.CO.ID, JAKARTA — Pada siang hari, 17 Januari 2026, langit di atas kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan, berubah dari biru tenang menjadi perhatian nasional. Sebuah pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak saat memasuki ruang udara dekat Pegunungan Leang-Leang.
Pesawat turboprop yang dimiliki oleh Indonesia Air Transport (IAT) dan digunakan dalam misi patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sedang melakukan perjalanan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar sebelum terputusnya komunikasi sepenuhnya pada pukul 13.17 WITA.
Indonesia Air Transport (IAT) merupakan perusahaan penerbangan swasta nasional yang berdiri pada tahun 1968 dan fokus pada penyediaan layanan transportasi udara untuk mendukung sektor pertambangan, minyak, serta gas bumi, baik di dalam maupun luar negeri. Perusahaan ini memiliki sertifikat AOC (Air Operator Certificate) 135 yang memperbolehkan mereka mengoperasikan berbagai jenis pesawat dan helikopter untuk layanan sewa, evakuasi medis, hingga dukungan operasional lembaga pemerintah. Bermarkas utama di Jakarta, IAT terkenal dengan pengalaman panjang dalam melayani daerah-daerah terpencil di Nusantara melalui armada pesawat turboprop dan helikopter yang handal untuk tugas khusus dan logistik.
Pesawat yang dibuat pada tahun 2000 ini diketahui membawa total 11 orang, termasuk kru dan penumpang yang diduga terkait dengan tugas pemerintah. Edy Prakoso, Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, mengonfirmasi berita kehilangan pesawat tersebut dan segera memicu respons cepat dari tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polri, TNI, serta BPBD. Lebih dari 400 personel SAR dikerahkan untuk mencari area Pegunungan Karst di dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang terkenal memiliki medan yang sulit dan vegetasi yang lebat.
Sebuah titik cahaya muncul setelah tim pencari berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros. Menyusul penemuan ini, TNI Angkatan Udara segera mengambil tindakan strategis dengan mengerahkan pasukan khususnya. “TNI AU mengirim lima anggota Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) dan satu personel Basarnas menggunakan helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 langsung menuju titik koordinat kejadian,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana, Ahad (18/1/2026).
Penggunaan Korpasgat menjadi sangat penting mengingat sifat wilayah karst yang curam dan sulit diakses melalui jalan darat biasa. Sebagai satuan elit yang telah dilatih khusus untuk tanggap cepat di medan berat, prajurit Korpasgat bertugas melakukan persiapan awal proses evakuasi ketika tiba di lokasi. Keahlian teknis mereka dalam pergerakan udara dan koordinasi taktis menjadikan Korpasgat sebagai pasukan terdepan dalam menangani keadaan darurat besar seperti kecelakaan pesawat di daerah terpencil.
Kolaborasi penyelamatan ini menggabungkan keunggulan armada udara dan pasukan darat secara terpadu. Helikopter H225M Caracal yang digunakan mampu menjangkau lereng bukit sempit yang tidak dapat dicapai kendaraan biasa. Pada saat yang sama, TNI AU juga mengirimkan tim gabungan melalui jalur darat yang terdiri dari prajurit Lanud Sultan Hasanuddin, Yon Parako 473 Korpasgat, serta Yon Arhanud 23 Korpasgat. Tim darat ini bekerja sama dengan elemen SAR lainnya serta masyarakat setempat untuk memperkuat proses evakuasi fisik.
Kehadiran Korpasgat serta kerja sama antar instansi di Maros menunjukkan kehadiran nyata negara dalam situasi krisis. Operasi ini bukan hanya pencarian sisa-sisa pesawat, tetapi juga bukti profesionalisme dan kemampuan operasional TNI AU dalam menghadapi ketidakpastian cuaca serta tantangan geografis Indonesia yang rumit. Sampai saat ini, TNI AU berkomitmen penuh untuk terus mendukung proses penanganan selanjutnya hingga semua korban dan barang dari pesawat berhasil dievakuasi dari kawasan Gunung Bulusaraung.
