Simulasi Perang Jet J-16 vs Rafale India Diungkap

.CO.ID, BEIJING — Stasiun televisi pemerintah Tiongkok mengungkapkan video langka mengenai simulasi perang Angkatan Bersenjata Rakyat (PLA). DilaporkanSouth China Morning Post, Minggu (21/12/2025), potongan video yang menampilkan simulasi pertarungan antara pesawat tempur J-16 melawan Rafale yang digunakan India.

Latihan simulasi tersebut menyebutkan bahwa pesawat tempur J-10C Pakistan berhasil mengalahkan pesawat India pada Mei 2025. Dalam pertempuran tersebut, pesawat tempur buatan perusahaan China’s Aviation Industry Corporation (AVIC) mampu mengalahkan pesawat tempur multi-peran hasil karya Dassault Aviation dari Prancis.

Bacaan Lainnya

Laporan CCTVpada Jumat (19/12/2025) menyatakan, tahun ini merupakan tahun pertama di mana seluruh PLA dan Kepolisian Bersenjata Rakyat melaksanakan simulasi perang pilot secara besar-besaran. Latihan perang PLA biasanya sangat rahasia. Namun, kali ini video tersebut dipublikasikan dengan menampilkan Rafale sebagai ancaman.

Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa latihan perang kali ini, termasuk dalam beberapa latihan yang berlangsung di Xuchang, Provinsi Henan, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri 20 unit dari seluruh militer dan akademinya. Latihan perang lainnya dilakukan oleh angkatan darat dan angkatan laut, menurut laporan tersebut.

Dalam rekaman tersebut, dua perwira Angkatan Udara Tiongkok berdiri di depan papan yang menampilkan simulasi skenario pertempuran udara antara pasukan Tiongkok dan asing. Di sisi kiri papan terdapat tulisan “tugas”, dengan “pasukan” mencakup “J16 x8”, yang mengacu pada delapan pesawat tempur generasi 4,5 yang dibuat oleh Shenyang Aircraft Corporation.

Di sisi kanan papan di bawah bagian “ancaman” terdapat tulisan “Rafales x6”, yang mengacu pada enam pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang digunakan oleh India. Selain India, pesawat ini juga dipakai oleh Angkatan Udara Prancis dan Mesir.

Indian Defense Newsmelaporkan, rincian mengenai asumsi, metode, atau hasil latihan perang tersebut masih dijaga kerahasiaannya, sehingga kinerja jet tempur J-16 dibandingkan Rafale tidak diungkapkan. Latihan perang, sebagai simulasi strategi, berfungsi untuk melatih pengambilan keputusan taktis dan strategis, menguji doktrin, serta memprediksi arah konflik dalam kalangan profesional militer.

Pengungkapan video itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, tujuh bulan setelah Pakistan menyatakan bahwa pesawat J-10C buatan Tiongkok berhasil menembak jatuh beberapa pesawat Rafale India dalam pertempuran udara pada 7 Mei 2025. India belum memberikan pengakuan resmi, meskipun pejabat AS dilaporkan memberi tahuReutersmengenai setidaknya dua kerugian yang dialami India, termasuk satu pesawat Rafale.

Kejadian semacam itu, jika dikonfirmasi, akan menjadi kerugian tempur pertama bagi Rafale dan bisa menjadi indikator bagi pesawat Tiongkok terhadap standar NATO. Hal ini juga berpotensi memengaruhi peluang ekspor pesawat tempur Beijing di pasar internasional.

J-16, yang sering dikaitkan dengan pesawat tempur siluman J-20, dianggap sebagai “pasangan paling kuat” China dalam skenario seperti krisis Selat Taiwan. Sistem ini menarik perhatian pada Oktober 2025, setelah berhasil menangkis dua pesawat tempur asing tak dikenal di dekat pantai timur Tiongkok, termasuk gerakan berputar di atas salah satu dari mereka.

Petugas PLA Wu Keyu dari Universitas Teknologi Pertahanan Nasional menyebutkan, pengembangan simulasi perang dimulai pada dekade 1990 dan sejak saat itu berkembang pesat. LaporanCCTVmenekankan kepentingan menyesuaikan sistem ini sesuai dengan kebutuhan khusus PLA.

“Terdapat kebutuhan mendesak dalam mengembangkan sistem simulasi perang yang memiliki ciri khas Tiongkok,” demikian pernyataan program tersebut, yang menggambarkan penerapannya secara keseluruhan di seluruh PLA, Kepolisian Bersenjata Rakyat, serta akademi untuk operasi gabungan yang mencakup wilayah darat, laut, udara, rudal, luar angkasa, dan elektromagnetik.

Beberapa sistem buatan lokal kini menggabungkan model perang berbasis AI, analisis data besar, serta mesin simulasi real-time. Wu menekankan, peran AI yang semakin berkembang di tengah kompleksitas konflik yang semakin tinggi, sambil menegaskan bahwa manusia tetap menjadi bagian penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Pelatihan simulasi perang nasional di Suzhou, provinsi Jiangsu, pada awal Desember menunjukkan percepatan dalam proses tersebut. Latihan ini mencerminkan upaya Tiongkok untuk memperbarui pelatihan militer dengan menggunakan teknologi, yang dapat meningkatkan kesiapan dalam menghadapi lawan-lawan canggih seperti mereka yang memakai pesawat Rafale.

Bagi para analis yang memantau perkembangan di kawasan Indo-Pasifik, simulasi antara J-16 dan Rafale memiliki makna simbolis, yang mencerminkan penempatan nyata di mana India menghadirkan Rafale melawan aset Tiongkok dan Pakistan. Ketika Beijing terus menyempurnakan alat simulasi perangnya, hal ini menunjukkan rasa percaya diri dalam bersaing dengan kemampuan penerbangan Barat.

Pengumuman rekaman melalui media pemerintah juga berfungsi sebagai alat propaganda, menampilkan keunggulan PLA tanpa mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia. Namun, hal ini menunjukkan adanya perencanaan yang mendalam untuk skenario kompetisi persaingan udara yang setara.

Pos terkait