Selama bertahun-tahun, vaksin human papillomavirus (HPV) sering dikaitkan dengan wanita. Pendekatan ini memang memberikan dampak yang signifikan. Di beberapa negara, angka kanker serviks mengalami penurunan, bahkan hingga mendekati 90 persen, sejak vaksin HPV diperkenalkan pada tahun 2006. Namun, data terbaru menunjukkan masih ada celah dalam strategi tersebut.
HPV bukan hanya bahaya bagi wanita. Virus ini sangat mudah menyebar melalui hubungan seksual, kontak kulit, atau cairan tubuh, dan menjadi penyebab sebagian besar kasus kanker serviks, serta berbagai jenis kanker lain seperti kanker anus, penis, vagina, dan kepala-leher. Setiap tahun, lebih dari 300 ribu orang di seluruh dunia meninggal akibat kanker serviks saja.
Penelitian terbaru oleh sekelompok ilmuwan Laporan terbaru dari para peneliti Kajian terbaru oleh tim ilmuwan Penelitian terbaru yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Studi terbaru yang dilakukan oleh sekelompok penelitiUniversity of Marylandyang diterbitkan dalam jurnalBulletin of Mathematical Biology, menyoroti satu masalah utama. Jika vaksinasi hanya ditujukan kepada perempuan, upaya menghapuskan kanker serviks bisa terganggu, bahkan di negara-negara dengan cakupan vaksin untuk perempuan yang tinggi.
Vaksin HPV pada laki-laki juga berkontribusi dalam mengurangi risiko kanker serviks.
Dengan menggunakan model matematika berdasarkan data kanker nasional Korea Selatan, para ilmuwan menemukan bahwa vaksinasi hanya pada perempuan saja tidak cukup untuk mencapaiherd immunity (kekebalan kelompok) terhadap strainVirus HPV dapat menyebabkan kanker. Saat ini, sekitar 88 persen remaja perempuan di negara tersebut telah menerima vaksin. Angka ini tergolong tinggi, namun belum cukup untuk menghentikan penyebaran virus secara total.
Model tersebut menunjukkan bahwa tanpa melibatkan laki-laki, hampir 99 persen perempuan perlu mendapatkan vaksin agar tercapai kekebalan kelompok—tujuan yang sangat sulit dicapai secara nyata. Sebaliknya, jika sekitar 65 persen laki-laki juga menerima vaksin HPV,herd immunitydapat dicapai melalui tingkat vaksinasi perempuan yang telah ada.
“Vaksinasi anak laki-laki mengurangi keharusan untuk vaksinasi hampir semua perempuan,” kata Abba Gumel, profesor matematika dan penulis utama studi tersebut. “Pendekatan ini membuat pencegahan kanker menjadi lebih mungkin tercapai.”
Simulasi menunjukkan bahwa meskipun cakupan vaksinasi pada perempuan turun ke 80 persen, penghapusan kanker serviks masih dapat tercapai selama sekitar 80 persen laki-laki juga menerima vaksin. Ini berarti vaksinasi HPV yang melibatkan kedua jenis kelamin memperkuat sistem perlindungan dan membuatnya lebih stabil terhadap perubahan cakupan.
Dari bias gender menuju strategi kesehatan publik yang lebih adil
Dalam dua puluh tahun terakhir, jumlah kasus kanker yang dikaitkan dengan HPV pada pria di Korea Selatan meningkat tiga kali lipat. Fakta ini menunjukkan bahwa narasi bahwa “HPV adalah masalah wanita” sudah tidak sesuai dengan bukti ilmiah maupun kebutuhan kesehatan masyarakat.
Para ilmuwan menyarankan agar anak laki-laki berusia 12–17 tahun diberikan vaksin bersamaan dengan anak perempuan, termasuk wanita dewasa yang sebelumnya belum menerima vaksin. Bukti terbaru juga menunjukkan bahwa pemberian vaksin pada usia yang lebih tua masih bisa memberi perlindungan, meskipun tingkat efektivitasnya lebih rendah dibandingkan pada usia remaja.
Di Indonesia, 90 persen anak perempuan dan laki-laki diharapkan menerima vaksin HPV pada tahun 2030. Target ini tercantum dalam Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks Indonesia (2023-2030).
Secara lebih rinci, hingga tahun 2027 diharapkan 90 persen perempuan berusia 15 tahun menerima vaksin HPV, sedangkan untuk laki-laki akan dilakukan pada periode 2028-2030. Pemeriksaan kesehatan untuk 75 persen perempuan yang berusia antara 30 hingga 69 tahun menggunakan tes DNA HPV, serta mengobati 90 persen perempuan dengan lesi pra-kanker dan kanker invasif pada tahun 2030. Dengan rencana ini, sebanyak 1,2 juta nyawa akan terselamatkan dari kanker serviks pada tahun 2070.
Secara global, para ilmuwan memperkirakan bahwa melalui penggunaan vaksin HPV secara luas dan pemeriksaan kanker serviks yang teratur, 149 dari 181 negara berpeluang menghapuskan kanker serviks pada akhir abad ini. Meningkatkan cakupan vaksinasi pada anak laki-laki dianggap sebagai salah satu faktor paling penting untuk mencapai tujuan tersebut.
“Kita tidak perlu terus-menerus kehilangan sekitar 350 ribu orang setiap tahun karena kanker serviks,” ujar Gumel. “Akhir dari HPV dan kanker yang berkaitan dengan HPV adalah sesuatu yang bisa dicapai, jika kita bersedia memperluas perlindungan vaksin.”
Tidak Hanya Serviks, Vaksin HPV Juga Menjaga Vulva dan Vagina [KUIS] Uji Pengetahuan tentang Kanker Serviks, Apakah Kamu Sudah Cukup Paham? Kanker Serviks Diperkirakan Mencapai 80 Ribu, Pemeriksaan Nasional Diperkuat
Referensi
90 Persen Anak di Indonesia Diharapkan Mendapatkan Perlindungan dari HPV.Kementerian Kesehatan RI. Diakses Desember 2025.
Soyoung Park, “Penilaian Matematis Peran Vaksinasi dan Pemeriksaan Pap pada Beban HPV dan Kanker Terkait di Korea,”Bulletin of Mathematical Biology87, nomor 12 (1 Desember 2025),https://doi.org/10.1007/s11538-025-01548-5.
Penelitian Baru Menggambarkan Jalur untuk Mengakhiri Kanker Serviks.Fakultas Komputer, Matematika, dan Ilmu Alam di Universitas Maryland. Diakses Desember 2025.
