7 Alasan yang Harus Dibuang untuk Membangun Mental Tak Terkalahkan, Menurut David Goggins

 –Dalam dunia pengembangan diri, sangat jarang tokoh yang membahas ketangguhan mental sekuat David Goggins.

Mantan anggota Navy SEAL dan atlet ultra-endurance tersebut terkenal tidak hanya karena prestasi fisiknya yang luar biasa, tetapi juga karena kekuatannya dalam menjaga prinsip: jangan biarkan alasan menguasai kehidupan Anda.

Bacaan Lainnya

Lachlan Brown, pendiri The Expert Editor, telah lama mengamati cara berpikir para tokoh yang memotivasi, dan Goggins merupakan salah satu dari mereka.

Menurut Brown, keunggulan Goggins tidak hanya terletak pada kemampuannya untuk berlari ratusan kilometer atau melakukan ribuan pull-up, tetapi juga pada metode yang digunakannya untuk mengabaikan alasan-alasan kecil yang biasanya membuat banyak orang menyerah sebelum menghadapi tantangan sesungguhnya.

Filosofi tersebut juga yang mendorong Brown untuk menulis ulang pemahaman mengenai pikiran sehari-hari.

Menurutnya, hambatan terbesar yang dialami manusia tidak selalu berasal dari luar, melainkan dari percakapan internal yang secara diam-diam kita biarkan membatasi diri sendiri.

Dikutip dari The Expert Editor, berikut tujuh alasan paling umum yang seharusnya dihilangkan menurut David Goggins—dan bagaimana Lachlan Brown mengartikannya dalam kehidupan sehari-hari.

1. “Saya tidak merasa memiliki semangat”

Di hampir semua sesi wawancara, Goggins menekankan bahwa motivasi merupakan salah satu bentuk energi yang paling tidak tetap.

Brown mengakui pernyataan tersebut benar. Motivasi bersifat sementara—muncul saat suasana hati sedang baik, dan hilang ketika hari terasa buruk.

Goggins senantiasa menekankan pentingnya disiplin, bukan sekadar motivasi. Dan Brown sendiri pernah mengalami hal ini ketika ia masih berstatus sebagai penulis pemula.

Ia sering mengatakan bahwa ia akan menulis lebih banyak ketika inspirasi muncul. Namun, inspirasi tersebut jarang datang. Karyanya pun menjadi terhambat.

Saat dia memutuskan untuk menyusun jadwal menulis harian, segalanya berubah. Dia tidak selalu merasa ingin duduk dan mengetik, namun kebiasaan itulah yang menghasilkan semangat. Semangat tersebut jauh lebih kuat daripada motivasi.

Seperti yang diungkapkan Goggins, Anda tidak memerlukan dorongan untuk memulai, cukup dengan tindakan kecil. Disiplin akan membantu Anda terus berlanjut bahkan setelah motivasi menghilang.

2. “Saya tidak memiliki waktu”

Alasan ini sering kali diucapkan, dan menurut Goggins, hal ini juga yang paling menyesatkan. Brown mengingat satu prinsip sederhana dari ajaran Buddha yang pernah ia pelajari: introspeksi yang jujur.

Ketika seseorang berkata “Saya tidak punya waktu,” biasanya bukan berarti dia benar-benar kekurangan waktu, melainkan karena prioritasnya tidak sejalan.

Kita menghabiskan waktu di ponsel, bersosialisasi tanpa tujuan, atau terjebak dalam kegiatan yang tidak berarti, lalu merasa waktu berlalu tanpa disadari. Goggins berkata: “Kamu memiliki waktu. Kamu hanya memilih hal lain.”

Brown menyadari hal ini ketika ia mulai mengatur jadwal harianya. Ia menemukan bahwa sering kali ada waktu yang terbuang di antara kegiatan yang sebenarnya dapat dipangkas.

Latihan selama 20 menit, meditasi selama 10 menit, atau menulis satu halaman—semua aktivitas ini mungkin dilakukan jika seseorang berani mengakui bahwa waktu bukanlah hambatan, melainkan komitmen.

Saat waktu kembali berada di tangan Anda, kekuatan diri juga berkembang. Dan hal ini merupakan dasar pertama menuju ketahanan mental yang lebih besar.

3. “Saya terlalu lelah”

Kelelahan memang nyata, tetapi Goggins menegaskan bahwa kebanyakan orang berhenti jauh sebelum tubuh mereka benar-benar sampai pada batasnya.

Ia menyebutnya aturan 40 persen: ketika pikiran mengatakan Anda telah selesai, sesungguhnya Anda baru memanfaatkan 40 persen kemampuan Anda.

Brown juga pernah mengalami hal ini saat berlari. Pernah ada masa ketika setiap langkah terasa sulit, napas terasa tersengal, dan suara kecil di dalam pikirannya berkata, “Berhenti saja.”

Namun, lima menit setelahnya, ketika ia memutuskan untuk terus bergerak, tubuhnya menemukan irama yang berbeda.

Ini membuatnya berspekulasi: apakah ia benar-benar lelah, atau hanya ingin menghindari ketidaknyamanan?

Ketidaktahuan sering kali menjadi alasan untuk rasa lelah dan penundaan. Pertanyaan sederhana bisa mengubah sehari penuh dengan perubahan yang signifikan:

“Apakah saya benar-benar lelah secara fisik, atau pikiran saya yang mulai menyerah?” Pada umumnya, jawabannya terlihat jelas.

4. “Saya akan memulai dari besok”

Jika semangat adalah teman yang tidak bisa diandalkan, maka besok merupakan sahabat yang senang menunda janji. Menunda adalah cara paling lembut untuk merusak diri sendiri.

