“Benar, pak,” terdengar suara, kemudian kepalanya muncul, “eh, pesan apa, mas?”
Saya pernah mengalami kejadian tak terlupakan di satu malam saat masih bujang dan tinggal di Surabaya. Saat itu saya tinggal di kost di daerah Semolowaru, dekat dengan dua kampus swasta besar. Malam hari seringkali banyak warung atau angkringan yang buka, menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman.
Pada malam itu, setelah pulang dari kegiatan, saya mampir ke sebuah warung yang menjual gorengan, sego kucing, dan berbagai minuman. Meski warungnya tidak terlalu besar, antara dapur dan area duduk dibatasi oleh triplek.
Saat itu angkringan tidak terlalu ramai, hanya ada satu pembeli yang sedang makan. Penjualnya tidak terlihat, mungkin sibuk di belakang. Saya duduk dan mengambil sebungkus sego kucing, lalu memesan minuman jahe hangat.
“Cak, jahe anget, satu.”
“Benar, pak,” terdengar suara, lalu kepala penjual muncul, “eh, pesan apa, mas?”
“Jahe anget,” ulang saya.
“Benar.”
Tiba-tiba, saya merasa ada sesuatu yang tidak biasa dalam panggilan tersebut. Awalnya penjual memanggil saya “mas”, tetapi setelah melihat wajah saya, tiba-tiba berubah menjadi “pak”. Rasa kesal, sebel, dan ingin segera pergi bercampur dengan rasa malu karena ada orang lain di tempat itu.
Saya saat itu berusia 26-27 tahun, masih sangat pantas dipanggil “mas”. Orang-orang yang kenal saya biasanya memanggil dengan sebutan tersebut. Namun, saya mengabaikan rasa kesal itu dan melanjutkan makan hingga habis.
Di jalan pulang ke kost, saya mulai berpikir apakah wajah saya benar-benar tampak tua sampai-sampai penjual mengganti panggilan. Jika penggantian panggilan menjadi “cak” atau “bang”, mungkin bisa diterima. Tapi dari “mas” ke “pak” terasa seperti ada perubahan karena usia.
Kejadian serupa juga terjadi di tempat lain. Kali ini di kantor samsat, ketika saya sedang mengurus perpanjangan STNK. Karena baru pertama kali, saya belum paham dan bertanya pada petugas. Awalnya mereka memanggil saya “mas”, tetapi begitu saya menengok langsung, panggilannya berubah menjadi “bapak”.
Ketika membayangkan kejadian itu, saya merasa geregetan. Pasalnya, saya tidak segera sadar diri dan mencari penyebabnya.
Selama tinggal di kost di Semolowaru, saya aktif dalam beberapa kegiatan komunitas. Jadwal pertemuan sering kali membuat saya pulang larut malam. Karena naik motor sendiri, saya bebas untuk mampir ke angkringan sebelum sampai ke kost.
Kadang jam sepuluh malam, saya mampir dulu ke angkringan, makan sego kucing dan gorengan, lalu minum minuman manis. Malam ini ayam penyet, besok pecel Madiun, lalu tempe penyet dan seterusnya.
Saya bujangan dan sedang dalam masa kerja yang baik. Di kulkas kost tersedia wafer kaleng dan soft drink. Ketika wafer habis, saya ganti dengan biscuit kaleng besar, ditambah keripik singkong dan kentang. Selain itu, ada dispenser di kulkas, jadi saya nyetok kopi instan, susu kental manis, dan mie instan.
Kebiasaan makan tanpa batasan waktu, tanpa olahraga rutin, dilakukan berulang kali. Hari Minggu sering malas-malasan, bangun setelah subuh lalu tidur lagi hingga menjelang dzuhur. Setelah bangun, mandi dan sholat, lalu keluar untuk mencari makan.
Pada usia 26 tahun, saya memiliki perut buncit dan lingkar pinggang yang melebar. Celana dan baju lama tidak lagi muat. Orang yang baru mengenal saya biasanya memanggil dengan sebutan “pak”.
Sebenarnya tidak masalah, karena usia 26 sudah waktunya dipanggil “pak”. Namun, karena belum menikah, saya lebih nyaman jika dipanggil “mas”. Toh, teman sejawat umumnya masih dipanggil “mas”.
Setelah beberapa waktu, saya justru mengalami kejadian berlawanan. Saya mendapatkan pencerahan dari insiden ralat panggilan tersebut. Kejadian itu tidak sekali, tetapi saat itu saya tidak sadar diri.
Orang Gemuk Boros di Wajah?
Menurut Prof Dr Wimpie Pangkahila, Sp And FACCS, dari Universitas Udaya Bali, manusia memiliki usia kronologis dan usia fisiologis. Usia kronologis adalah usia berdasarkan tahun kelahiran, sedangkan usia fisiologis adalah usia berdasarkan fungsi tubuh yang masih baik.
Meskipun secara kronologis usia 25 tahun, tetapi jika fungsi tubuh kurang optimal, wajah bisa tampak lebih tua. Kegemukan ditandai oleh perut buncit, lengan dan paha yang membesar, serta payudara pria yang membesar, membuat seseorang berusia 31 tahun tampak seperti berusia satu setengah kali lipat.
Namun, Prof Wimpie menambahkan, bukan hanya kegemukan yang menyebabkan seseorang tampak tua. Tubuh yang terlalu kurus juga bisa membuat seseorang tampak lebih tua. Dengan badan segar dan bobot ideal, usia fisiologis dan kronologis bisa seimbang.
Sebuah siang di acara pameran, saya dibuat “gede rasa” (terkejut). Ada suara yang cukup akrab di telinga. Dulu pernah kenal, sebagai langganan MC acara Nangkring. Lama tidak bersua, tiba-tiba ketemu di event yang dipandunya.
“Mas, apa kabar. Sekarang kok muda-an.”
Setelah menoleh, kami berbincang disela kesibukannya sebagai MC. Kejadian serupa juga terjadi saat mudik ke kampung halaman. Teman SD dan SMP mengomentari penampilan saya yang awet muda.
Keputusan untuk diet bukan tanpa sebab. Suatu malam, saya tidak bisa bangkit dari tempat tidur. Setelah dibawa ke klinik, didiagnosa potensi pelemakan hati. Tubuh terlalu banyak lemak, sehingga organ vital terganggu.
Dua tahun berusaha konsisten, menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat. Bobot kembali ideal, efek tak terduga adalah dikomentari teman lama. Padahal niat diet itu semata-mata untuk kesehatan.
Dari dua kejadian bertolak belakang itu, saya bertanya pada diri sendiri. Apakah orang gemuk boros di wajah?
Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan