7 Tugu viral jadi maskot daerah, sorotan macan putih Kediri hingga rajawali 20 ton

Ringkasan Berita:

  • Pembangunan ikon patung seperti hewan menjadi viral di sejumlah daerah
  • Terbaru, patung macan putih di Kediri menggugah perhatian kalayak umum
  • Selain itu, ada juga patung yang menyita daya tarik karena keindahan seninya di Wonosobo

– Sejumlah daerah di Indonesia belakangan viral di media sosial karena ikon tugu dan patung yang menjadi maskot baru wilayahnya.

Bacaan Lainnya

Tidak sedikit yang dipuji lantaran estetika dan maknanya, tetapi sejumlah lain menjadi sorotan publik karena anggaran pembangunan yang besar atau persepsi anggaran yang tidak proporsional dibandingkan hasilnya.

Berikut tujuh patung yang sempat menjadi perbincangan:

1. Tugu Biawak – Desa Krasak, Wonosobo (Jawa Tengah)

Mengutip TribunJateng, Tugu Krasak Menyawak atau Tugu Biawak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, dipastikan tidak menggunakan dana APBD maupun dana desa. 

Pembangunannya dibiayai melalui CSR BUMD Kabupaten Wonosobo serta swadaya masyarakat, termasuk gotong royong dan konsumsi selama proses pembangunan.

Kepala Desa Krasak, Supinah, dan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat sama-sama menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menganggarkan proyek ini melalui APBD.

Pemkab justru mendorong dukungan BUMD untuk mewujudkan aspirasi masyarakat. Bupati mengapresiasi karya tersebut karena dinilai berhasil mengangkat nama Wonosobo secara nasional.

Tugu ini digarap oleh Arianto, seniman asli Wonosobo lulusan ISI Surakarta yang sebelumnya dikenal sebagai pelukis dan kemudian belajar seni patung secara otodidak.

Arianto enggan menyebut nilai pasti biaya pembangunan, bahkan menyebut isu Rp50 juta terlalu besar jika dibandingkan dengan kondisi riil pengerjaan yang dilakukan dengan dana terbatas.

Demi menghasilkan karya realistis, ia bahkan membeli dan mengobservasi biawak asli agar patung memiliki “ruh” atau jiwa.

Pembangunan tugu diinisiasi oleh pemuda Karang Taruna Desa Krasak. Nama Tugu Krasak Menyawak diambil dari bahasa Jawa, “menyawak” yang berarti biawak.

Patung ini merepresentasikan fauna endemik biawak yang sejak lama hidup di aliran Sungai Serayu, tepatnya di sekitar Jembatan Menyawak, sekitar 100 meter dari lokasi tugu.

Selain nilai ekologis, lokasi tugu juga memiliki nilai sejarah, karena menjadi saksi pertempuran pada peristiwa Agresi Militer Belanda I.

Secara fisik, patung biawak ini memiliki tinggi sekitar 7 meter dan lebar 4 meter, menampilkan biawak berwarna hitam kekuningan yang sedang merayap di atas batu.

2. Patung Rajawali – Desa Cipaat, Indramayu (Jawa Barat)

Sementara diberitakan Tribun Jabar, Patung Rajawali di Desa Cipaat, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, menjadi viral karena tampilannya yang realistis dan gagah serta dibangun dengan anggaran relatif efisien sebesar Rp180 juta.

Dari total biaya tersebut, Rp100 juta berasal dari anggaran desa, sementara Rp80 juta lainnya merupakan dana pribadi kepala desa.

Patung setinggi sekitar 9 meter, dengan lebar sayap 10 meter dan berat mencapai 20 ton, kini menjadi kebanggaan Desa Cipaat dan menarik kunjungan warga dari luar daerah.

Karya ini sepenuhnya dibuat oleh enam seniman lokal, termasuk warga asli desa, dan diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan.

Kemiripan dengan rajawali asli membuat patung ini menuai apresiasi luas dari warganet dan memperkuat posisinya sebagai ikon baru Desa Cipaat.

3. Tugu Penyu , Alun-Alun Gadobangkong, Sukabumi (Jawa Barat)

Artikel lain Tribun Jabar menuliskan, Patung penyu di Alun-alun Gadobangkong, Palabuhanratu, Sukabumi, viral setelah rusak dan bagian dalamnya terlihat seperti kardus, memicu dugaan penyimpangan anggaran.

Pihak rekanan proyek, Imran Firdaus, menegaskan biaya pembuatan ornamen penyu hanya sekitar Rp 30 juta, bukan miliaran rupiah.

Ia menjelaskan, patung dibuat dari resin dan fiberglass, sementara kardus dan bambu yang terlihat hanyalah alat bantu cetakan, bukan struktur utama.

Kerusakan dipercepat oleh pengunjung yang memanjat patung serta gelombang pasang setinggi 2,5–3 meter pada Maret 2024, yang menghantam kawasan pesisir.

Terkait audit BPK, ditemukan kekurangan volume pekerjaan dan denda keterlambatan dengan total sekitar Rp 1 miliar yang telah dikembalikan ke negara.