Berdasarkan pendapat Goggins, setiap kali Anda menunda tindakan yang Anda pahami harus dilakukan, Anda sedang membentuk otak untuk melemahkan kemampuan Anda dalam membuat keputusan.

Esok berubah menjadi minggu depan, kemudian menjadi tahun berikutnya, hingga akhirnya kehidupan terasa tidak bergerak.

Brown mengingat salah satu ajaran kesukaannya dalam filsafat Timur: segala sesuatu yang nyata hanya terjadi pada saat sekarang. Tidak ada tindakan nyata yang bisa terjadi besok—masa depan hanyalah anggapan.

Oleh karena itu, apa pun yang ingin Anda mulai hari ini, mulailah dengan langkah terkecil yang mungkin. Tidak perlu ekstrem, tidak perlu sempurna. Yang utama adalah tindakan pada hari ini, bukan janji untuk besok.

Kekuatan berkembang dari situasi yang sedang dihadapi saat ini, bukan dari rencana masa depan.

5. “Saya belum cukup memadai”

Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Ini merupakan alasan yang paling berbahaya karena terdengar seperti pendapat yang masuk akal. Padahal, hal ini merupakan bentuk ketidakpercayaan diri yang paling merusak. 2. Alasan ini sangat berbahaya karena terdengar seperti pemikiran yang realistis. Padahal, itu adalah wujud keraguan diri yang paling merusak. 3. Ini adalah alasan yang paling berbahaya karena terdengar seperti suara yang logis. Padahal, ini merupakan bentuk ketidakpercayaan diri yang paling merusak. 4. Hal ini menjadi alasan yang paling berbahaya karena terdengar seperti pendapat yang rasional. Padahal, ini adalah wujud keraguan diri yang paling merusak. 5. Ini adalah alasan yang paling berbahaya karena terdengar seperti suara yang realistis. Padahal, itu merupakan bentuk ketidakpercayaan diri yang paling merusak.

Goggins berkembang di lingkungan yang penuh dengan cedera dan keterbatasan, namun ia memutuskan untuk tidak membiarkan cerita masa lalu mengatur arah hidupnya.

Brown juga memiliki pengalaman yang serupa ketika ia pertama kali mempublikasikan tulisannya secara online atau memulai usahanya. Selalu muncul bisikan kecil yang meragukan kemampuannya: Siapa kamu untuk melakukan ini?

Namun kemampuan tidak muncul dari keyakinan—kemampuan didapat melalui latihan. Kepercayaan diri berkembang dari pengalaman. Dan kelayakan lahir dari keberanian untuk hadir, bukan dari kesempurnaan.

Anda tidak perlu sangat mahir untuk memulai. Anda akan menjadi cukup mahir karena Anda mulai.

6. “Waktu ini tidak sesuai”

Tidak pernah ada saat yang sempurna untuk melakukan hal yang sulit. Selalu ada tekanan dari pekerjaan, masalah keluarga, atau rasa cemas yang muncul dan hilang.

Brown pernah menunggu saat yang “lebih tenang” untuk menjalani proyek penting. Namun, saat itu tidak pernah datang. Kehidupan justru semakin sibuk dan kacau.

Ia akhirnya menyadari hal yang juga diajarkan Goggins: menunggu momen yang sempurna merupakan bentuk penghindaran yang tersembunyi. Jika Anda hanya bergerak ketika keadaan benar-benar ideal, maka Anda tidak akan pernah bergerak sama sekali.

Anda tidak memerlukan kondisi sempurna. Anda hanya perlu keberanian untuk memulai dari situasi yang sedang Anda alami saat ini—karena inilah titik awal satu-satunya yang benar-benar ada bagi siapa pun.

7. “Saya tidak mampu melakukan hal itu”

Alasan terakhir ini merupakan yang paling terbatas karena berkaitan dengan identitas, bukan kondisi.

Banyak orang menganggap bahwa usia, latar belakang, pengalaman, atau sifat mereka membuat mereka tidak mampu meraih sesuatu yang hebat.

Goggins menunjukkan bahwa identitas bersifat fleksibel, bukan sesuatu yang tetap. Di sisi lain, Brown mengaitkannya dengan konsep Buddhisme yang disebut anatta, yang berarti “tanpa diri yang tetap.”

Menurut perspektif ini, manusia bukanlah makhluk yang tetap, melainkan proses yang terus berkembang.

Saat seseorang berhenti mengatakan “Saya bukan tipe orang yang disiplin,” atau “Saya bukan orang yang percaya diri,” maka saat itulah terbuka kesempatan baru untuk perubahan.

Identitas bukanlah sebuah kandang. Ia merupakan bahan dasar yang siap diubah bentuknya.

Kadang-kadang rasa aman terasa nyaman. Mereka melindungi dari perasaan gagal, malu, atau tidak nyaman. Namun, alasan juga bisa membuat kehidupan menjadi sempit. Mereka menciptakan dinding tak terlihat di sekitar potensi seseorang.

Berdasarkan pendapat Lachlan Brown, inti dari pendekatan David Goggins bukanlah menjadi seseorang yang tidak beremosi. Justru, hal ini berkaitan dengan memulihkan kendali pikiran dari cerita-cerita yang melemahkan Anda.

Ketika tujuh alasan ini mulai ditinggalkan, perubahan terjadi. Kepercayaan diri berkembang. Tindakan menjadi lebih cepat.

Negosiasi dengan keraguan diri semakin berkurang. Dan momentum mental berkembang—kekuatan yang sulit tergulingkan di bawah tekanan.

Kemampuan mental tidak muncul dalam semalam. Ia lahir dari keputusan jujur yang diambil secara berulang kali.

Anda tidak harus menjadi atlet ultra-maraton seperti Goggins untuk memiliki itu. Anda hanya perlu berhenti membuat alasan yang membatasi kehidupan Anda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *