DALAM beberapa tahun terakhir, tren microretirement telah berkembang pesat di kalangan Gen Z dan milenial. Tren gaya hidup baru ini menjadi solusi perjalanan baru bagi kalangan tersebut untuk menjelajah dunia. Sejumlah destinasi global semakin populer karena tren microretirement.
Microretirement merupakan jeda karier yang direncanakan, yang berlangsung dari beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun. Jeda ini sering dilakukan beberapa kali, bahkan sebelum usia pensiun pada umumnya. Tujuannya adalah untuk menghindari kelelahan atau mempersiapkan diri sebelum perubahan karier atau kehidupan.
Andrew Harrison-Chinn, kepala pemasaran (CMO) Dragonpass, mengatakan generasi muda lebih mengutamakan kesejahteraan dan pengalaman dibandingkan kemajuan karier konvensional. “Pola kerja pun telah bergeser, dengan semakin banyaknya posisi hybrid, kerja jarak jauh, serta karier berbasis portofolio memungkinkan jeda atau pinda sementara,” ujarnya seperti dilansir dari Euronews.
Perjalanan lebih fleksibel
Sementara dalam konteks perjalanan, microretirement menjadi momen bagi pelancong untuk merasakan perjalanan yang lebih fleksibel, bisa menikmati pengalaman budaya otentik. Hal-hal seperti itu hanya dapat diperoleh melalui perjalanan panjang dan keuangan yang lebih memadai.
Faktor utama di balik tren ini antara lain aktualisasi diri, rasa takut kehilangan, pemulihan dari kelelahan, serta mencari keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan, yang pada akhirnya juga dapat memberikan manfaat produktivitas.
Berbeda dengan cuti panjang, perjalanan ini umumnya dibiayai secara mandiri tanpa rencana pasti untuk kembali ke pekerjaan atau jalur karier sebelumnya. Tidak jarang, jeda ini dikombinasikan dengan pekerjaan lepas, jarak jauh, atau paruh waktu sambil merencanakan langkah karier berikutnya.
Menurut Harrison-Chinn, ciri khas perjalanan ini memiliki itinerary yang lebih panjang dan santai, perencanaan yang fleksibel, serta pemilihan destinasi berdasarkan gaya hidup, konektivitas, dan akses terhadap wellness. “Wisatawan tidak hanya mempertimbangkan tujuan perjalanan, tetapi juga bagaimana keseluruhan pengalaman terasa, termasuk di bandara,”
Berdasarkan data platform rekrutmen Joveo, lebih dari 10 persen pekerja mempertimbangkan microretirement pada pertengahan 2025. Survei lain oleh SideHustles.com menunjukkan bahwa 54 persen responden meyakini tren tersebut dapat mencegah kelelahan kerja. Hal tersebut pun memicu lonjakan popularitas sejumlah destinasi global sebagai tujuan microretirement.
Berikut ini destinasi microretirement yang mencakup kombinasi pusat kesehatan, petualangan, budaya, serta fasilitas bagi digital nomad.
1. Bangkok
Bangkok termasuk salah satu kota terbaik, karena biaya hidup yang relatif rendah dibandingkan kota-kota besar di Eropa dan wilayah lain. Namun tetap menyediakan layanan esensial berkualitas tinggi dan terjangkau, termasuk fasilitas kesehatan. Hal ini mendorong masa tinggal yang lebih panjang dan mendalam serta mengurangi tekanan finansial sambil merencanakan langkah selanjutnya.
Pelancong dapat menikmati kekayaan budaya Thailand yang berusia ratusan tahun, mulai dari kuil-kuil tenang hingga pasar malam yang ramai, sembari mencicipi aneka kuliner jalanan. Tak ketinggalan singgah di pusat perbelanjaan seperti IconSiam untuk terapi belanja, dilanjutkan dengan kapal pesiar santai di sepanjang sungai.
Untuk relaksasi dan penyegaran, kota ini memiliki berbagai pusat yoga, meditasi, dan spa. Bangkok juga berfungsi sebagai pintu gerbang terjangkau bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi Thailand atau kawasan Asia Tenggara lain selama periode microretirement.
2. Hanoi
Ibu kota Vietnam ini menawarkan suasana serupa di Bangkok. Beberapa kawasan di kota ini mudah dijelajahi dengan berjalan kaki, dengan cuaca yang relatif lebih sejuk berkat keberadaan danau-danau dibandingkan pusat kota lain di Asia Tenggara. Biaya hidup yang sangat rendah, ditambah internet berkualitas serta infrastruktur memadai, didukung komunitas ekspatriat yang ramah dan berbagai grup media sosial aktif.
Selama di Hanoi, pelancong dapat menjelajahi sejarah kota yang dipengaruhi perpaduan kompleks antara Asia Tenggara dan Prancis, menikmati kuliner jalanan pho, bun cha (patties babi panggang dengan mie vermicelli), serta egg coffee. Untuk pengalaman makan yang unik, kunjungi Train Street dengan deretan kafe di sepanjang rel kereta.
3. Lisbon
Daya tarik Lisbon bagi pelancong microretirement antara lain lokasi yang strategis di Eropa, cuaca cerah, tingkat keamanan tinggi, serta kekayaan budaya. Kota ini juga menyediakan layanan kesehatan berkualitas dengan biaya terjangkau, serta lebih ekonomis dibandingkan kota-kota besar Eropa lain seperti London, Paris, dan Dublin.
Seperti Hanoi, Lisbon mudah dijelajahi dengan berjalan kaki, didukung transportasi umum yang baik seperti bus, kereta, dan metro, serta akses ke komunitas profesional dan lokal yang berbahasa Inggris. Jelajahi kawasan bersejarah seperti Alfama dan Belém, atau pusat kota Baixa serta Bairro Alto untuk nuansa lebih trendi dan modern. Cicipi hidangan tradisional seperti bifana (sandwich babi), bacalhau (masakan ikan kod asin), serta pastéis de Nata (tart custard).
4. Budapest
Kota ini menawarkan kuliner, akomodasi, serta hiburan berkualitas tinggi dengan harga jauh lebih terjangkau dibandingkan Eropa Barat, dilengkapi transportasi umum yang baik serta fasilitas kesehatan memadai. Kagumi keindahan arsitektur di situs ikonik seperti Buda Castle, Fisherman’s Bastion, Gedung Parlemen Hongaria, dan Basilika St. Stephen. Jelajahi Heroes’ Square atau Jewish Quarter.
5. Tashkent
Meski sering kurang diperhatikan dibandingkan destinasi populer di Eropa dan Asia Tenggara, Tashkent kini muncul sebagai tujuan microretirement di Asia Tengah yang menjanjikan. Terjangkau dan sarat sejarah, kota ini memiliki suasana hidup yang dinamis namun khas, didukung layanan digital serta transportasi yang baik.
Tashkent menggabungkan warisan Jalur Sutra kuno dengan infrastruktur modern serta arsitektur menarik, sekaligus memudahkan akses ke wilayah Asia Tengah lainnya. Kota ini tetap aman dan ramah bagi pendatang baru, dengan ritme kehidupan yang lebih lambat ideal untuk refleksi, relaksasi, serta inspirasi kreatif.







