Waspada Virus Flu Super, Puskesmas Timika Perketat Pemeriksaan Pasien

Ringkasan Berita:

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menjelaskan mengenai kondisi varian baru influenza A (H3N2) subklade K yang dikenal sebagai ‘super flu’ di Indonesia.
  • Flu Super bukanlah istilah yang digunakan secara resmi dalam dunia medis, tetapi merupakan julukan yang diberikan oleh masyarakat terhadap subvarian influenza A tipe H3N2 subklade K.
  • Gejala atau tanda-tandanya meliputi demam tiba-tiba dengan suhu tubuh sering meningkat di atas 38,5°C dalam waktu singkat, batuk kering dan sesak napas, nyeri pada sendi serta otot (Myalgia), sakit kepala parah, dan nyeri tenggorokan.

Liputan Jurnalis, Feronike Rumere

Bacaan Lainnya

TRIBUN-PAPUATENGAH.COM, MIMIKA – Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya semakin waspada karena munculnya penyakit atau virus yang disebut sebagai flu super.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyampaikan bahwa situasi varian baru influenza A (H3N2) subklade K atau dikenal sebagai super flu di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.

Menurut dokter Mozes, Puskesmas Timika telah mengimbau kepada tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap kemungkinan munculnya kasus flu super di wilayah Mimika.

“Saat ini memang sedang maraknya wabah flu super dan kami di puskesmas telah menerima imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata dr Mozes saat diwawancarai di Puskesmas Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Senin (19/1/2026).

Flu Super bukanlah istilah medis yang sah, tetapi merupakan julukan masyarakat untuk varian virus influenza A sub-tipe H3N2 subklade K.

Virus ini dijuluki super karena kemampuannya menyebar lebih cepat dibandingkan flu musiman biasa.

Gejala flu super terkadang mirip dengan Covid-19 atau flu parah, tetapi memiliki ciri khas dalam tingkat keparahannya.

Ciri atau tanda yang perlu diketahui dari gejala flu berat sering kali mirip dengan gejala covid-19, antaranya adalah demam tiba-tiba dengan suhu tubuh yang naik di atas 38,5°C dalam waktu singkat, batuk kering dan sesak napas, nyeri pada sendi dan otot (Myalgia), sakit kepala parah, serta rasa sakit di tenggorokan.

Ia menjelaskan, pengalaman menghadapi pandemi Covid-19 sebelumnya menjadi bekal yang sangat berharga bagi para tenaga kesehatan dalam menghadapi kemungkinan munculnya wabah penyakit baru.

“Sistemnya sudah mirip seperti masa pandemi Covid dulu. Jadi jika ada kasus-kasus semacam itu, puskesmas sudah tidak lagi kaget,”jelasnya.

Dr Mozes menambahkan, Dinas Kesehatan sudah siap menghadapi jika terjadi peringatan dari Kementerian Kesehatan mengenai super flu.

“Kami sebenarnya sudah siap. Pemeriksaan kami perketat. Jika ada pasien dengan gejala tertentu, kami akan bertanya mengenai riwayat perjalanan selama seminggu terakhir, hal ini sudah otomatis,” jelasnya.

Pemeriksaan diperketat, sehingga setiap orang yang datang ke Puskesmas harus menjalani skrining. Seperti pasien wajib diperiksa suhu tubuhnya, yang dapat mengidentifikasi gejala seperti flu berat, demam tinggi, batuk parah, dan kesulitan bernapas.

Selain itu, prosedur pelaporan semakin diperketat. Sebelumnya laporan kesehatan dilakukan setiap minggu, namun untuk kasus yang diduga terkena flu super dilakukan pelaporan harian.

“Setiap 24 jam, jika ditemukan atau dicurigai, segera dilaporkan. Namun hingga saat ini, kami belum menemukan atau menerima laporan mengenai kasus yang dicurigai terkait flu super,” katanya.

Ia berharap flu super tidak masuk ke wilayah Mimika, mengingat daerah tersebut sebagian besar dihiasi oleh pergerakan masyarakat setempat.

“Kita berharap tidak ada. Di sini juga terjadi penerbangan dan pergerakan yang lebih banyak secara lokal. Yang perlu lebih diwaspadai adalah kota-kota besar seperti Jakarta dan Denpasar, karena jumlah pendatang dari luar negeri cukup tinggi,” katanya.

Hal yang harus dihindari agar terhindar dari flu berat adalah tetap mematuhi protokol kesehatan (Prokes) yang berlaku, yaitu 5 M, seperti mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi pergerakan.

Namun demikian, Dr Mozes menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan, khususnya ketika berada di tempat yang ramai.

“Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Ini tidak hanya berguna untuk mencegah Covid, tetapi juga sangat efektif dalam menghindari berbagai penyakit lain,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Tengah telah menerbitkan surat edaran No.400.7/006.1/DKP2KB mengenai pencegahan dini penyebaran penyakit super flu di Provinsi Papua Tengah.

Untuk meningkatkan kewaspadaan dini serta langkah pencegahan terhadap penyakit super flu, yaitu penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang memiliki tingkat penyebaran tinggi dan berisiko menimbulkan dampak pada kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Tengah mengirimkan surat ini sebagai ajakan dan panduan pencegahan bagi seluruh pemangku kepentingan kesehatan serta masyarakat. (*)

Pos terkait