Isi Artikel
Perjalanan Iman di Gereja-Gereja Manggarai Barat
Menyambut Hari Raya Natal yang kian mendekat, ingatan saya melayang pada sebuah perjalanan ke Labuan Bajo yang bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman batin yang mendalam. Di tengah hiruk-pikuk Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia, saya menemukan ruang hening yang mengajak untuk berhenti sejenak, merenung, dan bersyukur. Gereja, ya ruang hening itu adalah gereja.
Tepatnya, dua gereja yang menghadirkan wajah wisata religi Katolik di Manggarai Barat.
Gereja Tua Rekas, Hening yang Menenangkan di Mbeliling
Perjalanan sekitar satu hingga satu setengah jam dari Labuan Bajo membawa saya ke Gereja Santa Maria Penghibur Orang Berdukacita, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal sebagai Gereja Tua Rekas. Jalan berkelok dengan lanskap perbukitan seolah menjadi proses peralihan dari dunia yang riuh menuju suasana batin yang lebih sunyi.
Gereja ini berada di bawah naungan Keuskupan Labuan Bajo dan memiliki makna devosional yang sangat kuat. Nama “Santa Maria Penghibur Orang Berdukacita” merujuk pada penghormatan kepada Bunda Maria sebagai penghibur bagi mereka yang berduka, sebuah devosi yang dalam tradisi Katolik kerap dikaitkan dengan Misa Arwah atau Misa Requiem. Dalam konteks menyambut Natal, makna ini terasa semakin relevan, karena kelahiran Kristus hadir sebagai pengharapan di tengah duka dan kerapuhan manusia.
Didirikan pada tahun 1925 oleh Pater Franc Eickman, SVD, seorang misionaris asal Jerman, gereja ini memasuki usia satu abad pada tahun 2025. Bangunannya sederhana namun sarat makna yaitu memanjang dengan atap dua air, mencerminkan arsitektur gereja misi awal di Flores. Ruang dalam gereja terbagi antara altar yang lebih tinggi sebagai tempat imam memimpin perayaan Ekaristi dan area tempat duduk umat.
Yang menarik perhatian saya adalah patung Bunda Maria dan Santo Yusuf dengan balutan jubah bermotif tenun khas Nusa Tenggara Timur. Ini memperlihatkan, iman dan budaya bertemu dengan indah. Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang inkulturasi, tempat nilai-nilai lokal menyatu dengan spiritualitas Katolik. Tak heran jika Gereja Santa Maria Penghibur Orang Berdukacita kini juga menjadi destinasi wisata religi, khususnya bagi peziarah yang ingin merasakan kedalaman sejarah dan ketenangan spiritual.
Gereja Pariwisata Malaikat Agung Mikael, Altar dengan Latar Ciptaan Tuhan
Dari suasana klasik dan hening di Rekas, perjalanan iman saya berlanjut ke Gereja Pariwisata Malaikat Agung Mikael. Gereja ini terletak di Desa Waikanta, Kecamatan Lembor, dengan jarak tempuh sekitar 40-50 kilometer dari Labuan Bajo. Sejak viral di media sosial, gereja ini dikenal luas karena arsitekturnya yang unik dan konsep open air yang jarang dijumpai.
Saat pertama kali melangkah masuk, saya seakan diajak beribadah di tengah alam terbuka. Kursi-kursi kayu tersusun bertingkat seperti tangga, menghadap altar yang justru membelakangi panorama perbukitan dan hutan hijau. Pemandangan ini menjadikan alam sebagai “dinding” gereja, sebuah latar ciptaan Tuhan yang agung dan hidup.
Bangunan gereja ini bersifat setengah permanen, ditopang oleh 12 tiang beton yang menjadi kerangka utama atap. Angka dua belas sekan merujuk pada dua belas rasul. Sejak rampung dibangun pada September 2023, gereja ini menarik banyak pengunjung, baik umat yang datang untuk berdoa maupun wisatawan yang ingin menikmati harmoni antara arsitektur, iman, dan alam.
Dalam konteks Natal, gereja ini menghadirkan pengalaman yang berbeda. Perayaan kelahiran Kristus terasa begitu dekat dengan alam, seolah mengingatkan bahwa Sang Sabda yang menjadi manusia lahir dalam kesederhanaan, selaras dengan ciptaan-Nya.
Wisata Religi sebagai Perjalanan Iman
Gereja sebagai destinasi wisata religi bukan sekadar objek yang dikunjungi untuk dilihat atau difoto. Gereja adalah ruang perjumpaan antara manusia dengan Tuhan, antara sejarah dengan masa kini, dan antara iman dengan budaya. Mengunjungi gereja-gereja di Manggarai Barat menjadi bagian dari perjalanan iman.
Menyambut Natal, perjalanan seperti ini menjadi pengingat bahwa iman tidak selalu tumbuh di tengah kemegahan, melainkan justru dalam kesederhanaan, keheningan, dan keterbukaan hati. Di antara jalan berkelok Flores dan altar yang menghadap alam, saya belajar kembali makna Natal, Allah yang hadir, dekat, dan menyertai perjalanan manusia.
