Yogyakarta, antara romantisme masa lalu, overrated dan status hubungan yang rumit

Mari kita putar waktu sebentar ke periode 1996 hingga 2000. Di masa itu, bagi kita yang tinggal jauh dari pulau Jawa atau sekadar di luar lingkaran magisnya, Yogyakarta bukanlah sekadar nama kota di peta. Ia adalah sebuah konsep. Sebuah ide yang melambung tinggi di awan imajinasi.

Saat itu, citra Yogya yang tertangkap di benakku begitu megah. Ia adalah “Mekkah”-nya para pelajar Indonesia, digelari “Kota Pelajar”. Rasanya, jika ingin menjadi manusia yang berilmu, berbudaya, dan paham seni, kiblatnya harus ke sana.

Bacaan Lainnya

Yogya dicitrakan sebagai think tank politiknya Indonesia, tempat di mana gagasan-gagasan besar tentang bangsa ini digodok di warung-warung kopi sederhana oleh mahasiswa yang berdiskusi sampai pagi.

Imaji itu makin menjadi-jadi berkat budaya pop yang menyerbu kita saat itu. Siapa yang tidak merasa keren jika memakai kaos Dagadu? Memakai kaos dengan desain plesetan cerdas itu seolah menjadi lencana intelektualitas, bukti bahwa kita adalah bagian dari kaum muda yang “nyeni” dan kritis.

Dan tentu saja, ada KLa Project. Lagu “Yogyakarta” bukan sekadar lagu; itu adalah soundtrack sebuah utopia. Lirik “pulang ke kotamu” terdengar seperti panggilan pulang ke rumah spiritual, bahkan bagi orang yang belum pernah menginjakkan kaki di sana sekalipun.

Romantisme yang dibangun oleh lagu itu, ditambah dengan cerita-cerita tentang kota seniman, membuat ekspektasi melambung setinggi langit. Karena belum pernah ke sana, Yogya di kepalaku adalah kota yang sempurna tanpa cela.

Lalu, roda waktu berputar. Takdir membawaku benar-benar menjejakkan kaki di tanah ini. Tidak sekadar mampir, aku bolak-balik ke sini, bahkan pernah menetap selama dua bulan penuh. Pernah juga nongkrong literally seharian hingga sekitar jam 10 malam di Malioboro. Di sinilah terjadi benturan yang menarik: pertemuan antara mitos di kepala dan realitas di depan mata.

Jujur saja, jika aku harus menggunakan satu kata untuk menggambarkan perasaanku saat membandingkan Yogya masa kini (terakhir aku ke sana minggu yang lalu) dengan imaji tahun 90-an itu, kata yang muncul adalah: overrated.

Citra sebagai pusat kawah candradimuka pemikiran dan seni mungkin masih ada, tapi rasanya tidak sepekat dulu. Atau mungkin, akunya yang berubah? Entahlah. Namun, atmosfer magis yang dulu kubayangkan bahwa setiap sudut jalan akan memancarkan aura intelektual dan seni kebudayaan tingkat tinggi, terasa luntur.

Hiruk-pikuk komersialisasi, kemacetan yang mulai tidak masuk akal, dan riuh rendah pariwisata massal sedikit banyak menggerus kesyahduan yang dulu dijanjikan oleh lagu-lagu KLa Project. Yogya yang sekarang terasa lebih pragmatis, lebih “kota” dalam artian yang melelahkan.

Namun, dan ini adalah bagian yang paling membingungkan, apakah lantas Yogya menjadi kota yang biasa saja? Apakah ia turun kasta menjadi sekadar “B aja”?

Jawabannya: Tidak juga.

Di sinilah letak paradoksnya. Meski aku menyebutnya overrated dibandingkan ekspektasi masa mudaku, Yogya tetap memiliki daya tarik yang sulit ditepis. Ada gravitasi aneh yang membuat kita tidak bisa benar-benar berpaling darinya.

Kuncinya mungkin ada pada manusianya. Keramahan warga Yogya itu unik. Bukan keramahan yang dibuat-buat demi standar operasional turis, tapi keramahan yang lahir dari kultur “nrimo” dan santai yang sepertinya sudah mendarah daging. Cara penjual angkringan menyapa, cara orang di jalan memberikan petunjuk arah, atau sekadar senyum-senyum kecil yang kita temui di gang-gang sempit, itu semua nyata. Itu bukan mitos.

Setelah berkelana ke puluhan kota di Sumatera, Sulawesi dan Jawa, membuat daftar peringkat di kepala adalah hal yang wajar. Dan anehnya, meski dengan segala keluhan tentang macet dan kegerahannya, Yogya tetap bertengger di posisi ketiga kota favoritku.

Peringkat pertama masih dipegang teguh oleh Jakarta dengan segala kegilaan dan dinamikanya yang memacu adrenalin. Posisi kedua ditempati Bandung dengan kesejukan dan kreativitasnya yang estetik. Lalu, ada Yogya di nomor tiga.

Ini bukan posisi yang buruk. Ini justru menunjukkan betapa kuatnya karakter kota ini. Bayangkan, meski citranya sudah tidak sekuat dulu, meski realitasnya sering kali membuat dahi berkerut, ia tetap mampu menyisihkan puluhan kota lain yang pernah kusinggahi.

Hubunganku dengan Yogya, kalau boleh meminjam istilah status di media sosial zaman sekarang, adalah It’s Complicated. Rumit.

Sama rumitnya dengan hubunganku dengan Jakarta. Kita bisa memaki macetnya, kita bisa mengeluh tentang betapa overrated-nya tempat-tempat wisatanya, tapi ketika kaki melangkah pergi, ada bagian hati yang tertinggal. Ada rindu yang menyelinap diam-diam saat mendengar gamelan sayup-sayup atau saat mencium aroma arang dari bakaran sate klatak.

Yogya mungkin bukan lagi “Mekkah” suci bagi pelajar seperti bayanganku di tahun 1998. Ia bukan lagi kota mimpi yang sempurna. Ia adalah kota nyata dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Namun justru karena ketidaksempurnaan itulah, Yogya menjadi manusiawi. Ia seperti teman lama yang mungkin sudah berubah dan tidak asyik lagi diajak begadang, tapi tetap saja kita merasa nyaman duduk di sebelahnya.

Jadi, biarlah Yogya tetap dengan kerumitannya. Biarlah ia menjadi overrated di mata ekspektasi, tapi tetap underrated di ruang-ruang rindu yang personal. Karena bagiku, dan mungkin bagi banyak orang lain yang pernah “terjebak” di sini, Yogya akan selalu punya cara untuk memanggil kita pulang, entah untuk sekadar mampir atau kembali merajut kisah yang belum selesai.

(Ajuskoto. Serang Banten. 27 Desember 2025)

Pos terkait