Tak masalah Jokowi tolak mediasi kasus ijazah palsu, Roy Suryo cs juga ogah damai: Bangsa ini ditipu

Ringkasan Berita:

  • Jokowi tegas menutup pintu damai dengan Roy Suryo Cs dan memilih jalur pengadilan untuk menunjukkan ijazah aslinya sebagai pembelajaran hukum bagi publik.
  • Pihak Roy Suryo juga menolak mediasi karena meyakini ijazah tersebut palsu dan menganggap perdamaian sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat.
  • Jokowi menduga ada operasi politik dan keterlibatan “orang besar” di balik isu ini untuk menurunkan reputasinya melalui tuduhan yang dianggap asal-asalan.

 

Bacaan Lainnya

Kubu Roy Suryo Cs tak mempermasalahkan pihak Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang menolak mediasi di kasus tudingan ijazah palsu. 

Jokowi pernah menegaskan bahwa dirinya menutup pintu mediasi untuk Roy Suryo Cs.

Mantan Wali Kota Solo itu bahkan meminta kasus ini diselesaikan di pengadilan sebagai pembelajaran bersama. 

“Iya, untuk pembelajaran kita semuanya.”

“Bahwa jangan sampai gampang menuduh orang, jangan sampai gampang menghina orang, memfitnah orang, mencemarkan nama baik seseorang,” kata Jokowi dikutip dari wawancara Eksklusif Kompas TV, Selasa (9/12/2025). 

Jokowi berharap, penegakan hukum kasus ini bisa diputus di pengadilan.

“Akan lebih baik untuk pembelajaran kita semuanya,” katanya. 

Jokowi juga berjanji akan menunjukkan ijazah aslinya di pengadilan.

“Ya, itu forum yang paling baik untuk menunjukkan ijazah asli saya. Dari SD, SMP, SMA, universitas, semuanya akan saya bawa,” tegasnya. 

Jokowi khawatir jika isu ijazah palsu ini terus bergulir, maka akan merembet yang lainnya seperti menteri, presiden, gubernur, bupati, walikota, dengan semuanya dengan tuduhan asal-asalan.

“Ini untuk pembelajaran kita semuanya,” tegasnya. 

Jokowi mengaku selama ini diam saja dan tidak banyak menanggapi karena dia yakin dengan ijazah asli yang dipegangnya. 

Dia tidak menunjukkan ijazah karena dua alasan. Pertama, karena ada aduan di Bareskrim. 

“Yang kedua, saya dituduh ijazah saya palsu. Artinya, yang menuduh itu yang harus membuktikan.”

“Dalam hukum acara, siapa yang menuduh itu yang harus membuktikan. Itu yang saya tunggu. Coba dibuktikannya seperti apa?,” katanya.

Menurut Jokowi, akan lebih baik kalau pembuktian tudingan ijazah palsu ini di pengadilan karena akan kelihatan proses hukum yang adil. 

“Karena yang membuat ijazah saya sudah menyampaikan asli, masih tidak dipercaya, gimana?,” kata Jokowi sambil tersenyum. 

Jokowi melihat ada agenda besar politik dan ada operasi politik sehingga isu ijazah palsu ini sampai bertahun-tahun tidak selesai.

Menurut Jokowi, ada keinginan pihak tertentu yang mau men-downgrade dan menurunkan reputasi yang dia miliki.

“Meskipun saya enggak merasa punya reputasi apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum. 

Kenapa harus diturunkan reputasinya? 

Jokowi menduga ada kepentingan politik di baliknya.

“Kenapa sih kita harus mengolok-olok, menjelek-jelekkan, merendahkan, menghina, menuduh-nuduh? Semua dilakukan untuk apa? Kalau hanya untuk main-main kan mesti ada kepentingan politiknya di situ,” katanya. 

Jokowi pun masih dengan keyakinannya bahwa ada orang besar di balik isu ijazah palsu terhadap dirinya. 

“Saya pastikan. Iya,” katanya.

