Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Ardi, putra penambang tradisional asal Makassar, berhasil kuliah di Unhas lewat beasiswa Bidikmisi. Ia bahkan sempat menjadi sopir ojek online demi membiayai kuliahnya saat mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang.
- Berkat beasiswa LPDP-CSU-GEM, ia menempuh studi metalurgi di Tiongkok. Kini, Ardi sukses menjabat sebagai Supervisor R&D di PT QMB New Energy Materials dengan fokus pada inovasi pengolahan nikel.
Di tengah deru mesin pertambangan nikel PT QMB New Energy Materials, Ardi Alam Jabir tampak sigap mengawasi jalannya produksi.
Ardi Alam kini menduduki posisi strategis sebagai Supervisor divisi Research and Development (R&D).
Kisah Ardi adalah cerminan perubahan nasib lewat pendidikan.
Siapa sangka, supervisor di perusahaan pengolahan nikel ini lahir dari keluarga penambang tradisional yang dulu mengais emas di pinggir sungai demi sesuap nasi.
Jadi Ojek Online
Lahir dari keluarga sederhana asal Makassar, Ardi mengandalkan prestasi akademis untuk menembus bangku kuliah.
Ia berhasil masuk Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui program beasiswa Bidikmisi.
Selama kuliah, Ardi sempat dihadapkan pada pilihan sulit saat mendapatkan kesempatan student exchange ke Jepang.
Konsekuensinya, ia harus memperpanjang masa studi (extend) tanpa dukungan beasiswa.
Demi cita-cita, ia rela bekerja sampingan.
“Jadi ketika saya extend perkuliahan ini saya memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan lainnya, pada saat itu saya memutuskan untuk narik ojek online untuk setidaknya untuk bisa mengcover biaya perkuliahan dan juga biaya sehari-hari saya selama berkuliah gitu,” jelasnya, dilansir dari laman LPDP, Selasa (30/12/2025).
Pengalaman di Ehime University, Jepang itulah yang memicu kepercayaan dirinya untuk melanjutkan studi ke luar negeri.
Menimba Ilmu Metalurgi ke Tiongkok via Beasiswa LPDP
Lulus dari Unhas, Ardi membidik program kerja sama Indonesia-Tiongkok melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)-CSU-GEM.
Pada 2019, ia berangkat ke Central South University (CSU) di Tiongkok, kampus metalurgi terbaik dunia.
Meski sempat terkendala pandemi COVID-19 yang mengharuskan kuliah daring, Ardi tetap mampu menyelesaikan studinya pada 2022.
Etos kerja dan kedisiplinan yang ia pelajari di Tiongkok menjadi modal utama saat memasuki dunia industri.
Kini, di PT QMB New Energy Materials, Ardi memimpin pengembangan produk baru dan pengelolaan limbah produksi menjadi material bernilai tambah.
“Jenjang kariernya sangat cepat.”
“Untuk saya sendiri dan teman-teman yang seangkatan, bisa dibilang sekarang kami sudah berada di level manajerial.”
“Ada yang menempati posisi supervisor, dan sebagian lainnya sudah memegang peran kepemimpinan,” terangnya.
Masa Depan Hilirisasi Nikel Indonesia
Sebagai ahli metalurgi muda, Ardi melihat potensi besar Indonesia yang memiliki 52 persen cadangan nikel dunia. Baginya, hilirisasi bukan sekadar membangun smelter, melainkan tentang kemandirian teknologi anak bangsa.
“Harapan saya ke depan, Indonesia bisa memiliki industri pengolahan logam yang benar-benar murni dan 100 persen lokal.”
“Sebenarnya, ada banyak sekali potensi yang bisa dieksplorasi di Indonesia bukan hanya dari kekayaan sumber daya alam yang sudah kita miliki, tetapi juga dari pengembangan ilmu di bidang metalurgi,” ujar Ardi yang memiliki cita-cita menjadi dosen.
Ia mencontohkan bagaimana Tiongkok mengelola limbah elektronik menjadi sumber logam baru tanpa terus-menerus mengeruk alam.
“Di sana, limbah elektronik tidak lagi dianggap sebagai sampah, melainkan diolah kembali untuk menghasilkan logam. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pengambilan dari alam,” pungkasnya.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung
