Isi Artikel
JAYAPURA, – Sebuah video keluarga pasien marah-marah ke petugas medis viral di media sosial.
Dalam video berdurasi kurang lebih 4 menit itu, sejumlah orang yang diduga keluarga pasien tampak marah ke sejumlah tenaga medis karena pasien yang merupakan seorang ibu hamil dan bayinya meninggal dunia.
“Saya mau tanya, penanganan pasien di rumah sakit ini bagaimana? Itu ibu dan bayinya meninggal karena terlalu lama penanganan,” kata salah satu pria dalam video tersebut.
“Kalau dokter tidak datang, kenapa tidak kasih tahu kami keluarga supaya kami pindah cari rumah sakit lain? Ini ibu dan bayi sudah meninggal, kami tidak bisa bikin apa-apa lagi,” sambungnya.
Dalam video yang sama, keluarga mengaku bahwa pasien masuk ke rumah sakit sejak Jumat (26/12/2025) pagi sekitar pukul 09.00 WIT, tetapi hingga ibu dan bayi meninggal pada Sabtu dini hari tidak ada penanganan maksimal.
“Kami sudah masuk dari jam sembilan pagi, tetapi tidak ada penanganan sampai ibu dan bayi meninggal. Jenazah tidak akan keluar dari rumah sakit ini kalau dokter tidak memberikan penjelasan kepada kami keluarga karena pasien sudah masuk dari kemarin pagi,” kata salah satu ibu dalam video tersebut.
“Harusnya bisa dirujuk untuk operasi dan kami keluarga siap kalau untuk operasi, tetapi kami tidak diberi tahu dan dibiarkan sampai pasien meninggal,” ujarnya.
Penjelasan Pihak RS
Dari video amatir tersebut, melakukan penelusuran dan diketahui bahwa kejadian tersebut terjadi di Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura.
Pihak Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura melalui Dokter spesialis yang menangani pasien, dr. David Randel Christanto, menjelaskan bahwa penyebab kematian pasien diduga kuat akibat cardiac arrest (henti jantung) mendadak yang dipicu oleh emboli air ketuban.
Kondisi ini merupakan komplikasi persalinan yang langka tetapi sangat fatal, di mana air ketuban masuk ke dalam aliran darah ibu.
“Kami telah memberikan edukasi kepada pihak suami mengenai kondisi ini. Kejadiannya sangat cepat, pasien tiba-tiba mengalami apneu (henti napas) dan seluruh wajah membiru saat proses pembukaan hampir lengkap,” ujar dr. David.
Kronologi
Berdasarkan data rumah sakit, kata dr. David, pasien tiba dengan rujukan untuk rencana induksi persalinan pada Jumat (26/12/2025) sekitar pukul 09.40 WIT dengan kondisi awal ibu dan janin dilaporkan baik.
Selanjutnya pada pukul 11.00 – 13.00 WIT, petugas medis sempat mengedukasi pasien dan suami mengenai opsi operasi sesar (SC), tetapi pihak keluarga memilih untuk tetap menjalani proses persalinan normal (induksi). Kemudian dari pukul 13.00 – 23.00 WIT, proses induksi berjalan sesuai tahap.
Detak Jantung Janin (DJJ) dan kondisi ibu dipantau secara berkala setiap jam dalam kondisi stabil.
Pada Sabtu (27/12/2025) sekitar pukul 02.30 WIT, ketuban pecah secara spontan dan berwarna jernih. Pembukaan sudah mencapai 9 cm.
Namun, pada pukul 02.32 WIT, secara mendadak, pasien mengalami apneu (henti napas), wajah membiru (sianosis), dan nadi melemah.
Tim medis segera melakukan tindakan darurat (RJP, pemasangan oksigen, dan injeksi epinefrin). Pada pukul 03.17 WIT, dr. David tiba di ruangan dan melakukan pemeriksaan mendalam dan upaya penyelamatan dengan maksimal di hadapan suami pasien.
Namun, sekitar pukul 03.55 WIT, pihak rumah sakit menyatakan pasien telah meninggal dunia.
Rencana Pertemuan dengan Keluarga
Sementara itu, Kepala Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura, Kolonel Ckm dr. Rudy Dwi Laksono, menyatakan akan bertemu dengan keluarga untuk menjelaskan kronologi kejadian.
“Saat ini keluarga masih dalam suasana berduka yang mendalam. Kami menghormati waktu mereka. Pada hari Senin, kami akan duduk bersama suami dan keluarga agar semuanya menjadi jelas dan terang,” tuturnya.
Kepala Rumah Sakit dr. Rudy juga menyatakan bahwa pengungkapan kasus ini akan dilakukan secara transparan.
“Kami ingin memastikan secara transparan apakah ada kekurangan atau memang semua sudah sesuai prosedur. Ini adalah bentuk komitmen kami terhadap transparansi kasus kematian ibu dan anak,” ucapnya.
