Ringkasan Berita:
- Rektor UIM Muammar Bakry menegaskan akan memberi sanksi akademik pada Amal Said atas aksi viral.
- Amal Said membela diri, mengaku tidak menyerobot antrean dan berharap kasus diselesaikan kekeluargaan.
- Insiden meludahi kasir minimarket di Makassar tercatat dalam rekaman CCTV dan kini jadi sorotan publik.
Aksi tak terpuji dilakukan Amal Said dosen Universitas Islam Makassar (UIM) yang meludahi kasir swalayan turut ditanggapi rektor UIM.
Adapun Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag selaku pimpinan berjanji akan memberikan sanksi terhadap Amal Said.
Muammar Bakry menyayangkan dengan tindakan yang telah dilakukan Amal Said tersebut hingga berujung viral.
Ia menyatakan akan mengambil langkah institusional sebagai pimpinan kampus, meski tetap mengedepankan klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan.
“Kita harus tabayyun dulu sama yang bersangkutan toh. Yang pasti di video itu kan nda bagus lah, nda manusiawi kalau itu kejadian,” ujarnya melansir dari Surya.co.id, Minggu (28/12/2025).
Muammar Bakry yang juga menjabat sebagai Sekretaris MUI Sulsel mengaku prihatin atas insiden tersebut dan menegaskan komitmen kampus untuk bertindak sesuai aturan.
“Iya (disayangkan). Pasti akan kita berikan sanksi akademik sesuai aturan yang ada di kampus,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan status Amal Said di UIM bukan sebagai dosen yayasan, melainkan dosen aparatur negara yang diperbantukan.
“Jadi nanti kita akan bicarakan seperti apa prosedurnya, apa dikembalikan ke negara atau gimana,” jelasnya.
Lalu siapa sosok Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag?
Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag. merupakan Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Al-Gazali untuk periode 2023–2027.
Ia dikenal sebagai akademisi, ulama, dan tokoh umat yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren serta pengalaman panjang di dunia pendidikan tinggi Islam.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Pondok Pesantren DDI Mangkoso, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan konsentrasi studi Islam dan bahasa Arab.
Pendidikan magister diselesaikannya di IAIN Alauddin Makassar, sementara gelar doktor diraih dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam karier akademik, Muammar Bakry merupakan guru besar dan pernah menjadi dosen tetap di UIN Alauddin Makassar.
Sebelum dipercaya memimpin UIM Al-Gazali, ia menjabat sebagai Wakil Rektor IV universitas tersebut.
Di luar kampus, ia aktif dalam berbagai organisasi keislaman dan kemasyarakatan, antara lain sebagai Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Imam Besar Masjid Al-Markaz Islamy Makassar, Dewan Hakim MTQ/STQ Nasional, serta Dewan Pengawas Syariah di sejumlah lembaga keuangan syariah.
Sebagai rektor, Prof. Muammar Bakry mengusung visi penguatan mutu akademik, integrasi nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan modern, serta peningkatan kontribusi perguruan tinggi bagi umat dan masyarakat luas.
Kepemimpinannya diarahkan pada inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan transformasi kampus agar UIM Al-Gazali menjadi rujukan pendidikan Islam yang relevan dengan tantangan zaman.
Berharap Damai
Sementara itu, Amal Said dosen fakultas pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) berharap kasus viral meludahi kasir minimarket bisa diselesaikan secara kekeluargaan.
Pasalnya, nama baiknya kini tercoreng imbas video viral di berbagai platform media sosial.
Tak hanya itu saja, kariernya sebagai dosen berstatus pegawai negeri sipil (PNS) terancam.
“Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya ini. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya, tidak sebanding,” kata Amal melansir dari Kompas.com, Minggu (28/12/2025).
Amal juga berharap kasus yang sudah dilaporkan ke pihak kepolisian ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
Dia juga menyampaikan, agar kasir wanita berinisial N (21) juga mengakui kesalahannya sehingga masalah tersebut tidak berlarut-larut.
“Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan, kita kan manusia bisa saling khilaf dalam kondisi tertentu. Saya tidak mau kasi panjang masalah, kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” ujar Amal. Amal menganggap saat peristiwa itu terjadi dirinya sama sekali tidak menyerobot antrean.
“Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucap Amal.
Saat tengah mengantre, kasir yang tidak berada jauh darinya sudah kosong. Dia pun berinisiatif untuk pindah ke kasir tersebut.
“Saya liat ada kasir yang sudah kosong antreannya, jadi maksud saya supaya lebih ringkas apalagi masih ada orang dibelakang saya, akhirnya saya kesebelah ke kasir yang sudah kosong antreannya,” jelas dia.
Amal mengaku, cara menegur kasir tersebut seakan-akan tidak menghargai dirinya hingga akhirnya dia tersinggung dan spontan meludahi petugas wanita itu.
“Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu. Kalau orang Bugis-Makassar diperbuat begitu kayak seperti tidak hargai, dihinakan, begitu saya rasakan saat itu,” ujarnya.
(*)
