https://mediahariini.com– Dampak paling parah dari bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) adalah terganggunya akses transportasi. Jalan rusak, ambles, serta tertutup oleh endapan lumpur yang dibawa oleh air banjir. Untuk memperbaikinya, selain melalui pembangunan, juga diperlukan alat berat untuk membersihkan jalanan tersebut.
Ratusan alat berat dikerahkan di tiga provinsi guna mempercepat perjalanan transportasi. Danantara Indonesia menginstruksikan Nindya Karya, BUMN konstruksi, untuk memberikan bantuan pemulihan wilayah yang terkena dampak bencana.
Kepala Perusahaan PT. Nindya Karya Firmansyah menyatakan, pihaknya berupaya untuk fokus pada perencanaan teknis dan infrastruktur penting yang terkena dampak bencana. Fokus utama adalah membuka akses jalan yang tertutup akibat longsor dan banjir bandang. Upaya ini dilakukan di Kabupaten Pidie dan Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, serta di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut.
Tindakan ini sangat penting untuk memulihkan pergerakan masyarakat serta mempercepat distribusi logistik dan bantuan. Selain membuka kembali akses jalan, upaya pembersihan material lumpur juga dilakukan di jalur Sungai Liput – Kuala Simpang di Kabupaten Aceh Tamiang.
Untuk mendukung operasi tersebut, Nindya Karya mengirimkan sejumlah besar alat berat ke berbagai lokasi yang terkena dampak. Berdasarkan data per Kamis (11/12), di Aceh dikerahkan 2 Wheel Loader, 6 Dump Truck, 1 Ekskavator, dan 1 Backhoe Loader. Di Sumatera Utara digunakan 2 Wheel Loader dan 1 Dump Truck.
Di Provinsi Sumatera Barat, Nindya Karya menyediakan 3 alat ekskavator, 1 Wheel Loader, serta 1 tangki bahan bakar minyak. Penggunaan peralatan berat ini sangat penting dalam kegiatan pengerukan sungai, pembersihan permukiman, dan pembukaan jalur akses.
Pekerjaan infrastruktur melibatkan pembersihan sungai untuk tujuan normalisasi dan pembuatan tanggul guna mengurangi risiko banjir. Contohnya adalah pembersihan akses serta pembangunan Tanggul Sungai Aek Garoga dan Normalisasi Sungai Aek Garoga di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Di tempat yang sama, juga dilakukan pengalihan akses di Sungai Siasis. Selain itu, kegiatan pengerukan saluran resapan dilaksanakan di Kabupaten Pidie, Aceh.
Selain mengutamakan pemulihan infrastruktur, Nindya juga membangun Posko Bantuan dan Dapur Umum di daerah yang terkena dampak. Di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dibangun Posko Nindya Peduli dan Dapur Umum guna menyediakan makanan hangat bagi penduduk setempat. Posko Logistik juga dibuka di Kabupaten Aceh Tamiang.
Bantuan yang diberikan berupa logistik dan kebutuhan pokok, pakaian layak pakai, serta pemberian kasur. Bantuan kebutuhan pokok disalurkan di Kota Medan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Selain itu, Nindya Karya juga membangun tangki air bersih di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga agar tersedia sarana air yang layak.
“Untuk kami, pemulihan bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga mengembalikan harapan. Melalui distribusi bantuan sembako, pelayanan di posko dan dapur umum, hingga tindakan nyata di lapangan, kami berupaya memastikan bahwa setiap bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan,” kata Firmansyah.
Upaya pembersihan juga mencakup fasilitas umum, seperti pembersihan RSUD Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, serta pembersihan jalur kereta api di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Nindya Karya juga melakukan pembersihan terhadap permukiman warga di Kabupaten Pidie.
