Pada akhir tahun 2025, tepatnya di ujung bulan Desember yang sunyi dan penuh renungan, pikiran perlahan menerawang jauh ke masa lalu. Seperti menelusuri lorong waktu yang panjang, saya mencoba melihat kembali jejak langkah yang telah ditempuh: apa saja yang telah saya lakukan, apa yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain, serta impian apa yang masih tertinggal dan belum terwujud sejak rencana tahun sebelumnya.
Semua itu saya rangkum sebagai bahan muhasabah, agar dapat disusun ulang menjadi daftar prioritas yang lebih matang dalam merangkai resolusi untuk tahun yang baru. Mengapa semua ini saya lakukan? Karena dengan menelaah kembali apa yang pernah dikerjakan di masa lalu, kita dapat menemukan pijakan yang kokoh untuk menjalani kehidupan hari ini. Rekam jejak itu menjadi cermin yang menunjukkan arah, sekaligus bekal berharga untuk melangkah lebih mantap menuju kehidupan yang ingin dicapai di masa depan.
Setelah menelaah perjalanan yang telah berlalu, saya menyadari bahwa masih banyak resolusi tahun 2025 yang belum berhasil saya tuntaskan. Karena itu, dalam menyusun rencana untuk tahun 2026, saya tidak ingin sekadar membuat daftar baru. Saya memasukkan kembali sejumlah resolusi 2025 yang masih tertinggal, berharap tahun ini dapat menjadi momentum untuk benar-benar mewujudkannya. Alhasil, lahirlah sebuah daftar resolusi 2026 yang terbilang gemuk, penuh dengan rencana, target, dan tekad yang menumpuk, seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup selalu memberi ruang untuk memperbaiki apa yang belum selesai.
Anak dan Cucu Menjadi Inspirasi
Sebelum saya mengisahkan apa yang menjadi resolusi prioritas saya pada tahun 2026, izinkan saya terlebih dahulu menceritakan bagaimana perjalanan saya memulai belajar menulis. Sebab setiap tujuan selalu memiliki akar, dan bagi saya, akar dari resolusi tahun ini berawal dari langkah-langkah kecil ketika pertama kali mencoba menata kata, memahami alurnya, dan belajar menuangkan pikiran menjadi cerita yang utuh.
Dari sanalah perjalanan menulis ini dimulai, perlahan namun pasti, membentuk jejak yang membawa saya hingga ke titik refleksi hari ini. Pada tahun 2024, saya bergabung dengan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), sebuah komunitas menulis yang berada di bawah naungan organisasi PGRI. Sejak mengikuti kelas tersebut, kebiasaan menulis saya semakin terasah. Saya mulai rajin menuliskan berbagai hal, apa saja yang terjadi di sekitar rumah, dinamika di sekolah, hingga cerita-cerita kecil tentang kebiasaan pribadi dan tingkah laku anak-cucu yang kerap menghadirkan inspirasi.
Dari kegiatan menulis sederhana itulah, saya merasakan bahwa setiap pengalaman, sekecil apa pun, ternyata memiliki nilai dan makna yang layak diabadikan. Dalam rentang waktu tersebut, lahirlah tiga buku yang menjadi buah dari konsistensi dan kegembiraan saya dalam menulis. Dua di antaranya merupakan refleksi dari keseharian keluarga, terutama kebiasaan dan tingkah laku cucu yang sering kali menghadirkan inspirasi tanpa diduga. Sementara satu buku lainnya berisi kumpulan tulisan yang saya hasilkan selama mengikuti latihan menulis di Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI.
Ketiga buku itu menjadi penanda bahwa proses menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang merawat ingatan dan mengabadikan perjalanan hidup.
Melawan Writer’s Block
Buku ketiga terbit pada bulan Juli 2025, dan anehnya, setelah momen itu justru semangat menulis saya terasa menurun. Entah karena terkena “penyakit” writer’s block, atau mungkin jemari ini mulai enggan menari di atas keyboard. Padahal, mentor menulis saya, Teh Ovi, selalu menjadi sosok yang tak henti-hentinya mendorong saya untuk kembali ke habitat menulis. Beliau ibarat kompor Hock dengan api panas yang stabil, mampu mencairkan es yang membeku, bahkan membuat air mendidih.
Semangatnya menular, ucapannya selalu menggerakkan, dan nasihatnya membuat saya merasa bahwa masih banyak cerita yang menunggu untuk dituliskan. Begitu pula dengan salah satu narasumber di KBMN, Bunda Kanjeng, yang akrab dijuluki “ratu antologi.” Beliau pun tak kalah gigih dalam memberikan motivasi. Hampir setiap waktu beliau mengingatkan dan menagih naskah agar bisa segera diterbitkan melalui penerbit yang bekerja sama dengannya.
