—Komitmen pribadi Larry Ellison sebesar kira-kira 40,4 miliar dolar AS, setara dengan Rp675 triliun berdasarkan kurs Rp16.740 per dolar AS, dalam mendukung tawaran Paramount–Skydance menunjukkan lebih dari sekadar langkah bisnis besar.
Tindakan tersebut menunjukkan perubahan mendasar dalam cara sejumlah miliarder global memahami filantropi—bukan lagi melalui bantuan sosial tradisional, tetapi melalui penguasaan dan pengembangan industri strategis.
Ellison, pendiri Oracle yang kini berusia 81 tahun, memberikan jaminan pribadi terkait pendanaan saham dan utang dalam upaya Paramount untuk mengakuisisi Warner Bros. Discovery. Jaminan tersebut disampaikan melalui dokumen resmi kepada otoritas sekuritas Amerika Serikat, setelah menawarkan pembayaran tunai sebesar USD 30 per saham kepada pemegang saham perusahaan media tersebut.
Dilansir dari Fortune, Rabu (24/12/2025), komitmen Ellison ini “bukan berupa bantuan sosial dalam arti tradisional,” melainkan contoh dari kapitalisme yang bersifat filantropis (philanthropic capitalism), yaitu pendekatan di mana kekayaan pribadi digunakan melalui mekanisme pasar untuk mereformasi sektor-sektor penting, termasuk industri media dan teknologi.
Fortunemenekankan bahwa “tindakan tersebut bukan hanya investasi sampingan, tetapi gambaran bagaimana Larry Ellison memenuhi komitmennya untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaannya.” Alih-alih melalui donasi amal tradisional, Ellison memutuskan mengalirkan dana besar kepada entitas yang ia yakini mampu mereformasi sistem secara luas, termasuk di sektor hiburan. Dalam analisisnya, Fortunemenilai kegiatan filantropi Ellison sejalan dengan strategi bisnis.
Pendekatan ini berbeda jauh dengan model filantropi yang diambil oleh tokoh lain, seperti MacKenzie Scott, yang mendistribusikan miliaran dolar AS langsung kepada ribuan lembaga nirlaba, atau Mark Zuckerberg melalui Chan Zuckerberg Initiative (CZI) yang menggabungkan tujuan sosial dengan pendanaan penelitian ilmiah. Ellison, di sisi lain, memilih untuk menempatkan pengaruhnya pada infrastruktur dasar yang membentuk produksi dan distribusi informasi global.
Berdasarkan pendapat para ahli ekonomi yang dilansirFortune, jaminan pribadi Ellison mencerminkan keyakinan bahwa kepemilikan terhadap studio, kumpulan konten, dan platform distribusi “lebih berdampak dalam jangka panjang dibanding hanya mendanai program-program sosial secara terpisah.” Pandangan ini memperkuat pergeseran dari filantropi berbasis hibah menuju filantropi berbasis kendali struktural.
Namun, strategi tersebut juga menimbulkan kritik. Seorang analis yang dikutipTruthoutmengatakan, “Larry Ellison merupakan ancaman bagi jurnalisme dan demokrasi,” sambil menyoroti bahaya konsentrasi kepemilikan media di tangan sejumlah kecil miliarder yang memiliki modal yang hampir tidak terbatas.
Di sisi lain, usaha Paramount belum sepenuhnya lancar. Reutersmelaporkan bahwa dewan direksi Warner Bros. Discovery hingga saat ini masih menolak tawaran tersebut dan sedang mempertimbangkan opsi lain, termasuk dari Netflix. Penolakan ini terkait dengan struktur pendanaan serta kemungkinan dampak konsolidasi industri media global, yang menjadi fokus utama para regulator dan pemegang saham.
Namun, tindakan Ellison menunjukkan satu hal jelas, yaitu bagi sejumlah miliarder di era teknologi, kegiatan filantropi tidak lagi terbatas pada yayasan atau bantuan sosial. Pendekatan ini kini diwujudkan melalui pengambilalihan, pengelolaan portofolio keuangan, serta penguasaan sektor industri, sebuah model yang mengaburkan batas antara memberi, berinvestasi, dan membentuk arah ekonomi global.
Di sini, komitmen Ellison sebesar Rp675 triliun bukan hanya terkait dengan Paramount atau ambisi keluarga. Besarnya jumlah dan arah tindakan ini mencerminkan tren baru di kalangan tokoh teknologi, di mana mekanisme kapitalisme—melalui investasi dan pengambilalihan—ditempatkan sebagai alat untuk menciptakan dampak sosial. ***
