, Pringsewu –Kepala Sektor Pardasuka Iptu Bastari Supriyanto mengira kejadian kekerasan terhadap anak dan bentrokan antara dua siswi SD di Pringsewu Lampung disebabkan oleh masalah cinta.
Pertunjukan pukulan antara dua siswi sekolah dasar tersebut menyebar di media sosial dan terjadi di halaman parkir Masjid As Saadah, Pekon Tanjung Rusia, Kecamatan Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, Lampung.
“Peristiwa terjadi pada Senin, 15 Desember 2025, sekitar pukul 15.00 WIB,” ujar Bastari, Selasa (16/12/2025).
Bastari mengungkapkan, tindakan kekerasan tersebut melibatkan dua remaja perempuan dengan inisial MS (11) dan FKI (11).
Dua siswi SD yang terlibat dalam perkelahian tersebut adalah warga dari Kecamatan Pardasuka.
Berdasarkan penjelasan Bastari, setelah video siswi SD yang terlibat dalam perkelahian viral, pihak kepolisian segera mengambil beberapa tindakan, mulai dari mengunjungi tempat kejadian, mengambil keterangan dari semua pihak yang terlibat, hingga bekerja sama dengan aparat pekon.
“Pada hari Senin malam sekitar pukul 21.30 WIB, kami melakukan mediasi di rumah orang tua FKI,” katanya.
Hasil dari pertemuan tersebut, menurut Bastari, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang harmonis.
Namun demikian, surat pernyataan damai belum disusun karena masih menunggu hasil pemeriksaan medis terhadap keadaan FKI setelah kejadian.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, pihak kepolisian mengira kejadian siswi SD yang terlibat perkelahian ini disebabkan oleh masalah cinta.
MS diduga tidak terima ditinggalkan oleh kekasihnya. Sementara FKI yang menjadi korban disangka memiliki hubungan istimewa dengan mantan kekasih MS.
“Padahal berdasarkan informasi yang kami dapatkan, korban tidak memiliki hubungan apa pun dan hanya merupakan kerabat dekat dari mantan kekasih MS,” ujar Bastari.
Sebelum terjadinya pertemuan saling pukul, MS diduga menghubungi FKI melalui pesan singkat dan menawarkan pertemuan.
Meskipun sebelumnya tidak saling mengenal, FKI tiba di lokasi bersama temannya.
Namun ketika tiba di lokasi, korban justru mengalami kekerasan hingga akhirnya peristiwa siswi SD saling menyerang tersebut terekam dan menjadi viral di media sosial.
Bastari mengajak para remaja untuk tidak menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan, terutama di tengah pengaruh media sosial yang sering memicu emosi sementara.
Ia menekankan bahwa setiap masalah, termasuk isu hubungan dan cinta, sebaiknya diatasi dengan pendekatan yang cerdas serta memprioritaskan komunikasi.
Bastari juga menegaskan bahwa tindakan kekerasan, meskipun dilakukan oleh remaja, tetap memiliki konsekuensi hukum dan dapat berdampak jangka panjang terhadap masa depan pelaku maupun korban.
“Anak-anak perlu belajar mengatur perasaan dan tidak mudah terpengaruh. Kekerasan bukan jawaban, justru akan merugikan diri sendiri maupun orang lain,” kata Bastari.
Selain kepada remaja, ia juga menyampaikan pesan khusus kepada orang tua untuk lebih giat mengawasi pergaulan anak, baik di lingkungan sekitar maupun dalam dunia digital.
Menurutnya, kebebasan berkomunikasi antara orang tua dan anak merupakan faktor utama dalam menghindari terjadinya perselisihan dan tindakan yang tidak sesuai.
“Peran orang tua sangat krusial. Sisihkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak, pantau penggunaan media sosial, serta tanamkan nilai saling menghargai sejak dini,” ujarnya.
Bastari berharap, melalui partisipasi aktif dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar, kejadian kekerasan antara remaja bisa dihindari, sehingga anak-anak dapat berkembang dalam lingkungan yang nyaman dan positif.
Video aksi kekerasan yang melibatkan dua siswi yang saling meninju di Kabupaten Pringsewu, Lampung, menjadi viral di media sosial.
Dalam rekaman yang berlangsung sekitar 20 detik, seorang remaja tampak menjadi korban kekerasan dari temannya sendiri.
Di dalam video yang beredar, korban terlihat dipukul dan ditarik rambutnya hingga jatuh ke tanah.
Beberapa pemuda lain yang berada di lokasi justru hanya menyaksikan dan merekam kejadian tersebut tanpa mencoba menghentikannya.
Beberapa dari mereka terlihat tertawa.
Aksi dua murid sekolah dasar yang saling bertengkar mendapat kritikan dari netizen. B
Banyak netizen merasa prihatin atas kejadian kekerasan tersebut, terutama karena pelakunya adalah anak di bawah umur.
( / Oky Indrajaya )
