Susno Duadji Ungkap Bukti Pembunuh Anak Maman Suherman, Selain CCTV

Ringkasan Berita:

  • MAHM (9) ditemukan meninggal dunia dengan banyak luka di rumahnya di Cilegon, Banten.
  • Susno Duadji menegaskan bahwa kamera pengawas bukanlah satu-satunya alat yang digunakan dalam penyelidikan.
  • Petugas kepolisian mampu memanfaatkan sidik jari, komunikasi digital, serta pengujian DNA.
  • Sampai saat ini, penyidik telah memanggil delapan saksi dan menantikan hasil pemeriksaan otopsi.

 

Bacaan Lainnya

– Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, menegaskan bahwa rekaman kamera pengawas atau CCTV bukan satu-satunya sumber bukti yang bisa digunakan oleh pihak kepolisian dalam mengungkap kasus pembunuhan MAHM (9), putra dari politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Maman Suherman, di Kota Cilegon, Banten.

Jasad korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dengan darah yang mengalir di kamarnya di Perumahan BBS 3, Ciwaduk, pada Selasa (16/12/2025).

Berdasarkan pemeriksaan awal, jasad korban mengalami 19 luka tusukan akibat benda tajam serta tiga luka lebam yang diduga disebabkan oleh benda tumpul.

Darah korban tidak hanya terdapat di dalam kamar, tetapi juga ditemukan di beberapa lokasi berbeda di dalam rumah.

Polisi telah memastikan bahwa kejadian mengerikan itu bukanlah tindakan pencurian.

Sampai saat ini, belum ada tersangka yang ditetapkan, meskipun penyidik mengklaim telah memiliki petunjuk awal mengenai kemungkinan pelaku.

Di sisi lain, pihak berwajib masih belum menemukan senjata atau alat yang digunakan untuk membunuh korban.

Keadaan ini semakin memburuk karena fakta bahwa kamera pengawas di rumah korban tidak beroperasi pada saat kejadian.

Kamera pengawas itu dikatakan mengalami kerusakan sejak dua minggu sebelum kejadian terjadi.

Penggunaan Alat Bukti Ilmiah Menjadi Kunci Utama

Merespons situasi tersebut, Susno Duadji menekankan perlunya pendekatan yang didasarkan pada bukti ilmiah atau saintifik dalam proses penyelidikan.

Menurutnya, jenis alat bukti ini memiliki tingkat keakuratan yang tinggi dan tidak mudah dimanipulasi.

Apa saja yang dapat diketahui dari kasus ini? Bukti ilmiah yang kita selidiki terlebih dahulu, karena bukti ilmiah sangat penting, mengingat bukti ilmiah tidak pernah berbohong. Kita perlu mencari sidik jari,” katanya, Minggu (21/12/2025), dilansir dari YouTube Kompas TV.

Jejak jari di pintu, jejak jari di meja, jejak jari di alat yang digunakan, jika memang masih ditemukan misalnya ada pisau, ada sarung tangan atau benda tajam atau benda tumpul yang digunakan dalam melakukan tindak pidana tersebut.

“Jika tidak demikian, bisa juga ditemukan di tempat lain selain pintu, seperti meja atau area sekitar lokasi tersebut, yang merupakan barang bawaan dari korban, sidik jari,” tambahnya.

Jejak Digital dan Uji DNA Menjadi Pilihan Lain

Selain sidik jari, Susno menyebutkan pengawasan jejak komunikasi digital sebagai tindakan penting selanjutnya.

Pemeriksaan ponsel korban, keluarga, maupun saksi dianggap mampu mengungkap petunjuk yang belum ditemukan sebelumnya.

“Bukti berupa komunikasi digital di ponsel, baik di ponsel orang tua, ponsel kakak, ponsel anak itu sendiri, jika ada ponsel, di ponsel pembantu dan di ponsel siapa pun yang menjadi saksi, yang dianggap mampu mengungkap perkara ini,” katanya.

“Di ponsel tersebut akan terlihat ada percakapan melalui WhatsApp, apakah ada percakapan melalui SMS, panggilan telepon dan lainnya. Hal ini akan memberikan petunjuk,” tambah Susno.

Jika kedua metode tersebut masih belum memberikan hasil, Susno menegaskan bahwa tes DNA bisa menjadi bukti yang sangat kuat dan sulit ditolak.