Imran menegaskan nilai proyek Alun-alun Gadobangkong sekitar Rp 15,6 miliar termasuk pajak, dan meminta pemerintah daerah serta masyarakat lebih serius dalam perawatan ruang publik tersebut.

4. Tugu Pesut Mahakam – Samarinda (Kalimantan Timur)

Tribun Kaltim mengabarkan, Tugu Pesut Mahakam di Simpang Mall Lembuswana, Samarinda, telah menjadi ikon baru Kota Samarinda.

Tugu ini menampilkan siluet Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam yang terancam punah, sebagai simbol pelestarian fauna dan identitas kota.

Tugu setinggi 8 meter berwarna merah ini merupakan hasil revitalisasi Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha, dibangun dari konstruksi baja berlapiskan kabel plastik daur ulang.

Proyek ini menelan anggaran Rp 1,1 miliar yang bersumber dari APBD Samarinda 2024.

Selain sebagai elemen estetika kota, kawasan tugu dilengkapi fasilitas publik seperti lampu sorot, jalur pejalan kaki, dan area hijau, dengan harapan mampu menarik wisatawan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pelestarian Pesut Mahakam.

5. Patung Gajah – Gresik (Jawa Timur)

Mengutip dari Tribun Travel, patung gajah di Simpang Lima Sukorame, Gresik, viral di media sosial karena bentuknya tidak lazim—tanpa mata dan telinga—sehingga memicu kritik warga yang menilai desainnya jauh dari wujud gajah pada umumnya. 

Patung ini berada di titik strategis yang menghubungkan lima ruas jalan utama di pusat kota Gresik.

Proyek landmark tersebut disebut menelan anggaran sekitar Rp 900 juta hingga hampir Rp 1 miliar, yang sepenuhnya dibiayai PT Petrokimia Gresik melalui kerja sama dengan Pemkab Gresik.

Anggaran itu tidak hanya untuk patung gajah, tetapi juga pembangunan dua landmark di kawasan sekitar, termasuk biaya tenaga dan material, tanpa pembelian lahan.

PT Petrokimia Gresik bertindak sebagai pelaksana proyek dengan menggandeng rekanan, sementara desain patung dan tata letak berasal dari Pemkab Gresik melalui konsultan yang ditunjuk. Hingga saat itu, proyek belum diserahterimakan ke Pemkab Gresik karena masih dalam tahap verifikasi dan penyempurnaan pengerjaan.

6. Patung Presiden Jokowi “Juma Jokowi” – Karo (Sumatera Utara)

Patung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menjadi ikon baru di kawasan perbukitan Desa Kuta Mbelin, Kecamatan Laubaleng.

Dibangun secara swadaya masyarakat dan donatur, anggarannya mencapai sekitar Rp2,5 miliar.

Masyarakat mendirikan monumen ini sebagai bentuk penghargaan atas pembangunan infrastruktur jalan yang meningkatkan konektivitas wilayah mereka. 

Patung ini tidak hanya menjadi objek foto tetapi juga simbol perwujudan syukur dan kerja sama masyarakat dalam menghormati figur nasional yang punya dampak nyata dalam pembangunan lokal.

7. Patung Macan Putih – Desa Balongjeruk, Kediri (Jawa Timur)

Tribun Kediri menyampaikan, Patung Macan Putih di simpang tiga Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, kini menjadi ikon baru desa yang viral di media sosial karena bentuknya yang unik dan berbeda dari bentuk harimau putih pada umumnya. 

Warga pun ramai berdatangan untuk melihat langsung monumen ini serta berfoto di sekitarnya. 

Patung ini dibangun berdasarkan legenda lokal Macan Putih yang dipercaya sebagai simbol penjaga atau danyang desa, sebuah cerita turun-temurun yang diceritakan oleh tokoh masyarakat dan orang tua di desa tersebut. 

Pemilihan ikon ini melalui musyawarah warga dan perangkat desa sebagai upaya mengangkat kembali cerita tradisional itu dalam bentuk monumen fisik. 

Berbeda dengan sejumlah patung viral lain yang jadi sorotan karena anggaran besar, pembangunan Patung Macan Putih tidak menggunakan dana desa atau APBD sama sekali.

Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menegaskan bahwa semua biaya berasal dari kantong pribadinya sendiri, yakni sekitar Rp3,5 juta. Dana ini mencakup Rp2 juta untuk upah pematung dan Rp1,5 juta untuk material pembuatan patung. 

Angka tersebut menjadi bahan perbincangan media sosial bukan karena besar, melainkan karena hasil visual patung yang dinilai jauh dari gambaran harimau putih sesungguhnya.

Banyak netizen membandingkan bentuknya lebih mirip zebra, kuda nil, atau badak, bahkan meski disertai komentar bernada humor. 

Safi’i menyatakan bahwa meskipun wujud patung belum ideal, semua kritik dan saran ditampung sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan di masa depan.

Ia juga menyebutkan bahwa viralnya patung tersebut membawa kunjungan warga dari luar daerah yang berdampak pada potensi ekonomi lokal, meskipun fasilitas seperti area UMKM di sekitar ikon tersebut belum optimal.

(/ Chrysnha)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *