PIKIRAN RAKYAT – Upaya pelestarian budaya pada era digital terus membutuhkan pendekatan yang relevan dengan generasi muda.
Menjawab tantangan tersebut, tim pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi melaksanakan program Silat dalam Genggaman: Buku Literasi Augmented Reality untuk Edukasi dan Pelestarian Pencak Silat Panglipur Pamager Sari.
Program ini dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia yang dipimpin oleh Nichi Hana Karlina, S.Sn., M.Ds., bersama anggota peneliti Nugraha Sugiarta, S.S., M.I.Kom. dan Aggi Panigoro, S.E., M.M.
“Ini merupakan sebuah inovasi media literasi budaya yang menggabungkan buku ilustrasi dengan teknologi Augmented Reality (AR),” kata Nichi dalam siaran pers, Rabu 24 Desember 2025.
Lebih lanjut, Nichi mengatakan, program ini berangkat dari realitas bahwa metode pewarisan tradisional pencak silat—yang selama ini mengandalkan transmisi lisan dan latihan langsung—mulai menghadapi keterbatasan dalam menjangkau generasi muda yang tumbuh sebagai pembelajar visual dan digital.
“Padahal, pencak silat tidak hanya seni bela diri, tetapi juga sarat dengan nilai filosofi, pendidikan karakter, dan kearifan lokal yang penting untuk diwariskan lintas generasi,” ungkapnya.
Melalui pendekatan desain partisipatif, program ini melibatkan secara aktif komunitas Perguruan Pencak Silat Panglipur Pamager Sari, Padepokan Pasir Ipis, Desa Jayagiri, Lembang, sebagai mitra utama.
Menurut Nichi, para sesepuh, pelatih, dan anggota muda paguron berperan sebagai pemilik sekaligus kurator pengetahuan—mulai dari sejarah, filosofi, hingga jurus-jurus pencak silat—yang kemudian dialihwahanakan ke dalam narasi visual dan konten digital interaktif .
Sementara, luaran utama program ini, kata Nichi, adalah buku komik literasi interaktif berbasis Augmented Reality, yang memungkinkan pembaca tidak hanya membaca cerita dan ilustrasi, tetapi juga memindai halaman tertentu menggunakan gawai untuk menampilkan animasi gerak jurus, video wejangan sesepuh, serta penjelasan filosofis secara audio-visual.
“Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan ketertarikan generasi muda terhadap pencak silat sebagai warisan budaya takbenda,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi inovasi seni perguruan tinggi yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek).
Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), yaitu Ariel Antarestya, Eva Kartika, Raihan Ichlas, Sani Nasril, dan Sandy Bagas, serta bekerja sama dengan mitra Perguruan Pencak Silat Panglipur Pamager Sari.
“Saya bersama rekan-rekan dosen dan mahasiswa berkeinginan menerapkan inovasi serta seni yang telah kita pelajari dalam melestarikan kebudayaan, khususnya Pencak Silat Panglipur agar warisan ini terus berlangsung dari generasi ke generasi dengan memanfaatkan teknologi AR yang saat ini sedang diminati,” kata Nichi.
Selain produksi buku AR, kegiatan program meliputi sosialisasi dan rapat kick-off bersama mitra serta perangkat desa, Diskusi Kelompok Fokus (FGD) dalam merancang konten, pelatihan literasi digital dan bercerita bagi masyarakat, serta pendampingan hingga penerbitan buku sebagai media edukasi dan dialog antar generasi.
Program ini diharapkan mampu menghasilkan karya budaya yang kreatif, sekaligus memperkuat kemampuan komunitas dalam mencatat dan menyampaikan warisan budaya mereka secara berkelanjutan.
Di masa depan, lanjut Nichi, Silat dalam Genggaman diharapkan menjadi contoh model literasi budaya digital berbasis komunitas yang bisa ditiru dalam seni tradisi lainnya di Indonesia.
Dengan menggabungkan tradisi, desain, dan teknologi, program ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya sekadar menjaga masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan yang tetap berakar pada nilai-nilai tinggi bangsa. (*)
