Seni menyiksa diri lewat layar hape

“Hobi kok nyiksa diri! Berhenti bandingin hidupmu sama filter hape orang lain. Ingat, setiap orang punya jalur lari dan zona waktu masing-masing.”

Pernah nggak, lagi enak-enak rebahan sambil scroll media sosial sebelum tidur, niatnya mau cari hiburan malah berakhir nyesek sendiri. Awalnya cuma lihat video lucu-lucuan, eh tiba-tiba algoritma melempar video teman SMA yang sudah beli rumah baru atau selebgram yang liburan ke Swiss tiap bulan. Seketika kamar yang terasa nyaman jadi mendadak sumpek. Perasaan tenang langsung ambyar digantikan rasa minder yang datangnya lebih cepat dari cicilan pinjol.

Bacaan Lainnya

Kita sering terjebak dalam lingkaran setan ini. Urusan membandingkan hidup dengan orang lain memang sudah jadi hobi kolektif manusia modern tanpa disadari. Masalahnya, hobi ini nggak bikin kita makin jago, malah bikin kita makin ahli dalam menganiaya mental sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, apa gunanya membandingkan piring makan kita yang isinya tempe dengan piring orang lain yang isinya wagyu, kalau ujung-ujungnya cuma bikin perut kita sendiri yang mual karena iri.

Bawaan Lahir yang Kebablasan di Era Algoritma

Sebenarnya, sifat suka membandingkan diri ini bukan muncul karena kita kurang ibadah atau kurang piknik saja. Penjelasan para ahli, manusia itu punya dorongan alami buat menilai dirinya sendiri.

Dilansir dari CXO Media, dalam ilmu psikologi ada yang namanya Social Comparison Theory yang digagas Leon Festinger sejak tahun 1954. Katanya, manusia memang butuh orang lain sebagai cermin buat tahu seberapa oke kemampuan atau kualitas diri mereka di tengah masyarakat.

Zaman dulu, cermin kita mungkin cuma tetangga sebelah atau teman sekantor yang jumlahnya segelintir. Data yang masuk ke otak masih masuk akal buat diproses. Tapi sekarang, lewat bantuan sinyal 5G, kita membandingkan diri dengan miliaran orang dari seluruh dunia yang bahkan nggak kenal kita sama sekali. Kita melihat standar sukses dari orang-orang yang start-nya mungkin sudah jauh di depan, sementara kita masih sibuk mikirin cara bayar tagihan cicilan tepat waktu.

Dikutip dari laman RRI, fenomena ini makin parah karena apa yang kita lihat di layar hape itu adalah versi hidup orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa. Kita sering nggak sadar kalau kita sedang melakukan perbandingan yang nggak adil. Kita membandingkan kekacauan batin dan dapur kita yang berantakan dengan orang lain yang mungkin hasil editan foto dari belasan filter yang dicoba. Itu kan namanya mencari penyakit yang sebenarnya nggak perlu ada.

Jebakan Upward Comparison dan Hilangnya Bahagia yang Sederhana

Dalam kamus psikologi, ada istilah perbandingan ke atas. Kita melihat orang yang lebih sukses, lebih kaya, atau lebih glowing supaya bisa termotivasi. Tapi jebulnya, bukannya termotivasi, kita malah sering jatuh ke dalam lubang rasa rendah diri yang dalam.

Dikutip dari artikel Hello Sehat, kebiasaan membandingkan diri ini memang bisa bikin seseorang kehilangan kepercayaan diri kalau dilakukan terus-menerus tanpa tahu batasan. Kita jadi lupa kalau setiap orang punya beban yang nggak pernah diposting di Instagram Story.

Kita sering melihat keberhasilan orang lain sebagai bukti kegagalan kita. Padahal hidup itu bukan lomba lari yang garis start dan finishnya sama buat semua orang. Ada orang yang jalannya lewat tol karena privilege (entah dari bapaknya atau pamannya, ups), ada yang harus lewat jalan setapak yang penuh lumpur karena memang nasibnya begitu.

Membandingkan kecepatan lari si pembalap tol dengan kita yang lagi mendaki gunung pakai sendal jepit adalah sebuah konyolan yang luar biasa.

Dampak dari kegemaran membanding-bandingkan ini bukan cuma bikin hati panas, tapi juga bikin kesehatan mental kita jadi taruhannya. Sering membandingkan diri itu bisa memicu stres berkepanjangan dan menurunkan harga diri kita sampai ke level terendah. Kita jadi susah buat merasa cukup. Seberapapun banyak pencapaian yang sudah kita raih, semuanya bakal terasa hambar begitu kita melihat ada orang lain yang selangkah lebih maju di depan mata.

Kenapa Kita Senang Menjadi Hakim yang Kejam bagi Diri Sendiri

Anehnya, kita ini sering jadi hakim yang paling kejam buat diri sendiri tapi jadi pembela yang paling hebat buat orang lain. Kalau lihat teman sukses, kita bilang dia hebat karena kerja keras. Tapi kalau kita sendiri yang sukses, kita sering bilang itu cuma faktor keberuntungan semata. Sebaliknya, kalau kita gagal, kita maki-maki diri sendiri seolah-olah kita adalah manusia paling nggak berguna di alam semesta ini. Kenapa sih kita nggak bisa sedikit lebih lembut sama diri sendiri.

Mungkin karena standar sukses di masyarakat kita sudah terlanjur kaku. Sukses itu ya punya mobil, jabatan tinggi, atau rumah mewah sebelum umur tiga puluh. Padahal sukses itu bisa sesederhana bisa bangun pagi tanpa rasa cemas yang berlebihan atau berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu tanpa harus lembur sampai tipes. Kita butuh standar internal yang lebih masuk akal ketimbang terus-menerus menengok standar eksternal yang bikin napas makin sesak.

Belajar Menutup Mata dari Silau Hidup Orang Lain

Lalu gimana caranya biar kita nggak gila karena urusan banding-membandingkan ini. Salah satu cara paling ampuh yang disarankan para ahli adalah dengan mempraktikkan self-compassion atau belas kasih pada diri sendiri. Mengacu pada artikel di Alodokter, kita perlu membiasakan diri buat bicara hal-hal positif ke dalam batin. Nggak perlu muluk-muluk, cukup akui kalau kita sudah berusaha keras dan setiap orang memang punya zona waktu masing-masing yang nggak bisa dipaksakan buat seragam.

Selain itu, membatasi waktu main media sosial juga sangat membantu. Kalau melihat akun tertentu bikin hati kita jadi bergejolak penuh iri dengki, ya mending di-mute atau sekalian di-unfollow saja. Nggak usah merasa nggak enak hati. Kesehatan mental kita jauh lebih penting daripada perasaan nggak enak karena berhenti mengikuti kehidupan orang yang cuma bikin kita merasa kecil. Kita butuh ketenangan buat fokus pada apa yang ada di depan mata kita sendiri.

Fokus mengembangkan kelebihan yang kita miliki bisa jadi obat yang manjur. Alih-alih sibuk melihat apa yang nggak kita punya, mending kita asah apa yang sudah ada di tangan. Dengan begitu, waktu kita buat kepo sama urusan orang lain bakal berkurang dengan sendirinya. Fokuslah jadi versi terbaik dari diri kita yang kemarin, bukan jadi tiruan dari hidup orang lain yang mungkin aslinya juga nggak sebahagia kelihatannya.

Berdamai dengan Nasib dan Mensyukuri Hal-Hal Receh

Berdamai dengan kenyataan bahwa kita mungkin nggak akan pernah sekaya Elon Musk atau secantik artis Korea adalah langkah awal menuju kebahagiaan yang hakiki. Nggak apa-apa kalau hidup kita biasa-biasa saja. Nggak apa-apa kalau pencapaian kita hari ini cuma sekadar bisa masak nasi goreng yang enak atau berhasil olahraga sepuluh menit. Hal-hal receh seperti itu layak dirayakan daripada terus meratapi nasib yang nggak kunjung berubah jadi sultan dalam semalam.

Pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan personal, bukan ajang pameran atau lomba lari estafet. Kita nggak perlu membuktikan apa-apa ke siapa pun lewat unggahan di media sosial. Cukup buktikan ke diri sendiri kalau hari ini kita bisa lebih tenang dan lebih bersyukur daripada kemarin. Berhenti menyiksa diri dengan layar hape, matikan datanya, dan mulailah melihat ke dalam diri. Di sana ada banyak potensi yang selama ini terabaikan cuma karena kita terlalu sibuk melihat ke luar jendela rumah orang lain.

Menggeser fokus dari penilaian eksternal ke internal adalah kunci buat menjaga kesehatan mental. Jadi, kalau nanti malam jari mulai gatal mau scroll Instagram dan hati mulai merasa minder, ingatlah kalau setiap orang punya jalur lari masing-masing. Nggak perlu lirik kanan-kiri sampai leher pegel. Cukup lari pelan-pelan di jalur sendiri, yang penting sampai tujuan dengan perasaan yang tetap utuh dan bahagia tanpa harus mengorbankan ketenangan batin.

Pos terkait