BANDA ACEH, – Lebih dari tiga minggu telah berlalu, para korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh masih harus tinggal di tempat pengungsian.
Mereka masih belum mampu kembali ke rumah masing-masing akibat kerusakan rumah dan tertimbun tanah.
Di malam hari, mereka beristirahat di dalam gelap. Pada pagi harinya, kembali ke rumah hanya untuk membersihkan tanah liat di halaman.
Hal ini dirasakan oleh Maulida, warga Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya.
Untuk meredakan perasaan dan pikiran, mereka berkumpul di dapur umum yang telah diubah menjadi pusat koordinasi.
“Kami berkumpul bersama untuk saling memberi ketenangan, meskipun setelah kembali ke rumah pasti akan menangis,” kata Maulida saat diwawancarai, Senin (15/12/2025) malam.
Warga: Kami Tidak Mampu Membersihkan Lumpur
Warga Desa Dayah Husen mengalami tantangan berat dalam membersihkan lingkungan dan rumah mereka yang tertutup lumpur tebal serta pohon-pohon besar akibat banjir.
Menurut Mukhlis (41), salah seorang penduduk, satu-satunya cara mengatasi situasi ini adalah dengan memakai alat berat.
“Tidak bisa menggunakan tenaga manusia. Lumpur sangat tebal dan keras, ini sudah lebih dari tiga minggu. Kami benar-benar tidak mampu,” ujar Mukhlis.
Mukhlis mengatakan, desa mereka memang kerap terkena banjir. Namun, kali ini merupakan yang paling buruk.
Ia tidak pernah membayangkan betapa ganasnya banjir yang mengandung kayu dan lumpur menerjang desanya.
“Desa Dayah Husen kini tertutup lumpur. Bahkan jalanan yang terbuat dari beton sudah berubah menjadi tanah berlumpur. Desa kami sekarang seperti berada di dalam hutan, padahal ini adalah desa,” katanya dengan nada sedih.
Mukhlis menambahkan, Desa Dayah Husen merupakan wilayah paling ujung di Kecamatan Meurah Dua.
Saat terjadi banjir, desa mereka sempat terputus aksesnya karena tidak ada jalan yang bisa dilewati. Namun, kebutuhan masyarakat saat ini telah tercukupi setelah jalan dibuka dan bantuan mulai tiba.
Namun, mereka masih mengalami kesulitan dalam membersihkan lumpur dan kembali ke rumah.
“Saya tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan, mungkin jika ada bantuan dari luar negeri, penanganannya bisa lebih cepat,” ujarnya dengan lembut.
Status Bencana Nasional
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Hendra Vramenia, penduduk Kabupaten Aceh Tamiang.
Ia meminta perhatian pemerintah pusat dalam menetapkan status Bencana Nasional.
Menurutnya, dengan status tersebut, bantuan dari komunitas global akan lebih mudah masuk, seperti pada saat tsunami Aceh 2004.
“Jika status Bencana Nasional tidak segera ditetapkan, Aceh Tamiang ini tidak akan pulih selama dua tahun,” tegas Hendra.
Hendra menyampaikan, situasi di Aceh Tamiang masih tidak aman. Masyarakat masih mengalami kesulitan akibat gangguan aktivitas.
Sampai saat ini jalan nasional masih banyak berlumpur. Sampai kapan masyarakat Aceh Tamiang harus mengalami hal ini, apalagi ada rumah yang hancur terbawa air,” katanya.
Karena itu, Hendra memohon kepada pemerintah pusat agar membuka peluang bagi dunia internasional untuk membantu penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh.
“Kondisi banjir ini lebih buruk dari yang kami bayangkan. Kami masyarakat juga ingin segera pulih meskipun hal itu sulit, sudah lebih dari tiga minggu kami tidak bisa melakukan apa-apa,” katanya.
