Isi Artikel
- 1 Perkembangan Kasus Kematian Faizah Soraya yang Menimbulkan Banyak Pertanyaan
- 1.1 Pengakuan Anak Tua dan Keraguan Keluarga
- 1.2 Kejanggalan Pertama: Tidak Ada Teriakan Saat Penikaman
- 1.3 Kejanggalan Kedua: Tidak Ada Pemanggilan Warga
- 1.4 Kejanggalan Ketiga: Permintaan Minum Sebelum Kematian
- 1.5 Kejanggalan Keempat: Jumlah Luka Tikaman yang Sangat Banyak
- 1.6 Kejanggalan Kelima: Tidak Ada Luka pada Pelaku
- 1.7 Penyidikan Polisi dan Rekonstruksi TKP
- 1.8 Artikel Terkait:
Perkembangan Kasus Kematian Faizah Soraya yang Menimbulkan Banyak Pertanyaan
Kasus kematian Faizah Soraya, seorang ibu yang ditemukan tewas di rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, terus menjadi perhatian masyarakat. Kejadian ini semakin memicu ketidakpuasan dari keluarga korban karena adanya beberapa kejanggalan yang tidak bisa dijelaskan secara logis.
Pengakuan Anak Tua dan Keraguan Keluarga
Putri bungsunya, SAS alias Al, yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, mengaku sebagai pelaku pembunuhan terhadap ibunya sendiri. Namun, pengakuan tersebut justru memunculkan keraguan di kalangan keluarga besar Faizah. Salah satu anggota keluarga, Dimas, menyebutkan bahwa ada banyak hal yang tidak wajar dalam kasus ini.
Menurut Dimas, berbagai kejanggalan mulai terungkap seiring dengan berkembangnya informasi terkait kematian Faizah. Ia menyatakan bahwa keluarga tidak sepenuhnya yakin bahwa Al benar-benar menghabisi nyawa ibunya. Mereka memilih untuk menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian guna memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Kejanggalan Pertama: Tidak Ada Teriakan Saat Penikaman
Kejanggalan pertama yang diungkap Dimas adalah terkait dengan detik-detik Faizah ditikam Al. Menurut cerita Al, kejadian tersebut terjadi pada Rabu menjelang subuh, sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, Al dan kakaknya tidur bersama sang ibu. Namun, Dimas bertanya-tanya mengapa Faizah tidak berteriak sampai membangunkan suaminya.
“Apakah korban tidak melawan anaknya sendiri dan berteriak?” tanya Dimas. Hal ini membuat keluarga merasa tidak percaya dengan pengakuan Al.
Kejanggalan Kedua: Tidak Ada Pemanggilan Warga
Kejanggalan kedua yang ditemukan oleh Dimas adalah kenapa usai kejadian pukul 03.00 WIB, suami korban, Alham, tidak meminta bantuan warga. Menurut Dimas, jika suami korban cepat menangani hal tersebut, Faizah mungkin saja bisa diselamatkan.
“Dari waktu 03.00 WIB sampai ambulan datang apakah tidak ada meminta bantuan warga setempat?” tanya Dimas. Ia juga menyampaikan bahwa menurut pengakuan supir ambulan, korban masih hidup pada saat dia sampai dan masih cengap-cengap, namun tidak lama kemudian meninggal dunia.
Kejanggalan Ketiga: Permintaan Minum Sebelum Kematian
Kejanggalan ketiga yang diungkap Dimas adalah soal permintaan terakhir korban. Rupanya, saat masih hidup dan ditemukan warga, korban sempat meminta diambilkan minum. “Pada saat kejadian korban sempat meminta minum dan warga datang dan saat ambulan sampai ke rumah,” ujar Dimas.
Kejanggalan Keempat: Jumlah Luka Tikaman yang Sangat Banyak
Kejanggalan keempat yang diurai Dimas adalah perihal jumlah luka tikaman di tubuh korban. Dimas ragu keponakannya itu bisa tega menusuk ibu kandungnya puluhan kali. “Logika, ini adek masih kelas 6 SD bukan SMP ya kawan2 dan luka tusuk ada 20 tusukan logika aja gak teriak mamaknya klo gak dibekap,” kata Dimas.
Kejanggalan Kelima: Tidak Ada Luka pada Pelaku
Lalu kejanggalan kelima, Dimas heran kenapa tidak ada luka pada terduga pelaku yakni Al. Malahan yang punya luka setelah insiden tersebut adalah kakaknya terduga pelaku. “Tidak ada luka di tangan Al (pelaku) dan yang ada luka di tangan kakaknya,” ujar Dimas.
Penyidikan Polisi dan Rekonstruksi TKP
Sementara itu, terkait dengan perkembangan kasus dugaan anak bunuh ibu, polisi mengurai perkembangan. Penyidik telah melakukan rekonstruksi di TKP pembunuhan dengan menghadirkan terduga pelaku yakni Al, kakaknya dan juga sang ayah, Alham. Sebelumnya, Al sempat dibawa penyidik Polresta Medan untuk diperiksa secara intensif.
Dalam olah TKP tersebut, Al didampingi oleh KPAI serta keluarga. “Pelaku sudah dibawa ke Polrestabes Medan, hingga kini masih proses pendalaman dan pemeriksaan dengan pendampingan,” pungkas Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto.






