Tujuh tahun gelar festival sampan layar, kini Desa Ketam Putih dapat dukungan dari LAMR Bengkalis

Ringkasan Berita:

  • Festival Sampan Layar ternyata bukan hanya sekedar berlombasaja. Beberapa nilai tradisi juga dilaksanakan sebelum pelaksanaan lomba tersebut.
  • Datuk Syaukani mengatakan tradisi menurunkan sampan dilakukan bersama sama masyarakat Desa Ketam Putih. Sampan di bawa dari daratan, digiring bersama secara gotong royong ke tepian.

 

Bacaan Lainnya

, BENGKALIS – Dua puluh lebih sampan dengan layar berbagai warna menghiasi tepian pesisir desa Ketam Putih Kecamatan Bengkalis. Sampan layar ini bersiap untuk di lepas bertanding merebutkan juara.

Ratusan warga juga terlihat duduk rapi di pinggir laut, mata tertuju ke arah laut, menyaksikan puluhan sampan layar tersebut. Mulai dari anak anak, ibu ibu dan bapak bapak berjejer rapi menyaksikan sampan sampan beragam warna ini.

Hitungan ketiga dan diiringi letusan kembang api menandai pelepasan perahu layar ini. Mereka harus berlayar dengan bantuan tiupan angin, tanpa mesin, tanpa dayung melintas selat yang lebarnya sekitar sembilan ratus meter.

Setelah sampai ke titik yang ditentukan panitia diseberang sana, mereka harus kembali lagi ke titik star dan kembali berputar ke seberang.

Setidaknya ada tiga kali putaran yang harus di lintasi sampan layar ini. Memakan waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan perlombaan.

Tidak mudah mengendalikan sampan dengan layar besar ini. Butuh keahlian khusus dan kerja kelompok yang kompak.

Satu perahu layar berisi lima orang, terdiri dari tekong sampan atau penentu arah, kemudian beberapa pengendali layar agar sampan berlayar sesuai dengan tujuan.

Dalam beberapa putaran, tidak semua sampan bisa menyelesaikan putaran dengan sempurna. Beberapa sampan terpaksa karam karena tak mampu di kendalikan dengan baik saat akan berbelok arah.

Tidak perlu khawatir sampan yang karam langsung diselamatkan panitia dan ditarik ke tepi bibir pantai. Hanya saja mereka yang karam dianggap gugur tak bisa menyelesaikan perlombaan.

Begitulah suasana festival sampan layar desa Ketam Putih Kecamatan Bengkalis. Kegiatan rutin tahunan sudah digelar sebanyak tujuh kali sejak tahun 2019 oleh pemerintah Desa Ketam Putih bersama kelompok sampan layar desa tersebut.

Namun tahun ini cukup berbeda, pasalnya tahun ini festival sampan layar ini mendapat dukungan dari LAMR Bengkalis. Panitia lokal desa berkolaborasi dengan lembaga adat Melayu Riau Bengkalis untuk mengembangkan festival ini.

Sehingga pelaksanaanya menjadi lebih meriah, bahkan mereka yang bertanding mendapat dukungan sponsor dari beberapa instansi pemerintahan dan Forkompinda Bengkalis.

Kepala Desa Ketam Putih Suhaimi menceritakan, festival ini sudah diselenggarakan pemerintah Desa sejak 2019 lalu. Tahun ini merupakan yang ke 7 kalinya mereka menyelenggarakan festival ini.

“Kita pemerintah Desa di tahun 2019 lalu bersama komunitas sampan layar di sini tertarik membuat festival sampan layar. Karena berpotensi wisata untuk desa, masyarakat atau wisatawan lokal akan datang ke desa kita kalau ada kegiatan ini,” cerita Suhaimi.

Menurut dia, sampan layar di desa Ketam Putih ini memiliki komunitas tersendiri. Saat ini saja ada sekitarsekitar 21 sampan layar di desa Ketam Putih ini, komunitas sampan sangat gigih mempertahankan keberadaan sampan layar di sini.

Para pemain sampan layar Desa Ketam Putih merupakan pemain tangguh. Bahkan selalu menang dalam kegiatan sampan layar yang diselenggarakan.

“Seperti bulan lalu festival sampan layar di Desa Bandul Kabupaten Kepulauan Meranti, tim sampan layar Ketam Putih memborong juara, mulai juara satu sampai tujuh semuanya sampan layar Ketam Putih, sementara tuan rumah hanya dapat dua tempat yakni juara delapan dan sembilan, sisanya sampan layar lain tak mampu menyelesaikan putaran karena karam,” cerita Kades Ketam Putih.

Menurut dia, hari ini saja dari Desa Ketam Putih yang turun dalam perlombaan sebanyak 18 sampan layar. Kemudian 8 sampan layar lagi dari Desa Bandul kabupaten Kepulauan Meranti ikut serta memeriahkan festival ini.

“Total ada 26 sampan layar festival kali ini, hampir sebagian besar dari desa kita. Sisanya dari desa seberang kepulauan  Meranti meramaikan,” ungkap Suhaimi.

Menurut Suhaimi tradisi perlombaan sampan layar sudah lama juga di perlombakan. Namun tidak terkoordinir dengan baik.

