Tiga Bocah Tewas Tertahan di Kebakaran Anggana

Kebakaran di Gang Muli: Tragedi yang Mengguncang Warga dan Menuntut Evaluasi

Kebakaran hebat yang terjadi di Gang Muli atau Sungai Purun RT 21, Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, menelan tiga nyawa bocah kecil yang sangat dekat dengan Rosi, tetangga yang sering mengasuh mereka. Peristiwa ini tidak hanya menghanguskan 16 bangunan, tetapi juga menjadi pengingat penting akan kesiapsiagaan warga terhadap bahaya kebakaran.

Tangis Pilu di Tengah Puing-Puing

Di antara puing-puing yang tersisa, tangis pilu Rosi pecah. Bagi perempuan itu, yang hilang bukan sekadar barang-barang atau dinding rumah tetangga yang luluh lantak, melainkan tiga bocah kecil yang selama ini meramaikan hari-harinya: Abdul Afif Alfarizi (6), Abizar Ramadani (4), dan Aninda Cahaya Putri Dewinda (1). Ketiganya adalah anak dari Winda Amelia Putri, tetangga yang baru beberapa bulan tinggal di kontrakan tersebut.

Bagi Rosi, ketiganya jauh lebih dari sekadar anak tetangga. “Mereka hiperaktif. Saya sering urus mereka kalau mamanya capek,” ujarnya sambil mengusap air mata yang tak henti menetes. “Biasa saja, anaknya ceria-ceria,” tambahnya, mencoba tersenyum saat mengenang tawa tiga bocah itu.

Jamila, ibu Rosi sekaligus tetangga dekat keluarga korban, juga mengenal baik Winda. “Aman saja dia, baik orangnya,” katanya. Menurut Jamila, keluarga kecil itu hidup layaknya keluarga lain, meski sesekali ada dinamika rumah tangga seperti umumnya.

Namun nahas, saat kebakaran terjadi, baik Jamila maupun Rosi tidak berada di rumah. Jamila sedang membantu iparnya berjualan, sementara Rosi sedang melayat ke rumah tetangga. “Saya tidak ada saat kejadian, anak saya juga tidak ada,” ujarnya.

Rosi menuturkan, Winda baru saja keluar rumah beberapa menit sebelum api berkobar. Ia baru mengetahui kebakaran setelah mendapat telepon dari warga. “Baru beberapa menit dia keluar, dia ditelepon keluarga bahwa di sini ada kebakaran,” jelas Rosi. “Dia (Winda) tidak tahu ke mana saat itu,” tambahnya.

Kepergian tiga malaikat kecil itu menyisakan luka yang dalam bagi warga sekitar, terlebih bagi Rosi yang selama ini begitu dekat dengan mereka.

Minim Kesiapsiagaan

Kebakaran besar itu tidak hanya menghanguskan 16 bangunan, tetapi juga membuka mata pemerintah kecamatan tentang lemahnya kesiapsiagaan warga terhadap bahaya kebakaran. Camat Anggana, Rendra Abadi, mengaku terpukul melihat rumah-rumah warga rata dengan tanah hanya dalam hitungan menit.

“Api cepat menjalar karena rumah-rumah di sana berbahan kayu. Relawan dan pemadam sudah bergerak, tapi situasinya sangat cepat berubah,” ujarnya. Rendra menilai tragedi ini harus menjadi momentum memperkuat perlindungan kebakaran di tingkat RT. Ia menegaskan bahwa perlengkapan pemadaman dini masih jauh dari memadai.

“Ini menjadi evaluasi besar bagi kami. Ke depannya, setiap RT harus punya mesin pemadam portable. Setidaknya ada peralatan awal sambil menunggu bantuan datang,” tegasnya.

Asal Api Masih Dicari

Kebakaran diduga bermula dari salah satu rumah kontrakan enam pintu yang saat kejadian dalam keadaan terkunci. Tiga anak yang berada di dalam bangunan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri ketika api membesar. Warga pertama kali melihat asap keluar dari celah bangunan, lalu berupaya memadamkan api dengan alat seadanya sebelum petugas tiba.

Proses pemadaman berlangsung hampir dua jam dan melibatkan banyak relawan, seperti Barokah Perkasa Grup, MPS, Relawan Sudomulyo, Sungai Lais, serta Sei Kapih Samarinda. Rendra mengapresiasi kerja keras relawan, tetapi menegaskan bahwa ketergantungan kepada relawan saja tidak cukup.

“Kita harus kuatkan dari bawah. Kalau tiap RT punya alat, setidaknya api bisa ditahan sambil menunggu bantuan,” katanya.

Penyelidikan Berlanjut

Polisi masih menyelidiki sumber api serta kemungkinan adanya unsur kelalaian. Sementara itu, pemerintah kecamatan mulai mendata kerugian dan memfasilitasi kebutuhan mendesak keluarga korban. “Kami turut berduka dan memastikan keluarga korban tidak menghadapi ini sendirian,” tutup Rendra.

Labfor Telusuri Asal Api

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Surabaya bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi pasca kebakaran yang terjadi di Gang Muli atau Sungai Purun RT 21, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis (11/12) lalu. Investigasi dilakukan pada Jumat (12/12) untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran yang menewaskan tiga bocah di rumah kontrakan tersebut.

Pemeriksaan berlangsung mulai pukul 13.30 WITA hingga sekitar pukul 16.00 WITA. “Tim Labfor Polri berjumlah tiga orang tiba pukul 13.30 WITA, dan proses investigasi masih berlangsung,” ujar Alif, Bhabinkamtibmas Desa Sungai Meriam, Anggana.

Pantauan Tribun Kaltim di lokasi kejadian menunjukkan dua petugas mengenakan pakaian bertuliskan Labfor Polri, didampingi tim Inafis Polres Kutai Kartanegara. Mereka secara hati-hati menggali puing-puing bangunan yang hangus untuk mencari barang bukti.

Setelah lebih dari dua jam bekerja, tim Labfor menemukan dan membawa sejumlah barang bukti, yang dibungkus dengan plastik bening sebelum dimasukkan ke tas berukuran sedang. Barang bukti tersebut kemudian dibawa ke laboratorium forensik untuk diuji lebih lanjut, guna mengungkap penyebab pasti kebakaran yang merenggut tiga nyawa tersebut.


Pos terkait