 mdpl Puncak Rinjani.

Dua puluhan orang ada di puncak ini. Antri foto di depan pemandangan lanskap gunung dan Danau Segara Anak yang ikonik. Magis. Kabut tipis menyelimuti beberapa bukit di sekitar puncak. Tampak biru dan toska permukaan danau yang memesona. Tapi tak banyak ruang untuk menikmatinya dari puncak ini.

Kami ikutan berfoto dan selfie.

Kami bertemu kembali dengan kawan-kawan kami dari TN Manusela. Duduk-duduk sejenak di puncak, ngobrol sambil menunggu kedatangan kawan lainnya. 

“Sekarang Rinjani, jangan lupa nanti ke Binaya”, kata Pak Deny, kepala Balai TN Manusela kepada kami. Binaya sendiri merujuk pada gunung tertinggi di Kepulauan Maluku, 3.027, di Pulau Seram yang masuk dalam kawasan TN Manusela.

“InsyaAllah pak”, jawab kami.

Kami pamit turun duluan. Angin dingin tetap tiada henti menerpa. Kali ini di kiri kami tampak jelas Segara Anak nan indah di kejauhan. Plawangan nun jauh di bawah sana, titik-titik merah kuning biru penanda kemah-kemah para pendaki.

“Google bilang empat derajat, tapi terasa seperti dua derajat”, kata isteri saya menjelaskan situsi suhu yang terjadi saat ini di puncak.

Hangat dan dingin berpadu. Lelah dan bahagia juga menyatu. Berjalan dan mendaki hanya untuk menambah syukur atas kemudahan dan kesehatan dalam hidup kita dari Allah SWT.

Kami berjalan balik santai. Masih banyak pendaki yang berpapasan untuk naik. Perjalanan kami masih panjang. Kami akan ke Danau Segara Anak siang ini. Besok, selama dua hari kami akan turun menyusuri jalur Torean yang terkenal indah. Semoga tetap kuat, sehat, dan dimudahkan. *

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *