Isi Artikel
Penyidikan Kasus Kematian Debt Collector di Kalibata Memasuki Babak Baru
Penyidikan kasus kematian dua anggota mata elang atau debt collector berinisial MET dan NAT di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, memasuki babak baru setelah sejumlah temuan penting berhasil diungkap oleh aparat. Tiga fakta terbaru yang terkuak justru membuat kasus ini semakin memantik perhatian publik.
Kasus ini semakin menarik setelah adanya temuan keterlibatan enam anggota polisi yang kini turut terseret dan sudah ditetapkan menjadi tersangka. Fakta lain yang terungkap adalah keterangan saksi di lokasi kejadian yang menyebut ada suara tembakan terdengar saat kejadian berlangsung. Polisi terus menggali rangkaian peristiwa sebelum korban ditemukan tak bernyawa, termasuk memeriksa ulang kronologi dan mengamankan bukti tambahan di tempat kejadian perkara. Penelusuran mendalam ini diharapkan dapat menjawab berbagai kejanggalan yang sejak awal membayangi kasus tersebut.
Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly mengatakan, kejadian bermula saat kedua korban berinisial MET dan NAT hendak menagih biaya cicilan motor.
“Berawal dari adanya mata elang mau menagih kendaraan sepeda motor, yang indikasinya belum bayar kredit,” kata Nicolas, Jumat (12/12/2025).
Namun, pengendara motor yang ditagih tersebut tidak terima dengan perlakuan debt collector. Pemotor itu kemudian memanggil teman-temannya yang diperkirakan berjumlah delapan orang. Tak berselang lama, mereka datang ke lokasi kejadian dan langsung mengeroyok kedua korban secara brutal.
“Selanjutnya kedua orang yang bertugas sebagai mata elang ini dianiaya dan dikeroyok sampai satu meninggal dunia di tempat dan satu lagi meninggal di rumah sakit,” ujar Nicolas.
Berikut beberapa fakta terbongkar dari kasus tersebut:
6 Anggota Mabes Polri Terlibat
Pelaku pengeroyokan yang menewaskan dua debt collector berinisial MET dan NAT di kawasan Kalibata, Pancoran, ada andil anggota polisi. Para pelaku merupakan anggota polisi yang berdinas di Satuan Pelayanan Markas (Yanma) Mabes Polri. Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko.
Keenam pelaku berinisial JLA, RGW, IAB, IAM, BN, dan AN kini telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Penyidik menetapkan enam orang tersangka diduga terlibat dalam rangkaian tindak pidana.

“Adapun keenam tersangka tersebut merupakan anggota dari satuan pelayanan markas di Mabes Polri,” kata Trunoyudo Wisnu Andiko saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jumat (12/12/2025) malam.
Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.
“Pasal yang disangkakan Pasal 170 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” ujar Trunoyudo.
Ada 2 Kali Tembakan
Seorang karyawan rumah makan bernama Zulfikri (22) menjadi saksi mata saat massa yang diduga berasal dari kelompok debt collector mengamuk hingga membakar motor miliknya. Aksi brutal itu dipicu tewasnya dua debt collector berinisial MET dan NAT yang sebelumnya dikeroyok sekelompok orang tak dikenal.
Zulfikri mengaku sempat mendengar dua kali suara letusan tembakan.
“Saat kejadian itu sempat ada suara tembakan ya. Kalau nggak salah sih dua kali ya,” kata Zulfikri di lokasi, Kamis (11/12/2025) malam.
Ia menduga para pelaku pengeroyokan adalah aparat penegak hukum. Hanya saja, ia belum dapat memastikannya karena para pelaku tidak mengenakan seragam dinas.

“Kalau nggak salah (pelaku) dari aparat ya. Pas kejadian sudah terjadi itu bentrok antara aparat dengan debt collector,” ungkap dia.
Menurut dia, situasi sempat mereda selepas Maghrib. Namun, massa dari kelompok debt collector kembali datang ke lokasi dengan jumlah yang lebih besar. Massa melakukan perusakan hingga pembakaran. Selain sejumlah lapak warung makan, massa juga membakar sembilan motor dan satu mobil taksi.
Ketika itu, Zulfikri memilih untuk menutup rumah makan dan bersembunyi di dalam. Ia pun harus merelakan sepeda motornya yang ludes dibakar massa.
“Itu motor yang dibakar itu motor saya, jadi tidak sempat dipindahkan, kami terjebak di dalam. Mereka itu serangnya langsung, kita tak sempat keluar selamatkan diri,” ungkap Zulfikri.
“Pas lihat motor dibakar, pasrah saja, yang penting kami di dalam itu selamat,” imbuh dia.
100 Orang Tiba-tiba Menyerbu
Kejadian itu diduga memicu aksi balasan yang akhirnya merembet ke lingkungan sekitar. Sekelompok orang yang diduga rekan korban berdatangan ke area parkir TMP Kalibata. Bukan hanya warung makan saja yang dibakar, tetapi sebuah mobil dan motor yang terparkir di lokasi kejadian juga turut dibakar.
“Ya, pasti kita akan melakukan proses. Ini kan dua perkara. Perkara pengeroyokan dan perkara pengerusakan,” ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Nicolas Ary Lilipaly.
Ia menuturkan massa yang melakukan perusakan dan pembakaran mencapai 100 orang.
“Akibat dari (pengeroyokan) itu, yang korban ini mempunyai teman-teman kurang lebih 80 sampai 100 orang tiba-tiba datang,”
“Sebenarnya kami dari pihak kepolisian sudah mengantisipasi itu,”
“Namun, kekuatan pada saat itu yang tiba-tiba datang kurang lebih 100 orang itu merusak warung-warung yang ada di sekitar tempat ini,” ungkap Kapolres.

Ia menambahkan saat ini pihaknya tengah melakukan identifikasi dari kelompok mana yang melakukan perusakan tersebut.
“Jadi kita masih dalam penyelidikan. Kelompok massa itu yang dari mana, nanti kita akan lakukan penyelidikan dulu secara maksimal, baru kita bisa tahu dari mana kelompok itu,” ujar Nicolas.







