Isi Artikel
Dampak Banjir terhadap Ketersediaan Air Tanah di Jakarta
Di tengah semakin seringnya banjir yang melanda Jakarta, kondisi air tanah yang selama ini menjadi sumber utama bagi warga kini mulai mengalami perubahan. Hal ini memengaruhi kualitas dan ketersediaan air yang sebelumnya bisa diandalkan. Warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur bor yang biasanya digunakan selama puluhan tahun kini tidak lagi dapat dipercaya.
Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
Ersa (44), seorang warga Cengkareng, Jakarta Barat, adalah salah satu yang merasakan dampak nyata dari perubahan lingkungan tersebut. Selama 10 tahun, ia menggunakan air tanah karena merasa kualitasnya bagus dan tidak berbayar. Ia mengaku nyaman dengan air tanah karena airnya bening dan dingin, cocok untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari.
Namun, wilayah rumahnya yang sering terendam banjir hingga empat kali setahun membuat kualitas air tanah menurun. Saat banjir datang, air yang keluar dari keran rumahnya sering berwarna cokelat dan berbau. Menurut Ersa, dulu setelah banjir, air akan kembali jernih dalam waktu sehari. Namun, saat ini, air membutuhkan waktu tiga hingga empat hari agar kembali bersih.
Menggunakan Air Galon untuk Kebersihan
Kekeruhan air yang bertahan beberapa hari memaksa Ersa untuk mencari alternatif. Ia akhirnya membeli air galon isi ulang untuk kebutuhan harian, seperti mandi dan mencuci piring. Meski langkah ini membantu menjaga kebersihan, hal ini justru menambah beban ekonomi keluarganya.
Ersa mengaku awalnya merasa berat karena harus membayar air, terlebih saat kondisi ekonomi sedang sulit. Namun, karena kualitas air tanah yang semakin buruk, ia akhirnya memutuskan untuk beralih ke layanan air perpipaan atau PAM.
Masalah Teknis pada Pompa Air
Sementara Ersa beralih karena kualitas air menurun, Pras (58), warga Cengkareng lainnya, mengalami masalah teknis pada pompa air miliknya. Ia memutuskan beralih ke PAM pada awal 2025 karena debit air tanah di sumur bor miliknya semakin berkurang.
Menurut Pras, suara mesin pompa yang meraung keras menjadi tanda bahaya. Debit air yang semakin sedikit menyebabkan pompa bekerja lebih keras, sehingga sering rusak dan memerlukan perbaikan berulang. Hal ini membuat Pras memilih beralih ke layanan PAM, meskipun harus membayar tagihan bulanan.
Kebutuhan Darurat Bukan Lingkungan
Keputusan Ersa dan Pras untuk beralih ke air PAM didorong oleh kebutuhan darurat, bukan kesadaran tentang isu penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Mereka mengaku tidak tahu tentang ancaman lingkungan tersebut dan hanya fokus pada kebutuhan air bersih sehari-hari.
Pras menekankan bahwa prioritas utamanya adalah mendapatkan air bersih, terlepas dari apakah penggunaan air tanah merusak lingkungan atau tidak. Baginya, air adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar.
Harapan pada Layanan Air PAM
Setelah beralih ke layanan PAM, Ersa dan Pras berharap penyedia layanan air, yaitu PAM Jaya, meningkatkan kualitas layanan. Mereka berharap harga air tetap terjangkau dan layanan stabil, karena air merupakan kebutuhan penting bagi warga.
Pras menginginkan layanan air yang konsisten, mirip dengan listrik, yang juga menjadi kebutuhan dasar. Ia khawatir jika layanan air mati, maka kehidupan warga akan terganggu, terutama dalam hal mandi, sholat, dan wudhu.
Ersa juga berharap tarif air bisa lebih murah, terutama bagi warga berpenghasilan rendah yang sudah terbebani biaya hidup di Jakarta. Ia berharap pemerintah dapat mengelola layanan air dengan lebih baik, sebagaimana layanan listrik yang telah menjadi acuan.
Kebutuhan Dasar yang Tidak Boleh Terhenti
Bagi warga Jakarta, air bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar yang tidak boleh berhenti meski hanya sebentar. Ersa dan Pras berharap layanan air yang lebih baik dapat segera diwujudkan, sehingga warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih akibat banjir dan penurunan kualitas air tanah.
