Titipan Rezeki Berupa Durian, Musim Durian Datang, Perputaran Uang di Babel Meningkat

, BANGKA– Setiap buah berduri tajam itu diangkat secara perlahan, diputar pelan, lalu disusun kembali dengan rapi. Begitu pula tangan pria berusia 45 tahun itu bergerak dengan hati-hati, seolah sedang menghadapi sesuatu yang lebih bernilai daripada sekadar buah.

Bagi dia, buah musiman yang menjadi barang dagangannya merupakan anugerah rezeki yang tidak boleh dianggap remeh.

Bacaan Lainnya

Sore hari, Pasar Pagi Taman Sari, Pangkalpinang, terasa lebih ramai. Suara para pedagang bersahutan memanggil pembeli, kendaraan melintas perlahan, dan aroma durian mengisi udara. Musim durian selalu membawa suasana yang berbeda.

“Ketika musim durian tiba, pasar ini terasa lebih ramai dan penuh semangat,” ujar Nobi, seorang pedagang durian, kepada Bangkapos, Kamis (18/12).

Nobi bukanlah wajah asing di pasar tersebut. Lebih dari 15 tahun ia menjalani kehidupannya di lokasi yang sama. Setiap hari, ia menjual sayuran. Namun ketika musim durian tiba, lapaknya berubah sepenuhnya, penuh dengan tumpukan buah raja yang selalu menarik perhatian para pembeli.

“Jika sayuran, terkadang untung, terkadang rugi. Namun durian selalu dicari orang,” katanya sambil tersenyum.

Durian yang dijual Nobi adalah durian lokal Bangka yang berasal dari kebun tetap di Desa Nangka, Bangka Selatan. Ukurannya beragam, sesuai dengan preferensi dan kemampuan pembeli.

“Yang ingin makan bersama biasanya memilih ukuran besar. Ibu-ibu lebih sering memilih ukuran sedang,” jelasnya.

Berangkat Dini Hari

Sore hari, sekitar 130 buah durian tersusun rapi di lapak seluas tiga meter. Jumlah tersebut merupakan hasil dari perjuangan yang panjang sejak pagi hari. Nobi menceritakan, ia dan rekan-rekannya harus berangkat sekitar pukul 02.00 WIB untuk mendapatkan buah yang terbaik.

“Jika tidak berangkat pagi hari, mendapatkan buah yang baik itu sulit,” katanya.

Buah durian pertama-tama disimpan di rumahnya di wilayah Tuatunu sebelum dibawa ke pasar dengan menggunakan sepeda motor yang dilengkapi keranjang besar.

Pada akhir pekan saat permintaan meningkat, mereka menggunakan mobil pick-up milik teman.

“Kadang hari biasa mengambil 100–150 buah. Pada akhir pekan bisa mencapai 250 hingga 300. Terkadang masih kurang,” katanya.

Bersama rekanannya, Zaki, Nobi tidak hanya sebagai pedagang, tetapi juga menjadi perantara langsung antara kebun durian di pelosok Bangka dengan para pembeli di kota. Informasi tentang kebun mereka diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari sesama pedagang hingga media sosial.

Sesampainya di perkebunan, proses tidak langsung selesai. Mereka memilih pohon dan buah secara teliti, sesuai dengan preferensi pasar yang telah mereka pahami selama bertahun-tahun.

“Mereka melihat pohonnya, buahnya, bentuk duri, ukuran, hingga aromanya. Pembeli saat ini sudah memahami apa yang diinginkannya,” katanya.

Menurut Nobi, kualitas dan harga tidak dapat dipisahkan. Jika buah sesuai dengan keinginan pasar dan harganya wajar, maka kerja sama dengan petani dapat berlangsung dalam jangka panjang.

“Ada yang sudah bekerja sama selama empat tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun,” katanya.

Kepercayaan

Keyakinan menjadi dasar utama. Hal ini juga yang dirasakan Zaki. Untuk mempertahankan kualitas, mereka bersedia menjelajahi hampir seluruh Pulau Bangka, khususnya daerah Bangka Tengah hingga Bangka Selatan.

“Kami pernah memasuki desa yang tidak memiliki sinyal, bahkan ke hutan yang jarang dikunjungi orang,” kata Zaki.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan konsumen. Zaki mengakui bahwa ia baru sekitar empat tahun terlibat dalam membangun jaringan langsung dengan petani. Namun, ia merasakan manfaat yang besar dari kerja sama ini.

“Kami melihat petani sebagai mitra. Ada yang merasa terbantu karena kami datang langsung ke kebun, sehingga mereka tidak bingung dalam menjual hasil panen,” katanya.

Salah satu pengalaman yang paling mengesankan terjadi ketika mereka bertemu dengan seorang petani yang selama ini menjual durian dengan harga Rp5 ribu per buah. Meskipun kualitas buahnya dinilai sangat bagus.

“Isinya tebal, rasanya lezat, matang secara alami. Sayang jika dihargai sebesar itu,” ujar Zaki.

Mereka berani membeli dengan harga yang lebih mahal. Akibatnya, durian itu laku di pasar.

“Petani itu sampai mengucapkan terima kasih. Katanya baru kali ini hasil panennya dihargai dengan layak,” kata Zaki.

Rp2 Juta-Rp6 Juta

Namun di balik tumpukan durian, tersimpan modal yang besar. Tahun ini, harga pembelian durian rata-rata Rp20 ribu per buah karena sistem borongan dari pemilik kebun.

“Satu kali ambil bisa habis Rp2 juta hingga Rp6 juta,” ujar Nobi.

Namun, pengalaman yang panjang membuatnya memahami risikonya. Dalam sehari, keuntungan bersih bisa mencapai antara Rp400 ribu hingga Rp2 juta, tergantung pada ramainya pembeli atau tidak.

Menurut Nobi, durian dari kebun sendiri merupakan berkah terbesar. Tanpa biaya pembelian buah, keuntungan bisa meningkat signifikan.

” Tinggal menuai, bawa ke pasar, dan jual. Itu adalah rezeki yang besar,” katanya.

Sayangnya, durian kampung sangat tergantung pada kondisi cuaca. Tahun ini, kebun pribadinya tidak menghasilkan buah yang banyak, sehingga ia kembali mempercayakan kepada kebun langganan.

Meski musim durian hanya berlangsung selama 20–35 hari, momen ini menjadi sumber utama penghidupan keluarga Nobi.

“Memenuhi kebutuhan rumah tangga, belanjaan anak-anak,” katanya.

Bagi Nobi, selama pohon durian masih tumbuh di kebun Bangka dan tetap disukai oleh masyarakat, ia akan tetap berada di tokonya.

“Selama masih ada musim durian, kami tetap berdagang. Ini sudah menjadi cara hidup,” tutupnya.

Berdampak Langsung

Ketua Tim Kerja Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Edo Maryadi, mewakili Kepala Dinas menyampaikan bahwa durian Babel memiliki berbagai jenis yang tumbuh dengan baik, mulai dari durian alami di desa-desa hingga durian unggulan yang telah melalui seleksi dan pengembangan pemerintah.

Menurutnya, pengembangan durian memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Pada saat musim durian tiba, peredaran uang dari desa hingga kota mengalami peningkatan yang signifikan.

“Musim durian membuat perekonomian bergerak. Petani mendapat untung, pedagang juga untung, serta aktivitas perdagangan meningkat,” ujar Edo, Jumat (19/12).

Meskipun ada risiko buah yang busuk atau tidak matang, Edo menganggap bahwa secara keseluruhan para petani dan pedagang tetap mendapatkan keuntungan.

“Meskipun ada yang rusak, tetap menguntungkan. Hal ini menunjukkan nilai eko nominya tinggi,” katanya.

Berdasarkan data Statistik Pertanian DPKP Babel, luas tanam durian pada tahun 2024 tercatat sebesar 2.487,20 hektare dengan luas panen mencapai 841,74 hektare.

Jumlah produksi durian mencapai 7.061,90 ton dengan tingkat hasil rata-rata sebesar 8,39 ton per hektar setiap tahun.

Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang mencatatkan produksi sebesar 5.807,85 ton dari luas panen 672,23 hektare.

Peningkatan produksi ini dianggap sebagai tanda meningkatnya intensitas panen buah durian lokal di perkebunan milik rakyat, sekaligus memperkuat posisi durian sebagai penggerak ekonomi masyarakat, khususnya para petani dan pedagang musiman.(x1)

Pos terkait