Siapa orang besar itu? 

“Ya, saya kira gampang ditebak lah. Tapi (saya) tidak tidak berusaha sampaikan,” jawabnya. 

Menurut Jokowi, di tengah masa-masa ekstrem seperti ini, seharusnya konsentrasi untuk hal yang besar, untuk strategi besar negara, untuk kepentingan yang lebih besar bagi negara ini.

“Misalnya tadi yang berkaitan dengan menghadapi masa-masa ekstrem, menghadapi masa-masa perubahan karena artificial intelligence, karena humanoid robot.”

“Sehingga jangan malah kita energi besar kita pakai untuk urusan-urusan yang sebetulnya menurut saya ya urusan ringan,” ujarnya. 

Tanggapan Kubu Roy Suryo Cs

Pernyataan Jokowi itu mendapat tanggapan dari kubu Roy Suryo Cs. 

Kuasa hukum Roy Suryo Cs, Abdul Gafur Sangadji, menyebut bahwa kliennya pun tak sudi berdamai dengan Jokowi. 

Menurut Abdul Gafur, Menteri Pemuda dan Olahraga RI (Menpora) periode 15 Januari 2013 – 20 Oktober 2014 itu meyakini bahwa ijazah Jokowi memang palsu.

“Saya sudah tanya sama Mas Roy, ‘Mas Roy mau berdamai dengan Pak Joko Widodo?‘ ‘Oh, enggak. Saya enggak mau damai sama Pak Joko Widodo,’” kata Abdul Gafur saat menghadiri podcast di Youtube Forum Keadilan TV.

“‘Kenapa Mas Roy enggak mau damai sama Pak Joko Widodo?‘ ‘Karena saya yakin ijazah itu palsu. Saya nggak mau bangsa ini ditipu dengan selembar ijazah, dan dengan selembar ijazah itu kemudian dia mendapatkan jabatan presiden’,” ujar Gafur mengulang percakapan dengan Roy Suryo. 

Sudah Tegas Tak Mau Tempuh Jalur Damai

Tim kuasa hukum Roy Suryo lainnya, Ahmad Khozinudin, pihaknya enggan untuk berdamai karena jika sepakat untuk berdamai, maka itu adalah bentuk pengkhianatan kepada rakyat Indonesia.

Selain itu, dia juga menegaskan langkah damai telah tertutup karena pihaknya meyakini bahwa ijazah Jokowi palsu.

“Justru sejak awal Jokowi tidak pernah mau damai.”

“Dan hari ini, kalau kami mengambil perdamaian, itu sama saja kami melakukan deklarasi pengkhianatan terhadap seluruh rakyat Indonesia,” tutur Ahmad saat mengajukan gelar perkara khusus di Polda Metro Jaya, Jakarta pada Kamis (20/11/2025) lalu.

“Hal itu tidak mungkin dilakukan terutama oleh Pak Roy dan Pak Rismon yang selama ini telah meyakinkan kita 99 persen ijazah itu palsu, 11 triliun persen ijazah itu palsu, dan seluruh rakyat meyakini keyakinan Pak Roy dan Pak Rismon.”

Penolakan jalur damai ini tercetus setelah sehari sebelumnya, kritikus politik Faizal Assegaf mengusulkan agar Roy Suryo cs melakukan mediasi dengan kubu Jokowi terkait polemik tudingan ijazah palsu.

Usul ini disampaikan Faizal saat audiensi dengan Komisi Percepatan Reformasi Polri di kampus STIK-PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/11/2025).

Faizal menilai, penyelesaian perkara ijazah Jokowi ini dapat ditempuh dengan pendekatan ideologis dan dialogis, tanpa harus dibawa ke proses hukum.

“Kami berharap tim reformasi Polri dapat memediasi kasus-kasus hukum yang dianggap inkontra produktif, yang dianggap tidak penting barangkali bisa diselesaikan melalui pendekatan-pendekatan ideologis,” kata Faizal.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

Pos terkait