Satu bukti lain yang tidak dapat disangkal adalah DNA, karena DNA ini mampu mengungkap siapa saja yang pernah berada di sekitar lokasi dan siapa saja yang meninggalkan jejak, bahkan yang sangat kecil sekalipun. Ini merupakan alat bukti ilmiah yang tidak bisa dipertentangkan,” tegasnya.

Peran Saksi dan Ahli Masih Diperlukan

Tidak hanya bukti ilmiah, Susno menegaskan bahwa keterangan saksi dan ahli juga memainkan peran yang sangat penting dalam kerangka hukum acara pidana.

Bukti lain yang diatur dalam hukum acara pidana adalah keterangan saksi dan keterangan ahli. Dari mana keterangan ahli diperoleh? Keterangan ahli diperoleh melalui pemeriksaan otopsi, baik otopsi luar maupun internal,” jelasnya.

Saat ini, pihak kepolisian masih menantikan hasil otopsi resmi dari korban.

Penyidik juga telah memanggil delapan saksi, baik dari lingkungan keluarga maupun pihak luar, untuk mengungkap secara menyeluruh kasus pembunuhan yang menjadi perhatian publik.

Pelaku Diduga Orang Dekat

Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri, menduga pelaku pembunuhan MAHM (9), putra politisi PKS Maman Suherman, adalah seseorang yang dekat dengan korban.

Reza Indragiri menyatakan bahwa MAHM mungkin merupakan objek pengganti dari sasaran utama pembunuhan.

Anak berusia 9 tahun mengalami cedera yang sangat parah dan banyak.

“Mungkin saja orang yang membunuh korban tidak benar-benar memilih korban sebagai sasaran utamanya,” kata Reza Indragiri dalam wawancara dengan KompasTV, Jumat (19/12/2025).

Menurutnya, sasaran utama pembunuhan adalah orang-orang yang dekat dengan korban.

Mungkin pelaku menargetkan pihak lain yang memiliki hubungan dengan korban, seperti orang tua korban.

“Namun karena tidak mungkin melakukan serangan langsung terhadap orang tua korban, maka korban dijadikan sebagai objek pengganti atau substitusi,” tambah Reza.

Namun, ia mengatakan bahwa antara motif dan sosok pelaku tidak selalu sejalan.

Tidak selalu orang yang menewaskan korban adalah orang yang benar-benar memiliki kepentingan atas kematian korban.

“Tetapi kepentingan pihak yang terlibat adalah pihak lain, namun karena tidak mampu mencapai pihak tersebut maka dicari penggantinya,” kata Reza.

Selanjutnya, Reza menjelaskan analisis mengenai penyebab MAHM menjadi korban.

“Mengapa korban digunakan sebagai pengganti? karena anak-anak merupakan kelompok yang rentan menjadi sasaran kejahatan,” kata Reza.

Selanjutnya, Reza mengungkap dua petunjuk penting mengenai identitas tersangka pembunuhan MAHM.

Pertama, individu yang memiliki akses ke rumah korban.

Karena rumah korban yang mewah dan memiliki banyak kamar, tetapi pelaku dengan mudah mengetahui posisi MAHM.

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Selanjutnya, tersangka diduga memahami dengan jelas kondisi dan situasi para penghuni rumah. 2. Berikutnya, pelaku diduga mengetahui secara pasti keadaan dan kondisi penghuni rumah. 3. Kemudian, terduga pelaku diketahui memiliki pengetahuan mendalam tentang kondisi dan keadaan penghuni rumah. 4. Selanjutnya, pelaku diduga paham betul mengenai kondisi dan situasi penghuni rumah. 5. Berikutnya, tersangka diduga tahu persis tentang keadaan dan kondisi penghuni rumah.

Saya membayangkan pelaku memiliki akses ke rumah tersebut. Selanjutnya, dapat memprediksi kondisi di dalam rumah itu seperti apa, yaitu anak tidak terawat.

“Argumen seperti ini, kemungkinan dilakukan oleh seseorang yang sudah memahami kondisi rumah serta keluarga pemilik rumah tersebut,” kata Reza.

Mengenai dugaan pelaku merupakan seseorang yang dekat, Reza menyatakan kemungkinan tersebut perlu diinvestigasi.

“Bisakah disebut sebagai (terduga pelaku) orang dekat? saya memilih istilah orang yang memahami kondisi rumah serta keluarga pemilik rumah tersebut,” tambahnya.

(Tribunnews/Putra Dewangga)

>>>Berita terkini di Googlenews

Pos terkait