Sejarah hari ini: 11 tahun lalu, pesawat Air Asia rute Surabaya-Singapura jatuh, 162 orang tewas

Ringkasan Berita:

  • Pada 11 tahun lalu, pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapura terjatuh di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Barat (Kalbar).
  • Total ada 162 orang yang terdiri dari 155 penumpang dan tujuh awak kabin dinyatakan tewas.
  • KNKT pun membutuhkan waktu satu tahun untuk mengungkap penyebab pesawat itu bisa terjatuh.
  • Ada lima penyebab yang menyebabkan pesawat tersebut hilang kontak dan berujung terjatuh.

Tepat 11 tahun lalu atau 28 Desember 2014, pesawat dari maskapai Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 dengan rute Surabaya-Singapura, terjatuh.

Bacaan Lainnya

Tak ada yang mengira, pesawat Airbus A320-200 akan menjadikan 162 orang dengan rincian 155 penumpang dan tujuh awak kabin, meregang nyawa.

Menurut keterangan resmi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), kronologi berawal ketika pesawat lepas landas dan terbang di ketinggian 32.000 kaki pada pukul 05.36 WIB.

Namun, sejam setelah terbang atau tepatnya pada pukul 06.17 WIB, Air Traffic Control (ATC) di Jakarta mulai kehilangan kontak.

Adapun kontak terakhir yang terjadi yakni ATC menerima laporan pesawat tengah menghindari awan ke arah kiri dan meminta naik ke ketinggian 38.000 kaki.

Selama satu jam lebih, pihak ATC terus mencoba berkomunikasi dengan pesawat beregistrasi PK-AXC tersebut.

Namun, pada pukul 07.55 WIB, pesawat tersebut pun akhirnya dinyatakan hilang.

Pasca hilang kontak, Air Asia pun langsung memberikan keterangan resminya dengan turut mengumumkan bahwa pesawat QZ8501 tersebut kehilangan kontak.

“Air Asia Indonesia dengan berat hati mengonfirmasi bahwa penerbangan QZ8501 dari Surabaya ke Singapura telah kehilangan kontak dengan pengatur lalu lintas udara pada pukul 07.24 waktu lokal Surabaya pagi ini.”

“Penerbangan tersebut lepas landar dari Bandara Internasional Juanda di Surabaya pada pukul 05.35,” tulis pihak maskapai dikutip pada Minggu (28/12/2025).

Pencarian Lintas Negara

Setelah insiden tersebut, banyak negara ingin ikut membantu pencarian pesawat Air Asia QZ8501.

Direktorat Konsuler Kementerian Luar Negeri RI saat itu, Tri Tharyat, menuturkan ada 16 negara yang ikut membantu.

Negara yang dimaksud di antaranya adalah Amerika Serikat (AS), Jepang, Australia, Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Rusia, Tiongkok, Prancis dan Selandia Baru

“Jadi 16 negara terlibat dalam konteks investigasi dan SAR, lalu 6 negara di antaranya dalam konteks identifikasi korban,” kata Tri pada 7 Januari 2015.

Investigasi Dilakukan 1 Tahun, Ada 5 Penyebab Jatuhnya Air Asia

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memerlukan waktu satu tahun untuk melakukan investigasi mengungkap penyebab jatuhnya pesawat Air Asia tersebut.

Dalam konferensi pers yang dilakukan pada 1 Desember 2015, Ketua KNKT ketika itu, Soerjanto Tjahjono, menyampaikan pesawat terjatuh di perairan Selat Karimata di dekat Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimatan Tengah.

“Pada tanggal 28 Desember 2014, sebuah pesawat airbus A320 yang dioperasikan PT. Indonesia AirAsia dalam penerbangan dari Bandar Udara Juanda berangkat jam 05.35 WIB, Surabaya menuju Bandar Udara Changi, Singapura dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan air laut,” jelas Soerjanto.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Investigasi Air Asia QZ8501, Marjono Siswosuwarno membeberkan detik-detik pesawat mengalami hilang kontak.

Di mana sejak pukul 06.01 WIB, telah terjadi empat kali aktivasi peringatan yang diakibatkan adanya gangguan sistem rudder travel limiter (RTL).