Bahkan, demi memacu saya agar kembali produktif, beliau kerap mengirimkan naskah pantun untuk saya review. Sikapnya seolah berkata bahwa menulis bukan hanya kemampuan, tetapi juga kedisiplinan yang harus dirawat. Dengan dorongan dua sosok tersebut, perlahan semangat menulis saya mulai menemukan jalannya kembali. Namun, berbagai motivasi dan dorongan itu rupanya belum cukup membuat saya bergerak. Ide terasa mandek, alur tulisan yang biasanya mengalir kini seolah macet di persimpangan, dan jari-jemari pun terasa kaku hanya untuk sekadar menekan tuts keyboard. Seakan-akan ada dinding tak kasatmata yang menghalangi saya untuk kembali menulis seperti dulu.
Meski begitu, api menulis itu sebenarnya tidak pernah benar-benar padam. Dalam sunyi yang tersembunyi, ia masih menyala kecil, menolak mati sepenuhnya. Sesekali saya tetap mencatatkan gagasan, menuliskan puisi, atau menumpahkan refleksi di https://kedirinews.commaupun di blog pribadi. Meski tidak sesering dulu, langkah kecil itu saya lakukan sebagai bentuk upaya menjaga agar nyala yang tersisa tetap hidup, menunggu waktu yang tepat untuk kembali berkobar.
Memilih Skala Prioritas
Memilih dan memilah sesuatu untuk dijadikan prioritas dari sekian banyak rencana tentu bukan perkara sederhana. Dibutuhkan pertimbangan yang matang, menimbang mana yang membawa lebih banyak manfaat, mana yang lebih mendesak, serta seberapa besar waktu dan energi yang harus dicurahkan. Proses ini menuntut kejujuran pada diri sendiri, apakah sebuah rencana benar-benar penting atau hanya sekadar keinginan yang bisa menunggu. Dengan mempertimbangkan untung ruginya serta efektivitas waktu yang diperlukan, barulah sebuah prioritas dapat ditetapkan dengan bijak.
Setelah menimbang berbagai pertimbangan yang muncul di benak (mulai dari manfaat, urgensi, hingga efektivitas waktu) saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang terasa paling kuat. Prioritas utama saya di tahun 2026 adalah melanjutkan penulisan autobiografi tentang perjalanan hidup saya sebagai seorang guru. Inilah rencana yang bukan hanya penting bagi diri saya pribadi, tetapi juga memiliki nilai yang ingin saya wariskan kepada keluarga, rekan kerja, dan siapa pun yang kelak membaca kisah tersebut.
Dengan tekad baru, saya ingin memastikan bahwa karya ini benar-benar menemukan wujudnya. Kenapa Saya Memilih Menulis Buku
Saya kembali memasukkan rencana besar itu (menyelesaikan penulisan buku autobiografi) ke dalam target tahun 2026. Ada harapan yang saya titipkan di dalamnya: semoga buku tersebut dapat menjadi hadiah istimewa bagi para rekan kerja ketika tiba waktunya saya menutup masa pengabdian sebagai seorang pendidik. Sebuah kenang-kenangan yang bukan hanya memuat cerita hidup, tetapi juga jejak perjalanan bersama mereka yang telah mewarnai langkah saya.
Selain itu, saya pun menyimpan harapan lain: ketika kelak buku autobiografi itu dibaca oleh keluarga saya (terutama anak-anak dan cucu-cucu) mereka dapat memahami betapa panjang dan berat perjuangan yang telah saya jalani. Dari langkah yang nyaris dimulai dari titik nol, hingga akhirnya perlahan bergerak menuju angka seratus. Semoga kisah itu menjadi cermin, pelajaran, dan inspirasi bahwa setiap pencapaian selalu lahir dari kesabaran, kegigihan, dan keteguhan hati.
Dan langkah awal untuk memulai kembali penulisan autobiografi itu saya mulai dengan menelaah ulang outline serta bagian pembukaan yang pernah saya susun. Saya mencoba membaca kembali alurnya, merasakan ulang semangat awal yang dulu sempat menyala, dan menata pikiran agar cerita yang ingin saya sampaikan dapat berjalan lebih runtut dan jernih. Dengan bekal itu, saya bertekad bahwa mulai awal tahun depan saya akan lebih fokus melanjutkan tulisan yang sempat tertunda.
Harapannya, pada akhir tahun 2026 nanti, naskah tersebut sudah siap dikirim kepada editor. Sehingga, ketika saya memasuki masa purnabakti di tahun 2027, buku itu dapat menjadi kado perpisahan yang bermakna bagi para rekan kerja, sebuah jejak hidup yang dibingkai dalam kata-kata.
Penutup
Walaupun tantangan berupa writer’s block terasa seperti dinding tak kasatmata yang sulit ditembus, kisah ini adalah bukti bahwa api menulis itu tidak pernah benar-benar padam. Berkat dorongan hangat dari mentor yang tak henti-henti mengingatkan pada kedisiplinan, serta upaya kecil yang terus dilakukan (mencatat gagasan dan menumpahkan refleksi di sela-sela jeda) nyala itu berhasil dijaga. Perjalanan ini mengajarkan bahwa menjadi penulis bukan hanya tentang produktivitas, tetapi tentang ketekunan untuk kembali berdiri setelah jatuh.
Dan kini, dengan semangat yang perlahan pulih, saya siap untuk membiarkan nyala kecil itu berkobar lagi, menunggu cerita-cerita baru menemukan jalannya untuk tertulis.
