Xtrim Langsa tembus desa terisolir Ranto Panjang Bedari Aceh Timur demi antarkan bantuan pascabanjir

Ringkasan Berita:

  • Komunitas offroad Xtrim Langsa menembus jalur ekstrem menuju Desa Rantau Panjang Bedari, Aceh Timur, untuk menyalurkan bantuan pascabanjir.
  • Perjalanan penuh rintangan melewati longsor, jalan berlumpur, dan jembatan darurat demi membawa sembako bagi warga.
  • Sekitar 60 rumah rusak atau hanyut, warga kini tinggal di tenda darurat dan berharap dukungan pemerintah.

 

Bacaan Lainnya

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zubir | Aceh Timur

, IDI – Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpng Jernih, Aceh Timur juga tidak luput dari kerusakan berat, ekses bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh umumnya.

Puluhan rumah penduduk dari 183 rumah di desa yang berada diantara hulu Sungai Lokop, Aceh Timur dan Aceh Tamiang ini, pada tanggal 26 November 2025 lalu, rusak dan hanyut disapu air besar disertai kayu tumbang. 

Pascabanjir besar itu, desa di pedalaman Aceh Timur tersebut sedikit tersorot keluar, karena berada terpencil dan jauh dari permukiman penduduk desa-desa lainnya. 

Selama ini, mereka mengakses jalur sungai dengan perahu motor untuk menuju Kuala Simpang Aceh Tamiang karena jaraknya lebih dekat.

Dibandingkan harus menuju ke Kabupaten Aceh Timur, baik ke wilayah Kota Pereulak atau Pusat Pemerintahan, di Idi. 

Komunitas pecinta mobil offroad dari Xtrim Langsa, Sabtu (27/12/2025), coba menembus Desa Rantao Panjang atau lebih dikenal dengan sebutan Rantau Panjang Bedari ini melalui jalur darat.

Untuk menuju desa terpencil penghasil nilam dan walet ini, Tim Xtrim Langsa harus masuk melalui kawasan Blang Tualang, berawal dari Keude Birem, Aceh Timur.  

Usai melewati perkebunan kelapa sawit PTPN IV Reg VI Langsa Tualang sawit itu, berapa unit jeep 4×4 Xtrim masuk kembali ke kawasan perkebunan kelapa sawit PT 66.

Setelah melewati kawasan Camp Badak FKL, selanjutnya tim harus naik menuju bukit dinding berbatu cadas terjal yang mengalami longsor cukup parah. 

Di bukit dikenal cukup sulit dilewati kendaraan apapun dan berada di ketinggian sekitar 2.000 di atas permukaan laut itu, tim terjebak hampir 4 jam lamanya.

Selama itu, unit jeep yang membawa penuh muatan bantuan sembako untuk disalurkan ke warga Desa Ranto Panjang Bedari ini harus bekerja extra.

Agar bisa dilewati dan mengelak longsor yang telah menutupi badan jalan di lereng bukit dinding ini, tim hsrus membuka jalur lain yang lebih tinggi. 

Berbekal tenaga mesin dibantu wich, akhirnya 2 unit jeep tim Xtrim dari Langsa ini lolos dari bukit dinding tersebut.

Namun perjuangan masih panjang, tim harus melewti jalan extrim yang selama ini tidak bisa digunakan kendaraan untuk menuju ke desa itu.

Selain jalan hancur berlumpur dan batu cadas, tim harus melewti 5 jembatan kayu darurat yang hanya pas-pasan ditapaki roda mobil. 

Sebelum 2 kilometer lagi tiba ke Desa Rantau Panjang Bedari ini, tengah malam itu perjalanan Tim Xtrim Langsa terhenti disebuah bukit tinggi yang juga mengalami longsor parah membelah jalan. 

Di bukit tersebut, akhir masyarakat desa ini bersama Keuchik Said dan perangkat desa lainnya menemui Tim Xtrim yang beranggotakan Wahyu Hidayat Lubis, Saiful atau Pol Badak, dan Zubir, serta kru untuk dilakukan penyerahan bantuan.

Bahkan 1 unit jeep jimny harus menginap semalam di jalan menuju Desa Rantau Panjang Bedari, karena mengalami kerusakan.

Sedangkan 1 jeep lainnya, malam itu juga kembali ke Langsa untuk mencari sparepart dan bantuan Anto Mekanik yang langsung datang ke lokasi esoknya, Minggu (28/12/2025) siang.

Sementara bantuan sembako berupa beras, migor, makanan ringan, susu, cabai, sayur, dan lainnya diserahkan Wahyu Hisayat Lubis, yang deterima langsung Keuchik Desa Rantau Panjang, Said Ridwan.

Keuchik Rantau Panjang, Said Ridwan pada malam itu, menyampaikan terima kasih kepada tim Extrim Langsa yang telah bersusah payah datang ke desa mereka untuk membantu masyarakat korban banjir di sana. 

Menurutnya, ada sekitar 60 unit rumah warga di dua dusun berdekatan dengan sungai Desa Rantau Panjang ini rusak parah dan ada yang hanyut dibawa air setinggi 5-6 meter dan kayu-kayu tumbang yang terbawa hanyut. 

“Alhamdulillah, warga semua selamat saat banjir besar itu, namun ada sekitar 60 unit dari total 183 unit rumah warga yang rusak dan hanyut, sekarang mereka tinggal di tenda darurat yang kita bangun bersama masyarakat,” jelasnya. 

Akses menuju desa itu, jelas Keuchik Said, memang sangat sulit.

Jalan yang ada tembus ke Blang Tualang belum sepenuhnya terbangun, ditambah berapa jembatan kayu darurat yang kini sebagian juga telah dibawa air. 

Selama ini, warga memilih berbelanja bahan pokok makanan dan keperluan lainnya melalui jalur sungai menuju Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, karena hanya akses jalur sungai ini yang sedikit memudahkan. 

Kemudian selama paska banjir, bantuan sembako dari pemerintah harus mereka ambil dari kawasan Aceh Tamiang, karena akses jalan darat dari Aceh Timur memang sama sekali tidak bisa dilalui. 

“Bupati Aceh Timur, Pak Alfarlaki kabarnya dalam waktu dekat akan datang ke sini dengan komunitas trail, karena jalan darat ke daerah kami memang tidak bisa dilalui dengan mobil,” pungkasnya. 

Banjir besar akhir tahun 2025 ini telah melenyapkan sebagian besar lahan pertanian warga di sana, terutama tanaman nilam yang selama ini dikembangkan petani Desa Rantau Panjang Bedari. 

Masyarakat yang berada di salah satu wilayah pedalaman atau daerah terpencil dan sulit diakses itu, sekarang harus kembali memulai dari awal untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Sementara bagi warga yang rumahnya rusak dan hanyut berharap kepada pemerintah bisa membantu segera membangun rumah mereka kembali.

Begitu juga umumnya masyarakat di sana yang kini telah kehilangan mata pencaharian dari lahan pertanian yang lenyap disapu ganasnya air banjir.(*)

Pos terkait