Sebagai informasi, sistem rudder travel limiter merupakan perangkat keselamatan pada pesawat terbang yang secara mekanis membatasi gerak maksimum kemudi untuk mencegah kerusakan struktur pesawat akibat gerakan berlebihan.

Marjono mengatakan gangguan itu mengaktifkan electronic centralized aircraft monitoring (ECAM).

ECAM merupakan sistem komputer pada pesawat Airbus yang berfungsi memantau seluruh sistem pesawat seperti mesin hingga kelistrikan secara terpusat.

Adapun sistem ini terintegrasi ke dalam satu layar digital demi meningkatkan keselamatan dan efisiensi penerbangan.

“Tiga gangguan awal yang muncul pada sistem RTL telah ditangani oleh awak pesawat sesuai dengan langkah-langkah yang tertera pada ECAM dan gangguan tersebut bukanlah suatu yang membahayakan penerbangan” tuturnya.

Marjono mengatakan gangguan serupa terjadi lagi pada pukul 06.15 WIB. Namun, gangguan ini mengakibatkan sistem autopilot dan auto-thrust tidak atif.

“Pengendalian pesawat oleh awak pesawat secara manual selanjutnya menyebabkan pesawat masuk dalam kondisi yang disebut sebagai upset condition dan stall hingga akhir rekaman FDR,” bebernya.

Dari kronologi di atas, KNKT pun menyimpulkan ada lima penyebab pesawat Air Asia QZ8501 hilang kontak dan terjatuh yaitu:

1. Retakan solder pada electronik di RTLU menyebabkan hubungan yang berselang dan berakibat pada masalah yang berkelanjutan dan berulang.

2. Sistem perawatan pesawat dan analisis di perusahaan yang belum optimal mengakibatkan tidak terselesaikannya masalah yang berulang. Kejadian yang sama terjadi sebanyak empat kali dalam penerbangan.

3. Awak pesawat melaksanakan prosedur sesuai ECAM pada tiga gangguan yang pertama. Setelah gangguan keempat, FDR mencatat indikasi yang berbeda, indikasi ini serupa dengan kondisi di mana CB direset, sehingga berakibat terjadinya pemutusan arus listrik pada FAC.

4. Terputusnya arus listrik pada FAC menyebabkan autopilot disengage, flight control logic berubah dari normal law ke alternate law, kemudi bergerak dua derajat ke kiri. Kondisi ini mengakibatkan pesawat berguling mencapai sudut 54 derajat.

5. Pengendalian pesawat selanjutnya secara manual pada alternate law oleh awak pesawat telah menempatkan pesawat dalam kondisi upset dan stall secara berkepanjangan, sehingga berada di luar batas-batas penerbangang yang dapat dikendalikan oleh awak pesawat.

Monumen Peringatan Jatuhnya Pesawat Air Asia Dibangun

Pasca-insiden mengerikan tersebut, Bupati Kotawaringin Barat saat itu, Ujang Iskandar, menuturkan, pihaknya membangun monumen peringatan jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501.

Dia menuturkan monumen tersebut dibangun sebagai tempat berziarah dan peringatan akan pentingnya kehati-hatian bertransportasi.

“Monumen ini dibangun dengan maksud untuk memfasilitasi keluarga korban yang akan tabur bunga dan berdoa. Setiap tahun pada 28 Desember, pemerintah daerah akan menggelar doa bersama,” kata Ujang pada 15 April 2015, dikutip dari Kompas.com.

Adapun monumen ini berdiri di lahan seluas lima hektar yang berlokasi di sekitar Pantai Umbang, Desa Sungai Bakau, Kecamatan Kumai.

Monumen tersebut berbentuk segitiga sama kaki dan memiliki tinggi 45 meter.

Perwakilan salah satu korban, Daryanto, mengapresiasi pembangunan monumen tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian pemerintah daerah,” kata Daryanto, yang kehilangan adik sepupunya dalam peristiwa jatuhnya AirAsia. 

Dia juga mengharapkan tugu atau monumen peringatan juga dibangun di Surabaya, Jawa Timur, karena sebagian keluarga korban berdomisili di kota itu.

(/Yohanes Liestyo Poerwoto/Edwin Firdaus)(Kompas.com)

Pos terkait