Isi Artikel
Fenomena Manusia Silver di Jakarta
Di kota Jakarta, fenomena manusia silver sudah menjadi hal yang biasa bagi sebagian besar masyarakat. Manusia silver adalah istilah untuk anak jalanan atau pengemis yang menggunakan cat sablon berwarna silver mengkilap untuk menarik perhatian para pengendara. Mereka biasanya beroperasi di lampu lalu lintas, terutama saat lampu merah menyala. Ketika lampu merah menyala, mereka bergegas ke tengah jalan untuk berpura-pura menjadi patung. Tak sampai satu menit, mereka langsung menyodorkan ember cat berwarna putih untuk meminta uang dari para pengendara.
Salah satu contoh dari fenomena ini adalah Wahyu Ningsih (23), seorang perempuan asal Tanjung Priok. Setiap harinya, Ningsih bekerja di lampu merah Emporium Mal Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Karena hanya memiliki ijazah Sekolah Dasar (SD), ia terpaksa menggeluti pekerjaan sebagai manusia silver. “Saya sudah coba kerjaan lain, tapi ijazah saya kan SD jadi enggak diterima di mana-mana,” katanya.
Nasib serupa juga dialami oleh suaminya, yang susah mendapatkan pekerjaan karena hanya lulusan SD. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menjadi manusia silver. Keduanya bertahan hingga saat ini karena harus memenuhi kebutuhan keluarga.
Bekerja sebagai manusia silver membuat Ningsih dan suaminya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dalam satu hari, keduanya bisa mendapat uang ratusan ribu rupiah dari para pengendara. “Ya, Rp 100.000 mah dapat sehari per orang, itu kotor belum makan,” tutur dia. Uang itu mereka dapatkan setelah beroperasi dari pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB setiap harinya.
Setelah mendapatkan uang, Ningsih dan suaminya pulang ke rumah kontrakan sederhana berukuran 3 x 3 meter di Tanjung Priok. Uang tersebut digunakan untuk makan, membeli kebutuhan anak, hingga menabung untuk membayar sewa kontrakan. Meski pendapatannya pas-pasan, Ningsih mengaku bersyukur karena kebutuhan keluarganya masih bisa tercukupi lewat pekerjaan sebagai manusia silver.
Tantangan dengan Petugas Satpol PP
Salah satu tantangan yang harus dihadapi Ningsih dan suaminya adalah kucing-kucingan dengan para petugas Satpol PP. Tak jarang, mereka berlari kocar-kacir ketika mobil Satpol PP melintas di depan Emporium Mal Pluit. “Dukanya kalau dikejar Satpol PP, lagi nyari duit dikejar,” kata Ningsih.
Beruntungnya, Ningsih selalu berhasil lolos dari kejaran para petugas Satpol PP. Sedangkan suaminya pernah ditangkap. Ketika ditangkap, suaminya dibawa ke panti sosial di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, untuk mendapat pelatihan selama satu bulan. Berbagai pelatihan keterampilan didapat suaminya agar bisa menjadi modal mencari peluang rezeki baru ketika keluar dari panti. Namun, karena mencari peluang pekerjaan baru tidak semudah dibayangkan, suaminya kembali menjadi manusia silver.
Harapan untuk PPSU
Oleh sebab itu, Ningsih berharap agar pemerintah bisa menyediakan peluang pekerjaan yang lebih banyak untuk para lulusan SD. Bahkan, ia juga berharap bisa menjadi Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk mengubah nasibnya. “Mau lah, mau banget malahan jadi PPSU,” katanya. Ningsih yakin, menjadi PPSU merupakan pekerjaan yang cocok untuknya karena memiliki pengalaman sebagai house keeping di Ancol.
Namun, hingga saat ini, ia belum mendapatkan peluang pekerjaan lain, meski sudah puluhan kali melamar. Jika nantinya sudah mendapat pekerjaan, ia berjanji tak akan ragu meninggalkan profesinya sebagai manusia silver. Sebab, menjalani profesi ini juga bukan kemauan Ningsih. Ia kerap kali bosan dan malu ketika harus mewarnai tubuhnya dengan cat silver. Namun, karena desakan ekonomi, ia terpaksa melakukan itu.
Risiko Kesehatan pada Anak
Melibatkan anak untuk menjadi manusia silver bukan merupakan hal bijak karena bisa mendatangkan dampak kesehatan yang luar biasa. Sebab, cat sablon yang digunakan bisa dengan mudah merusak kulit anak yang dikenal sensitif. Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, Irwan Saputra Batubara, Sp. D.V.E., menjelaskan bahwa risikonya akan lebih meningkat pada kulit anak.
Kondisi itu bisa mempercepat proses keracunan dari logam-logam tersebut, baik kontak langsung dengan kulit atau intoksitasi ke organ-organ dalam. Dalam jangka panjang, anak yang kulitnya terus terpapar cat sablon bisa mengalami kegagalan tumbuh kembang, kerusakan otak yang bersifat permanen, kerusakan saraf dan otot-otot penggerak tubuh.
Peran Pemerintah dalam Mengatasi Masalah
Sebagai seorang dokter, Irwan menyarankan agar pemerintah segera melakukan tindakan terkait beroperasinya manusia silver di Jakarta yang semakin merebak. Pemerintah bisa melakukan berbagai edukasi agar masyarakat paham bahwa mewarnai tubuh dengan cat sablon untuk mendapatkan uang, bukan merupakan hal yang bijak.
Irwan juga menyarankan, agar pemerintah membuat regulasi khusus untuk melarang penggunaan cat sablon tersebut agar masyarakat dapat terhindar dari kerusakan permanen jangka panjang.
Solusi Jangka Panjang
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai, kemunculan manusia silver disebabkan karena adanya persoalan ekonomi. “Secara ekonomi menunjukan bahwa fenomena ini berkaitan dengan isu ekonomi seperti kondisi lapangan pekerjaan, kemiskinan, orang butuh pekerjaan, butuh kehidupan, butuh penghasilan,” ucap dia.
Jadi, sudah seharusnya pemerintah ikut mengambil peran dalam mengatasi persoalan manusia silver ini. Pemerintah, kata Rakhmat, bisa memberikan lapangan pekerjaan, pelatihan keterampilan, dan pembinaan untuk para manusia silver. Namun, untuk memberikan pelatihan dan pembinaan memang bukan perkara yang mudah, sebab banyak dari mereka nekat menjadi manusia silver untuk mendapatkan uang secara instan.
Oleh sebab itu, pemerintah diminta tak sekedar melakukan penertiban, melainkan juga melaksanakan pendekatan berbasis ekonomi. “Maka negara harus melakukan pendekatan dengan berbasis ekonomi, kenapa karena akar masalahnya di ekonomi yang harus dijelaskan dan diselesaikan negara, penertiban tak bisa menyelesaikan masalah,” jelas Rakhmat.






