https://mediahariini.com–Sosial media kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para remaja.
Bagi sebagian besar, platformseperti Instagram, TikTok, dan X berfungsi sebagai tempat untuk berkomunikasi, mengekspresikan diri, serta mencari hiburan.
Namun, di balik keuntungannya, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan tekanan psikologis yang memengaruhi perasaan dan kesehatan mental remaja.
Terlebih dengan adanya fitur likes, repost, hingga komentar.
“Likes dianggap sebagai indikator penerimaan atau penolakan terhadap mereka, komentar menjadi bentuk penilaian sosial yang sangat mereka hargai, atau repost, share, dan tayangan dianggap sebagai bentuk pengakuan atas keberadaan mereka,” kata psikolog Vera Itabiliana, dilansir dariAntara, Jumat (12/12/2025).
Selain itu, dikutip dari American Psychological Association (APA),tekanan yang timbul akibat media sosial sangat berkaitan erat dengan proses pembentukan identitas serta kepekaan emosional pada remaja.
Di tahap ini, otak remaja masih dalam proses perkembangan, sehingga lebih mudah terpengaruh oleh faktor luar.
Validasi digital menjadi sumber tekanan yang baru
Salah satu penyebab stres yang sering terjadi adalah keinginan untuk mendapatkan pengakuan secara online.
Menurut Vera, fitur likes,komentar, hingga jumlah penonton konten dapat mempengaruhi rasa percaya diri remaja.
Ketika sebuah unggahan tidak memperoleh respons yang diharapkan, remaja sering merasa kurang layak atau tidak diterima dalam lingkungan sosialnya.
Tekanan ini tidak hanya berasal dari orang lain, tetapi juga dari standar yang mereka buat sendiri.
Tekanan untuk terlihat sempurna, termasukbody image,“prestasi dan gaya hidup,” kata Vera.
Perbandingan sosial: penyebab utama rasa tidak cukup yang baik
Sosial media menampilkan potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna, lebih bahagia, atau lebih berhasil.
Situasi ini memicu timbulnya perbandingan sosial, khususnya di kalangan remaja yang sedang mengembangkan konsep diri.
Pemuda yang sering menghabiskan waktu untuk melihat konten tentang “kehidupan sempurna” cenderung merasa kehidupannya tidak menarik.
Ini menimbulkan rasa tidak puas, dengki, hingga kelelahan pikiran.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out)
Selain perbandingan sosial, rasa cemas tidak ketinggalan kesempatan atauFear of Missing Outjuga membuat remaja lebih peka secara emosional.
Notification, stories,hingga unggahan teman yang sedang berkumpul tanpa mereka bisa memicu rasa cemas dan perasaan kesepian.
Menurut Talker Research(2025), Generasi Z merupakan kelompok yang paling aktif dalam mengakses media digital, namun juga menunjukkan tingkat konsentrasi dan ketenangan emosi yang paling rendah.
- Situasi ini mempercepat munculnya rasa takut ketinggalan.
- Dampak terhadap perasaan dan kesehatan jiwa Dampak terhadap emosi dan kesehatan psikologis Dampak terhadap perasaan dan kondisi mental Dampak terhadap emosi serta kesehatan pikiran Dampak terhadap suasana hati dan kesehatan mental
- Tekanan yang timbul dari media sosial tidak hanya berdampak pada perasaan seseorang, tetapi juga bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental jika tidak segera ditangani.
Beberapa dampak yang umum terjadi antara lain: mudah terluka, cemas berlebihan, kesulitan tidur, perubahan suasana hati, ketergantungan pada respons digital, hingga stres ketika tidak terhubung.
Penelitian dari Sleep Health Journal juga menemukan bahwa screen timemalam hari meningkatkan potensi gangguan tidur pada remaja, yang selanjutnya memperparah kondisi emosional.
Dibutuhkan pendampingan dan pembatasan penggunaan
Ahli-ahli menekankan bahwa penggunaan media sosial tidak selalu bersifat negatif.
Namun, para remaja memerlukan bimbingan dalam menghadapi lingkungan digital yang bergerak sangat cepat.
Psikolog Vera menyarankan beberapa tindakan sederhana, seperti:
- Membatasi screen time, terutama menjelang tidur
- Mengenalkan literasi digital dari usia dini
- Membahas materi yang mereka tonton
- Meningkatkan kesadaran diri dalam dunia nyata
- Membantu remaja memiliki kebiasaan positif di luar penggunaan media sosial.
“Anjurkan remaja memiliki lingkaran pertemanan yang saling mendukung, batasi paparan berlebihan, khususnya pada waktu-waktu rentan seperti sebelum tidur,” katanya.
Dengan bimbingan yang tepat, media sosial bisa menjadi tempat belajar dan ekspresi tanpa menimbulkan beban berlebihan.
Pada akhirnya, yang paling penting adalah membantu para remaja menyadari bahwa harga diri mereka tidak ditentukan oleh jumlahlikes, komentar, atau tampilan profil digital.

Tinggalkan Balasan