Isi Artikel
Fenomena Siklon Tropis di Wilayah Indonesia
Belakangan ini, wilayah Indonesia mengalami peningkatan jumlah Bibit Siklon Tropis yang muncul. Terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya dua bibit siklon, yaitu 91S dan 93S pada Jumat (12/12/2025). Sebelumnya, BMKG juga menemukan Bibit Siklon Tropis 91S serta Siklon Tropis Senyar pada November lalu.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa secara klimatologis, wilayah Indonesia seharusnya tidak mendukung pembentukan siklon tropis. “Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” ujarnya.
Fenomena tak biasa ini memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Jika tidak dikelola dengan tepat, bisa berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung.
Faktor Penyebab Munculnya Bibit Siklon Tropis
Menurut Prakirawan TCWC Jakarta BMKG, Azhari Putri Cempaka, penyebab munculnya bibit siklon tropis di dekat wilayah Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pola musim siklon tahunan di utara dan selatan Indonesia yang sedang dalam fase beririsan antara akhir musim di utara dan awal musim di selatan.
Selain itu, kondisi atmosfer laut saat ini juga mendukung pembentukan gangguan siklon tropis. Berikut ini adalah faktor-faktor utama:
- Faktor Musiman
Berdasarkan data kejadian siklon tropis periode 1980–2024, di utara Indonesia, November masih termasuk bulan aktif dengan total 134 kejadian selama 44 tahun. Aktivitas maksimum terjadi pada Juli–Oktober dan mulai menurun pada November–Desember. Meski turun, aktivitas masih cukup tinggi untuk menghasilkan beberapa bibit siklon sekaligus.
Sementara itu, di selatan Indonesia, musim siklon tropis berlangsung pada November–April dengan puncak pada Desember–Maret. Data menunjukkan bahwa di selatan Indonesia, November tercatat 30 kejadian selama 44 tahun, lalu meningkat tajam pada Desember menjadi 74 kejadian, dan mencapai nilai tertinggi pada Januari–Februari.
-
Kondisi Laut
Kondisi laut yang hangat dan lembab, khususnya di sekitar wilayah Indonesia, memberikan energi dan uap air yang melimpah untuk pembentukan awan konvektif skala luas dan sistem tekanan rendah. Situasi ini diperkuat oleh fenomena seperti La Nina lemah di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase negatif di Samudra Hindia. -
Gelombang Atmosfer Ekuator
Gelombang atmosfer ekuator seperti Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin/Rossby ekuator yang sedang aktif juga dapat memodulasi daerah dengan pertumbuhan awan yang lebih intens. Hal ini mempermudah terbentuknya lebih banyak bibit siklon dalam satu kurun waktu.
Apa Itu Siklon Tropis?
Siklon Tropis adalah badai dengan kekuatan besar dengan radius mencapai 150 hingga 200 kilometer. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas dan umumnya memiliki suhu permukaan air laut yang hangat, lebih dari 26,5 derajat Celsius. Angin kencang berputar di dekat pusatnya dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam.
Secara teknis, siklon tropis didefinisikan sebagai sistem tekanan rendah non-frontal yang berskala sinoptik dan tumbuh di atas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif. Kecepatan angin maksimum mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya enam jam.
Di pusat siklon tropis, terbentuk wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut mata siklon. Diameter mata siklon berkisar antara 10 hingga 100 km yang dikelilingi dengan dinding mata berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km. Masa hidup rata-rata siklon tropis berkisar antara 3 hingga 18 hari.
Dampak Siklon Tropis
Siklon Tropis dikenal dengan berbagai istilah, seperti “badai tropis” atau “typhoon” atau “topan” jika terbentuk di Samudra Pasifik Barat. Jika terbentuk di Samudra Atlantik, disebut sebagai “siklon” atau “cyclone” jika terbentuk di sekitar India atau Australia, dan “hurricane”.
Fenomena ini secara tidak langsung memicu cuaca ekstrem di Indonesia. Berikut dampak yang sering terjadi:
- Banjir
- Tanah longsor
- Pohon tumbang
- Kerusakan bangunan
- Gelombang tinggi







