Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Pasar Ngasem merupakan satu di antara destinasi kuliner ikonik di Jogja atau Yogyakarta.
- Pasar ini beroperasi sejak pagi hari hingga menjelang siang, mnghadirkan beragam jajanan tradisional yang menggugah selera.
- Bukan sekadar untuk menikmati hidangan, tetapi juga merasakan hangatnya suasana sarapan khas Jogja yang sederhana namun penuh kenangan.
– Pasar Ngasem merupakan satu di antara destinasi kuliner ikonik di Jogja atau Yogyakarta.
Pasar ini beroperasi sejak pagi hari hingga menjelang siang.
Menghadirkan beragam jajanan tradisional yang menggugah selera.
Tak heran jika wisatawan lokal maupun mancanegara rela menyempatkan waktu datang ke sini.
Bukan sekadar untuk menikmati hidangan, tetapi juga merasakan hangatnya suasana sarapan khas Jogja yang sederhana namun penuh kenangan.
Berikut 7 rekomendasi jajanan legendaris di Pasar Ngasem yang dapat anda coba:
1. Jenang
Jika kamu mengira orang Jogja sarapan biasanya hanya dengan Gudeg dan soto, kamu keliru.
Karena selain dua makanan itu, jenang juga menjadi salah satu makanan yang sering dicari di pagi hari.
Berbentuk bubur kental dan bertekstur lengket.
Terbuat dari tepung beras atau tepung ketan yang dimasak bersama santan dan gula merah sehingga menghadirkan rasa manis gurih secara bersamaan.
Di pasar Ngasem ini kamu bisa menemukan banyak kios yang menjual jenang bahkan hampir di setiap sudut.
Selain sering dijajakan di pasar, Jenang juga sering hadir di berbagai upacara adat seperti selamatan, pernikahan ataupun pesta rakyat.
Kamu bisa membeli jenag dengan kisaran harga sepuluh sampai lima belas ribu perporsi.
2. Wingko Babat
Banyak orang mengenal Wingko Babat adalah makanan khas Semarang namun sebenarnya ia lahir dari Lamongan.
Teksturnya yang padat namun lembut dan sedikit kenyal, memadukan rasa manis gula dan gurih kelapa membuat setiap orang yang memakannya ketagihan dan ingin lagi.
Wingko Babat dibuat dengan cara dipanggang hingga luarnya sedikit kecokelatan, yang kemudian menghadirkan aroma yang khas nan menggugah selera.
Dimakan saat masih hangat adalah cara paling nikmat untuk menyantapnya.
Kamu juga dapat menemukan banyak kios yang menjual wingko babat dan bisa membelinya satuan atau dalam jumlah banyak dengan harga kisaran Rp 2.000-3.000 ribu per biji.
3. Sosis Solo
Sesuai dengan namanya, sosis solo lahir dari Solo. Secara historis, ia muncul dari hasil akulturasi budaya Jawa dan Belanda.
Oleh karena itu meski namanya sosis namun bentuknya tak sama seperti sosis yang kita kenal hari ini.
Sosis yang diperkenalkan bangsa Belanda diolah oleh masyarakat Solo pada masa itu dengan selera lokal.
Isiannya terdiri dari daging cincang ayam maupun sapi lalu dibumbui dengan rempah rempah seperti bawang dan lain sebagainya.
Dan kulitnya pun tidak sama dengan sosis ala Belanda.
Jika sosis yang biasa kulitnya terbuat dari selongsong usus, maka sosis solo dibalut dengan kulit dadar tipis terbuat dari adonan telur dan tepung.
Kemudian digoreng hingga keemasan.
Rasanya gurih dan sedikit manis namun tetap terasa rempah rempahnya.
4. Klepon
Jajanan bola bola hijau ini sudah menyebar hampir ke seluruh daerah di pulau jawa.
Jajanan ini terbuat dari tepung ketan yang diberi pewarna alami dari daun pandan atau daun suji.
Teksturnya kenyal dengan baluran parutan kelapa di luarnya, diisi dengan gula merah cair di dalamnya sehingga memberikan sensasi meletup di mulut saat digigit.
Klepon yang ada di jogja relatif lebih kecil dengan klepon yang ada di daerah lain sehingga cukup untuk satu gigitan.
5. Gethuk
Gethuk terbuat dari singkong yang direbus hingga empuk.
Kemudian ditumbuk atau dihaluskan dan dicampur dengan gula dan garam.
Biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut atau siraman gula merah cair.
Menghadirkan rasa yang legit dengan tekstur yang lembut.
Di berbagai daerah, gethuk hadir dengan beragam varian yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.
Seperti getuk goreng dari Banyumas yang singkongnya digoreng setelah direbus.
Getuk lindri yang memiliki beragam warna dan dibentuk memanjang lalu dipotong kecil kecil.
Serta masyarakat sunda yang mengenal getuk dengan sebutan gegetuk
6. Carabikang
Kue cantik ini berasal dari Semarang, Jawa Tengah.
Carabikang atau masyarakat jawa menyebut nya corobikang.
Terbuat dari adonan tepung beras, santan dan gula pasir.
Memasaknya dengan cara dibakar diatas tungku dengan menggunakan cetakan yang berbentuk bulat.
Setelah matang, carabikang dicungkil hingga permukaannya mekar seperti bunga dan menjadi ciri khas kue ini.
Selain bentuknya yang mekar seperti bunga, carabikang juga hadir dengan berbagai warna yang semakin mempercantik kue ini.
Ada hijau dari daun pandan, kuning dari nangka, coklat, dan lain sebagainya.
7. Arem arem
Sekilas arem arem tampak sama seperti lontong, namun perbedaannya ada pada isinya.
Jika lontong umumnya polos, maka arem arem berisi berbagai macam olahan lauk sederhana.
Arem arem berasal dari kebumen dan sudah menyebar ke seluruh pulau jawa.
Sehingga menghasilkan berbagai varian dengan nama yang berbeda beda.
Jika di Jogja rata rata diisi dengan olahan tempe, maka di tanah sunda mereka mengenalnya dengan nama buras dan biasanya diisi dengan sambal oncom atau sayur wortel dan labu hijau.
Serta biasanya memiliki ukuran lebih besar daripada arem arem.
Jika kue-kue tradisional lain umumnya hanya disantap masyarakat Jawa pada pagi hari, sementara masyarakat Sunda cenderung menikmatinya pada siang atau sore hari.
Arem-arem dan sejenisnya justru memiliki kesamaan dalam waktu penyajian, yaitu sama-sama dikonsumsi pada pagi hari.
Mungkin karena terbuat dari nasi sehingga masyarakat sepakat untuk menjadikannya ide sarapan yang praktis karena banyak yang menjualnya di pagi hari.
(MG/FatimahZahra)







