Strategi perbankan jaring dana murah 2025

.CO.ID –  JAKARTABeberapa bank sedang berusaha mengumpulkan dana murah di akhir tahun ini guna mengurangi laju kenaikan biaya dana dengan menerapkan berbagai strategi.

Menjelang akhir tahun, sektor perbankan biasanya bersaing dalam memperoleh likuiditas agar dapat memenuhi kebutuhan dana hingga akhir tahun. Berbagai strategi telah dilakukan oleh beberapa bank, seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk, untuk menarik dana.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Perusahaan Bank Raya Ajeng Putri Hapsari menyampaikan, perusahaan secara aktif menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dari segmendigital saving.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan meningkatkanuser experience nasabah melalui percepatan transaksi non tunai di dalam aplikasi Raya App.

“Untuk meningkatkan Dana Pihak Ketiga, Bank Raya memperkuat layanan pembayaran digital seperti QRIS, Saku Bareng, Saku Bisnis, serta layanan laku pandai melalui Agen BRILink dan Agen Bank Raya,” kata Ajeng kepada , Senin (15/12/2025).

Bank Raya juga memperkenalkan fitur Quick Access QRIS dengan menu cepat di halaman masuk aplikasi agar nasabah dapat melakukan transaksi hanya dengan satu kali klik.

Selain itu, Bank Raya mendorong peningkatan kegiatan transaksi dengan berbagai promo dari merchant dan program loyalitas yang bertingkat, mulai dari tingkat Kawan, Kawan Baik, Sobat hingga Bestie.

“Program keanggotaan ini menawarkan berbagai manfaat seperti tidak adanya biaya administrasi bulanan, bebas biaya transfer, cashback untuk transaksi QRIS, serta tidak ada pembayaran tagihan bulanan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Bank Raya juga menghadirkan program undian “Pesta Raya” serta program “Raya Poin” pada tahun 2025, yang mendorong nasabah untuk meningkatkan poin undian melalui kegiatan menabung dan bertransaksi.

Bank Raya aktif meningkatkan kesadaran merek dengan menjadi sponsor di berbagai acara besar, seperti Raya Run, Beautitastic, Color Run, dan Runtastic, dengan bekerja sama dengan komunitas hobi.

Dari segi kinerja pengumpulan dana, hingga kuartal III-2025 total Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Raya tercatat sebesar Rp 9,15 triliun atau naik 16,5% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan struktur pendanaan, terlihat dari peningkatan Dana Setoran Giro dan Tabungan (CASA) menjadi Rp 2,72 triliun atau tumbuh 38,8% yoy, dengan rasio CASA mencapai 29,78%.

Ajeng menyampaikan, pertumbuhan dana murah terutama berasal dari tabungan digital yang mengalami peningkatan signifikan sebesar 61,4% year on year menjadi Rp 1,75 triliun.

“Peningkatan dana murah terus kami lakukan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan digital,” katanya.

Di masa mendatang, Bank Raya berharap pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan CASA akan terus berlangsung hingga akhir tahun ini dan tahun depan. Keyakinan ini selaras dengan peningkatan jumlah nasabah serta strategi perusahaan dalam memaksimalkan sinergi ekosistem BRI Group.

“Kami akan terus melaksanakan strategi eksploitasi dan eksplorasi guna memperluas bisnis ke pasar dan ekosistem yang baru, serta menyajikan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan,” tutup Ajeng.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga terus meningkatkan strategi pengumpulan dana murah (current account saving account(CASA) melalui penguatan lingkungan digital dan peningkatan kegiatan transaksi nasabah.

Kepala Divisi Manajemen Produk Deposito Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto menyampaikan bahwa Bank Mandiri memaksimalkan penggunaan platform digital seperti Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri guna mendorong pertumbuhan dana yang berbasis transaksi, serta memperluas basis dana murah secara bertahap.

Selain itu, peningkatan proporsi pembukaan rekening secara digital menjadi salah satu fondasi utama untuk memperkuat dasar CASA, baik di segmen ritel maupun korporasi.

Hingga bulan Oktober 2025, Bank Mandiri melaporkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang kuat dengan peningkatan melebihi 15% secara tahunan (year on year/yoy).

Jumlah DPK Bank Mandiri mencapai sekitar Rp 1.530,9 triliun. Struktur pendanaan masih didominasi oleh dana murah dengan proporsi lebih dari 71%, menunjukkan keberhasilan strategi penghematan biaya dana di tengah perubahan pasar likuiditas.

Peningkatan dana murah dianggap memberikan kontribusi besar terhadap stabilitas likuiditas serta menjaga kompetitif Bank Mandiri dalam pemberian kredit.

Untuk sisa tahun ini, Bank Mandiri tetap menitikberatkan strateginya pada penguatan CASA dan pemeliharaan struktur pendanaan yang baik. Meskipun tidak menyebutkan target kuantitatif secara spesifik, perusahaan mengarahkan usahanya pada peningkatan dana murah yang berbasis transaksi, optimalisasi saluran digital, serta perluasan basis pelanggan melalui akuisisi digital yang terus menunjukkan perkembangan positif.

Pada tahun 2026, pihaknya juga memprediksi pengelolaan dana akan terus dilakukan dengan hati-hati, dengan fokus pada penghematan biaya, percepatan digitalisasi layanan, serta pengembangan ekosistem transaksi.

“Peningkatan CASA yang berkelanjutan, pengelolaan likuiditas yang cermat, serta peningkatan pembiayaan di sektor produktif dan UMKM diperkirakan menjadi perhatian utama perusahaan dalam mempertahankan laju pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Pos terkait