Perencanaan dalam kehidupan sangat diperlukan, agar seseorang memiliki persiapan dan tujuan yang jelas dalam mengejar cita-citanya. Setiap individu juga harus memahami kemampuan yang dimilikinya serta langkah-langkah yang perlu diambil.
Perencanaan dimulai dari awal, khususnya saat masa remaja. Dimulai dengan menemukan bidang-bidang yang diminati, seperti berhitung, menulis, mengamati, dan sebagainya.
Namun, setiap remaja memiliki kondisi yang berbeda saat memulai perencanaan masa depannya. Ada yang sudah memiliki mimpi jauh dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Namun, ada juga yang masih diam, merenung, dan bingung harus melakukan apa.
Terdapat masa dalam kehidupan remaja ketika ditanya, “Apa cita-citamu?” dan jawabannya bukan dokter, bukan arsitek, apalagi astronot, tetapi diam… lama… lalu tersenyum dengan sopan.
Tidak ada yang menyebutkan tentang salah satu profesi tersebut, bukan karena tidak memiliki impian. Lebih tepatnya: impiannya sedang dalam proses loading. Di sekolah, semua tampaknya sudah memiliki jalur yang jelas. Ada yang ingin menjadi dokter sejak TK, sementara yang lain ingin menjadi pengusaha seperti ayahnya yang juga seorang pengusaha.
Sementara dia? Masih bingung memilih antara beristirahat siang atau bersantai sore. Setiap hari terasa seperti berada di persimpangan jalan, namun semua petunjuk arah telah hilang. Yang tersisa hanyalah tulisan kecil: “Harap tentukan masa depan Anda sebelum usia 17 tahun.”
Masalahnya, ia belum tahu apakah ia lebih suka angka, kata-kata, diam mengamati orang, atau aktivitas lain. Remaja seperti ini sering merasa tertinggal. Ia sebenarnya sedang berhenti sejenak, bukan berarti malas, tetapi sedang bertanya dalam hati, “Sebenarnya aku ini siapa?”
Sayangnya, dunia mengharapkan jawaban yang cepat, yang memaksa seseorang untuk segera mengambil keputusan. Sementara itu, hidup bukan sekadar memberikan pilihan ganda, di mana hanya ada opsi A, B, C, atau D. Ada ruang lain yang harus diisi dengan jawaban berupa esai.
Kenapa Banyak Remaja Bingung?
Para remaja dan orang tua sebaiknya juga diajak untuk merenungkan hal-hal di sekitar mereka. Hal-hal yang dapat memicu kebingungan pada remaja atau mungkin juga orang tua. Sejak dulu hingga kini, dunia ini telah menyediakan berbagai pilihan pekerjaan.
Banyak remaja mengalami krisis identitas, mencari jawaban atas pertanyaan “siapa aku?” serta tujuan hidup. Tanda-tandanya dapat terlihat melalui perubahan gaya hidup atau pergaulan, rasa percaya diri yang rendah, dan kesulitan dalam mengambil keputusan.
Perubahan yang terjadi selama masa remaja juga dapat memengaruhi suasana hati dan emosi. Terkadang seseorang merasa stres dan cemas, khawatir mengenai masa depan, sekolah, hubungan percintaan, serta penampilan. Konsentrasi bisa berkurang akibat masalah tidur, pola makan, atau karena memang dia termasuk tipe pembelajar tertentu.
Jika ditanya mengenai cita-citanya, ia bingung dan diam. Dulu, pilihan yang ada adalah menjadi guru, tentara, dokter, atau insinyur. Sekarang? Satu kali menggulir media sosial, bisa menemukan 27 profesi baru yang bahkan belum diajarkan di sekolah. Wah, bagaimana tidak bingung…
Hal lain yang sering tidak disadari oleh remaja adalah adanya tekanan untuk segera mengetahui arah hidup. Bayangkan, pada usia 15 tahun saja sudah ditanya oleh orang tua tentang jurusan kuliah yang akan diambil. Padahal, dunia perkuliahan masih asing baginya. Pada usia 17 tahun, ia sudah ditanya apa profesi yang ingin diambil. Padahal, sebagian besar remaja saat ini masih sibuk mencari tahu, “Di bidang apa aku lebih kuat?”
Orang tua mulai membandingkan anaknya dengan saudara, tetangga, atau teman-temannya. Karena sering dibandingkan, dan teman-teman sudah memiliki rencana, sepupu sudah ikut berbagai lomba, akhirnya ia tidak sibuk mencari jati dirinya sendiri,
tapi sibuk merasa tertinggal.
Beberapa orang mulai merasa takut salah, takut membuat pilihan yang kemudian menimbulkan penyesalan, takut mencoba dan akhirnya gagal. Akhirnya, keputusan yang paling aman adalah… belum membuat pilihan sama sekali.
Bagaimana cara membantu remaja seperti itu?
Lebih baik para remaja seperti ini tidak dipaksa untuk memberikan jawaban yang besar. Remaja yang bingung tidak membutuhkan pertanyaan,
Apakah tujuan hidupmu?” Mereka membutuhkan pertanyaan yang lebih manusiawi, “baru-baru ini kamu tertarik pada apa?”, “apa yang membuatmu lupa waktu?
Mereka sebaiknya diberikan kesempatan untuk mencoba hobi yang baru, aktivitas kreatif seperti musik atau seni, menjadi relawan, atau melakukan perjalanan untuk menemukan minat dan semangat, bukan karena tekanan hasil.
Mereka juga bisa mengganti minatnya, bisa merasa bosan, atau bahkan mencoba lalu berhenti. Itu wajar, bukan? Bukan ketidakkonsistenan, tapi bagian dari proses belajar.
Prosesnya layak dihargai dan dihormati, bukan hanya hasilnya saja. Remaja belajar percaya diri bukan hanya dari pujian ketika berhasil saja.
namun dari perasaan, “meskipun aku belum tahu tujuannya, aku tetap diterima.”
Para remaja seperti ini membutuhkan pendamping, bukan orang yang menentukan keputusan mereka. Remaja semacam ini tidak memerlukan peta yang sudah siap. Mereka membutuhkan teman jalan yang tidak panik ketika jalannya berbelok, “hei, mengapa memilih itu, mengapa tidak yang ini saja?”
Insight
Belum memiliki tujuan hari ini bukan berarti kegagalan. Terkadang hal itu hanya tanda bahwa ia sedang belajar untuk mendengarkan suara hatinya sendiri. Mungkin pada suatu hari nanti ia akan menemukan jalan, atau mungkin jalan itu datang menjemputnya terlebih dahulu. Namun, ia tetap perlu didampingi dan diingatkan.
Remaja perlu memahami satu hal penting, tidak semua yang merasa bingung harus kehilangan tujuan. Mereka hanya perlu mencari jawabannya secara jujur. Beberapa orang hanya sedang mengumpulkan keberanian untuk menjadi jujur terhadap diri sendiri. Tugas orang tua bukanlah memaksa mereka segera sampai di tujuan, tetapi mendampingi mereka selama masih belajar berjalan.***