“Masyarakat di sini mengenal perlombaan sampan layar ini sebenarnya sudah 79 tahun lalu. Namun dulunya hanya pertandingan kecil saja, diikuti enam sampai tujuh sampan, dilakukan momen tertentu, seperti mengisi kegiatan kemerdekaan dan perayaan hari besar lainnya,” terang Kades Ketam Putih.

Sejak 2019 pihaknya bersama kelompok komunitas mencoba merumuskan kegiatan sampan layar lebih terkoordinir lagi. Dengan mengelar festival sampan layar yang lebih besar bisa diikuti lebih banyak peserta dan mengundang masyarakat dari luar Ketam Putih untuk menyaksikan.

“Desember 2019 lalu lah Festival dilaksanakan. Sejak saat itu secara rutin kita laksanakan di bulan Desember sampai saat ini,” jelasnya.

Tahun ini lebih meriah lagi, karena LAMR Bengkalis turut mendukung dan memfasilitasi. Sehingga banyak pihak yang terlibat dan yang menonton juga semakin ramai.

“Kita berharap tahun depan festival ini bisa  menjadi ivent kabupaten. Sebagai satu diantara tradisi Bengkalis yang harus di kembangkan,” tandasnya.

Sementara itu Datuk Seri Syaukani Al Karim Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Bengkalis mengatakan sampan layar merupakan tradisi sangat dekat dengan masyarakat Melayu pesisir satu diantaranya masyarakat Pulau Bengkalis.

Menurut dia, pada masa lampau perahu layar bagian dari kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Bahkan dulunya dalam berbagai kesempatan selain digunakan untuk keperluan mencari kehidupan, sampan layar juga digunakan sebagai media hiburan berupa perlombaan sampan layar dengan tujuan meningkatkan silahturahmi masyarakat Melayu pesisir.

“Tradisi ini juga sudah berlangsung sekian lama, tidak hanya di Ketam Putih tetapi dulunya hampir seluruh kawasan Bengkalis yang berada di kawasan Selat, termasuk sebagian daerah kepulauan Meranti,” terang Datuk Syaukani.

Melihat tradisi ini masih terjaga di Desa Ketam Putih, LAMR Bengkalis ingin ikut serta untuk menjaganya dan berencana mengembangkan tradisi sampan layar ini sebagai nilai nilai yang tumbuh dan hidup serta berkembang di masyarakat Melayu Bengkalis.

Proses pengembangan tradisi ini tentu tidak cukup jika hanya dilakukan masyarakat desa setempat saja. Tetapi juga perlu melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian terhadap nilai nilai budaya Melayu.

“Kita ingin seluruh pihak terlibat dalam menjaga tradisi sampan layar ini, baik pemerintah Bengkalis serta pihak pihak yang mendapat sesuatu dari negeri ini harus memberikan kontribusi memelihara tradisi sampan layar ini,” tegasnya.

Syaukani mengatakan, ke depannya LAMR Bengkalis ingin festival sampan layar bisa menjadi satu diantara destinasi wisata masa depan bagi wisatawan dalam maupun luar Bengkalis.

“Kita berharap ke depan Pulau Bengkalis bisa menjadi tumpuan para wisatawan yang ingin mendapatkan nilai nilai tradisi masyarakat melayu yang masih tumbuh di tengah masyarakat melayu,” ungkapnya.

Tradisi Gotong Royong Turunkan Sampan Layar Sebelum Festival

Festival Sampan Layar ternyata bukan hanya sekedar berlombasaja. Beberapa nilai tradisi juga dilaksanakan sebelum pelaksanaan lomba tersebut.

Satu diantaranya tradisi penurunan sampan layar ke laut. Beberapa hari sebelum perlombaan dilakukan ritual penurunan sampan, kemarin dilakukan Kamis.

Datuk Syaukani mengatakan tradisi menurunkan sampan dilakukan bersama sama masyarakat Desa Ketam Putih. Sampan di bawa dari daratan, digiring bersama secara gotong royong ke tepian.

Setelah diturunkan di lakukan uji coba sebelum perlombaan atau festival di laksanakan. Penurunan bersama sama inilah merupakan nilai nilai silahturahmi yang tumbuh dalam proses penurunan sampan ini.

“Saat tradisi penurunan sampan kemarin kita lihat seluruh masyarakat khususnya warga desa Ketam Putih tumpah ruah ikut serta. Mereka ingin terlibat menjadi bagian dari peristiwa memuliakan kebudayaan ini,” terang Syaukani.

Syaukani menegaskan LAMR Bengkalis bersama stakeholder terkait yang terlibat dalam festival sampan layar kali ini ingin mengenalkan bawahsanya masyarakat pesisir memiliki tradisi yang sangat elok untuk dikembangkan.

“Jadi harapan kita ke depan sampan layar ini bisa berada pada aras yang lebih tinggi dan dunia lebih luas. Sehingga Desa Ketam Putih bisa menjadi kawasan yang menjadi tumpuan wisatawan yang ingin mengenal kembali nilai nilai kegiatan tradisi yang pernah tumbuh dalam masyarakat Melayu pesisir,” ungkapnya.

Pos terkait